by

Perjuangan Enung Jadi Tulang Punggung di Tengah Keterbatasan

BandungKita.id, SOREANG – Keadaan serba terbatas, bukan menjadi alasan untuk berhenti berjuang. Keyakinan itu yang terus dipegang teguh Enung (54), seorang warga Kampung Babakan Cikancung, RT 02 RW 08, Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.

Menjadi seorang perempuan buta huruf dengan umur yang tak muda lagi, tidak sedikit pun membuatnya gentar menjalani hidup. Meski kenyataan pahit karena sang suami, Sahwar (85) terbujur sakit selama 8 bulan lebih. Wanita itu mampu melangkah maju dengan mengganti peran suami sebagai tulang punggung keluarga.

Untuk menjaga dapur tetap ngebul, Enung rela menjadi buruh kasar, tukang angkut air, mencuci pakaian tetangga dan pekerjaan lainnya. “Sudah delapan bulan lebih suami saya sakit, mau tak mau saya mesti mengganti perannya sebagai tulang punggung keluarga,” kata Enung saat ditemui di kediamannya, Selasa (12/3/2019).

Jika pekerjaan tersebut sedang kosong, Ibu dari dua orang anak itu fokus membuat kerajinan sarung tangan, dengan modal mesin jahit jadul pemberian saudaranya. Hasil sarung tangan yang dibuatnya, biasa dijual ke pengepul dengan harga Rp.150 ribu tiap 10 kodi. Adapun untuk menghasilkan 10 kodi, ia harus menghabiskan waktu satu bulan.

“Ya, saya berkuang saja. Meski hasilnya sedikit, asal punya. Penghasilannya dipakai untuk bayar listrik, air dan menambal kebutuhan pokok,” jelasnya.
Enung bersama keluarganya tinggal di rumah berdinding bambu yang sebagian atapnya nampak bolong.

Untuk memasak, ia juga masih menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu, sehingga sebagian rumahnya terlihat hitam karena terlalu lama dikepuli asap pembakaran tungku. “Bukan tidak mau memakai gas, saya tidak pernah dapat bantuan kompor atau tabung gas LPG sejak dulu. Jadi pakai ini saja,” ucapnya

Ditanya soal bantuan dari pemerintah, Enung mengatakan dirinya tidak pernah mendapatkan hal itu. Baik bantuan untuk pengobatan suami atau pun perbaikan rumah tidak layak huni, ia tidak pernah menerima.

Satu-satunya bantuan yang diterimanya adalah beras seberat 5 Kg dari ketua RT. Selain itu, tak pernah ada. Enung mengaku ingin ada perhatian dari pemerintah terhadap keluarganya. Namun, ia tak mau menggantungkan nasib dirinya sepenuhnya hanya kepada pemerintah.

“Ya siapa yang tidak mau untuk dibantu, itu kan kewajiban mereka (pemerintah). Tapi selama saya mampu, saya bakal terus berjung,” pungkasnya. (Restu Sauqi/Bandungkita.id)

Editor: Dian Aisyah