by

Komisi B DPRD Kabupaten Bandung Panggil Disperindag Terkait Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Jelang ramadhan

BandungKita.id, Bandung – Tak hanya harga minyak goreng yang kian melangit, daging sapi, ayam dan sayuran pun ikut melejit.

“Terkait kenaikan harga kebutuhan pokok itu, kami akan memanggil mitra kerja komisi B, termasuk Dinas Pertanian Kabupaten Bandung” kata Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten , H.Uya Mulyana, di Ciherang, Cangkuang, Kabupaten Bandung, Minggu (27/3).

“Kita akan menanyakan upaya dinas terkait, dalam menghadapi bulan ramadhan,” ujarnya.

Legislator PKB ini berharap, kerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Bandung lebih maksimal, terutama memantau harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.

Jadi, lanjutnya, Disperindag bukan hanya mendengar informasi,melainkan harus betul -betul bekerja, sehingga bisa mengatahui lonjakan harga dan cara mengantisipasinya.

“Memang untuk peninjauan ke pasar, kita perlu tenaga yang banyak. Tapi dinas bisa memaksimalkan tenaga yang ada, meskipun jumlahnya minim,” kata Uya.

Untuk persoalan minyak goreng yang langka dan harga selangit, dia tidak berani mengatakan secara tegas ada, tidaknya mafia minyak goreng.

Namun, menurut Uya, mahalnya harga di pasaran dampak dicabutnya harga eceran terendah ( HET) minyak.

Untuk penjualan minyak goreng, ia sebut, pemerintah kembali menyerahkannya ke pasar.

“Kami telah mempertanyakan bagaimana upaya Indag untuk pemerataan, tapi pada saat kunjungan ke Indag Provinsi, sama pada dasarnya seperti itu. Katanya ada bahan yang ditimbun segala macam, nah Indag provinsi pun larinya ke pusat” ujarnya.

Anggota Fraksi PKB ini, meminta dinas mendengar keluhan masyarakat, dengan memberi bantuan harga murah, bukan cuma untuk minyak goreang melainkan seluruh kebutuhan masyarakat.

Masih menurut dia, akibat sulitnya minyak goreng di pasaran, masyarakat “terjangkit” panic buying.

“Dia bolak balik ke mini market, nah kita menangani itu sangat sulit,” katanya.

Ia menambahkan, bahan baku minyak goreng atau crude palm oil (CPO) di Indonesia melimpah, tetapi para petani lebih senang menjualnya ke luar negeri, karena harganya lebih mahal dan dapat untung besar.

Untuk mengatasi hal itu, ia meminta, harus ada ketegasan dari tingkat pusat, penekanan ke para pengusaha besar.

Karena, lanjutnya pula, ulah dari para pengusaha itu, minyak goreng jadi langka dan harganya melambung.

“Seharusnya Indonesia makmur, namun sekarang malah terjadi kelangkaan minyak dan saat ini harga minyak semakin melambung,” pungkasnya.*