by

Proyek Bank Permata Dinilai Bermasalah, Atlet Panahan Kota Bandung Nyaris Tertimpa Besi

Keluhan Tak Ditanggapi, GGM Archery Camp Bawa Bank Permata ke Meja Hijau

BandungKita.id, BANDUNG – Proyek pembangunan Bank Permata Tbk yang terletak di Jalan Merdeka, Kota Bandung diduga bermasalah dan mengabaikan aspek keselamatan. Akibatnya, sejumlah atlet panahan Kota Bandung yang tengah berlatih nyaris tertimpa pelat besi yang jatuh dari proyek Bank Permata.

GGM Bandung Archery Camp sebagai organisasi berbadan hukum yang menaungi para atlet panahan Kota Bandung sempat melayangkan keluhan sekaligus protes melalui surat maupun lisan kepada pihak Bank Permata maupun pelaksana proyek, namun tak mendapat tanggapan serius.

Akhirnya pihak GGM Archery Camp Bandung yang terkena dampak langsung pembangunan tersebut kehilangan kesabaran dan membawa kasus tersebut ke meja hijau dengan melayangkan gugatan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung dengan nomor perkara 134/G/2022/PTUN Bandung.

Baca Juga:

Sulitnya Penerbitan IMB, Berpotensi Coreng Iklim Investasi di Kota Bandung

LIPUTAN KHUSUS Bag-1 : Pengelola Pasar Andir, Misteri Uang Service Charge dan Isu Investasi di Kota Bandung

Tak hanya itu, saat ini perkara tersebut bahkan bergulir ke ranah pidana karena diduga kuat ditemukan tindakan pidana dalam proses penerbitan IMB Bank Permata. Dari fakta persidangan yang telah berjalan diduga kuat terdapat pamalsuan dokumen dan tanda tangam dalam proses pengurusan IMB Bank Permata tersebut di DPMPST Kota Bandung.

Kuasa hukum GGM Archery Camp Bandung, Deni Hidayatulah mengatakan sejak awal pembangunan Gedung Bank Permata yang bersebelahan dengan Gedung GGM diduga kuat bermasalah dalam hal perizinan dan mengabaikan aspek keselamatan.

Ia menceritakan sejumlah atlet panahan GGM Archery Camp yang tengah berlatih di samping Gedung GGM, hampir tertimpa panel logam berukuran 3×2 meter yang jatuh dari proyek pembangunan Bank Permata. Beruntung, jatuhan logam dari proyek Bank Permata tersebut tidak sampai merenggut korban jiwa. Kejadian tersebut terjadi pada 9 Oktober 2021.

“Semua orang yang hadir pada sesi latihan tersebut kaget bukan main karena mendengar suara benda yang terjatuh sangat keras. Ternyata itu panel logam besar yang jatuh dari proyek Bank Permata. Panel yang terjatuh tersebut berlokasi persis di atas para atlit yang sedang berlatih panahan,” tutur Deni kepada BandungKita.id, Kamis (21/4/2022).

LIPUTAN POPULER:

Soal Izin WU Tower, Pemkot Bandung Saling Tuding

LIPUTAN KHUSUS Bag-2 : Misteri Uang Service Charge dan Potensi “Kebocoran” dalam Perputaran Uang Miliaran Rupiah di Pasar Andir

Peristiwa yang mengancam keselamatan nyawa manusia tersebut tak berhenti sampai di situ. Bahkan berselang beberapa hari, penggunaan alat berat yang berlebihan di lokasi proyek Bank Permata mengakibatkan dinding Gedung GGM menjadi roboh dan menganggu kenyamanan para atlet yang berlatih maupun pengguna Gedung GGM lainnya.

“Kami berulang kali melaporkan kejadian membahayakan tersebut kepada pihak Bank Permata maupun pelaksana proyek.
Namun laporan-laporan yang kami lakukan secara lisan tidak pernah ditanggapi secara serius, kami hanya ditemui seseorang yang mengaku bagian keamanan proyek Bank Permata tersebut,” ungkapnya.

Selanjutnya, untuk mencegah kejadian serupa berulang, pihak GGM Archery Camp mengirim surat kepada pejabat yang berwenang dan melakukan pertemuan serta mediasi dengan pihak Bank Permata, tetapi semua usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

Tonton Juga:

Hingga akhirnya pada tanggal 23 November 2021, GGM Archery Camp mengajukan gugatan ke PTUN Bandung untuk membatalkan IMB Pembangunan Bank Permata Merdeka Bandung yang diterbitan Pemkot Bandung.

Mereka menggugat Wali Kota Bandung cq Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandung atas penerbitan izin pembangunan Bank Permata karena dinilai cacat hukum dan bermasalah karena diduga kuat terdapat pemalsuan tanda tangan.

Saat ini persidangan memasuki babak akhir. Jika tak ada kendala, persidangan PTUN akan mengagendakan putusan pada pekan depan.

“Kami berharap hakim dapat memutuskan seadil-adilnya,” ujar Ketua GGM Archery Camp, Deni Danurwenda, yang menjadi penggugat dalam perkara tersebut.

Selain itu, pihak penggugat juga mengharapkan pihak kepolisian dapat mengungkap adanya dugaan keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam tindakan pidana yang terjadi dalam proses permohonan IMB pembangunan Bank Permata yang terletak di Jalan Merdeka, Kota Bandung.

Deni menyebutkan fakta persidangan mengungkap adanya pemalsuan tanda tangan pada beberapa dokumen yang dimiliki Bank Permata dalam upaya pengajuan IMB untuk pembangunan Gedung baru Bank Permata di Jalan Merdeka No 66 Bandung tersebut.

“Kami menilai pembongkaran yang dilakukan dengan potensi mencelakakan orang lain, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak pelaksana terhadap asas dan prinsip K3 serta SMK3 Gedung,” ujar Deni Hidayatulah.

Selain itu, pihaknya juga tidak menemukan adanya upaya pengamanan dengan memasang alat pengaman/keselamatan di sisi Gedung GGM, padahal telah diketahui bahwa di Gedung GGM terdapat kegiatan aktif setiap harinya.

Dalam perjalanan gugatan ke PTUN Bandung tersebut, bahkan pihak penggugat menemukan adanya kejanggalan yang berkaitan dengan nomor IMB. Dijelaskan Deni, terdapat dua nomor IMB, satu yang dipampang di papan proyek dan satu lagi yang terdapat di sitem DPMPTSP, yang keduanya bersumber kepada satu nomor resi.

“Sehingga patut diduga dokumen teknis untuk IMB tersebut tidak lengkap. IMB tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen Rencana Teknis Pembongkaran Gedung, padahal terdapat kegiatan pembongkaran masif terhadap gedung yang lama,” tambah Elly Sunarya yang juga sebagai Kuasa Hukum Penggugat.

Atas dasar hal tersebut, GGM Archery Camp mengajukan laporan ke Polda Jabar pada 2 Desember 2021 yang diterima dan dilakukan tindak lanjut penyelidikan oleh Unit II Subdit I Indag Ditreskrimsus Polda Jabar.

Namun setelah dilaporkan pelaksana pembangunan Bank Permata masih tetap melaksanakan pembongkaran dan pembangunan dengan tidak memperhatikan keamanan dan keselamatan sampai kemudian dihentikan sementara melalui surat DPMPTSP pada Maret 2022.

Berikutnya, pada proses pemeriksaan saksi Prita Andriani (Kepala Kanwil Jawa Barat Bank Permata) sebagai pemohon dalam bundle permohonan IMB yang disampaikan menjadi bukti dari pihak Tergugat yakni DPMPTSP.

Tonton Juga:

Pada persidangan tanggal 14 April 2022, setelah dikonfirmasi dengan diperlihatkan bundle permohonan IMB dimaksud terungkap bahwa terdapat pemalsuan tanda-tangan pada beberapa dokumen yang terdapat dalam bundle permohonan.

“Dengan adanya fakta persidangan tersebut, kami memohon agar dapat ditindaklanjuti sebagai pengembangan dari laporan pidana, pada penyelidikan oleh Unit II Subdit I Indag Ditreskrimsus Polda Jabar karena sejatinya secara kasat mata telihat perbedaan yang mencolok sehingga dapat mengakibatkan permohonan itu tidak akan pernah dikabulkan, tapi mungkin patut diduga ada keterlibatan pihak-pihak tertentu yang mengakibatkan permohonan IMB itu dikabulkan. Nanti tugas penyidik lah untuk mengungkap siapa saja yang terlibat,” ujar Deni Hidayatuloh.

Sebagai bank besar yang telah melantai di bursa efek dan pernah meraih peringkat ke 7 di Indonesia dan masuk katagori Asean Asset Class PCLs pada Asean Corporate Governance Scorecard Award, kata dia, sungguh sangat disayangkan bila dalam perjalanannya masih melakukan praktik seperti yang terungkap dalam fakta persidangan dan tentunya hal-hal tersebut mencederai asas kepatuhan hukum perusahaan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang disampaikan pihak Bank Permata maupun pihak Pemkot Bandung tersebut dalam perkara gugatan tersebut. BandungKita.id masih kesulitan melakukan konfirmasi kepada para pihak bersangkutan.(M Zezen Zainal M/BandungKita.id)

Editor: Dhomz Hermawan