by

Kesaksian Warga Cibulakan Sebelum Gempa 5,6 Magnitudo Guncang Cianjur

Bandungkita.id, JABARKITA – 10 Hari yang lalu tepatnya pada Senin, 21 November 2022, gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 dengan kedalaman 10 kilometer mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Berbagai cerita kesaksian diungkapkan warga yang masih trauma akan terjadinya bencana alam tersebut.

Salah satunya, Furqon, warga Kampung Lembah Duhur RT 01 RW 06, Desa Cibulakan, Kecamaran Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang menjadi korban dahsyatnya gempa bumi tersebut.

Diakui Furqon, sebelum peristiwa pada Senin, 21 November tersebut, di kampungnya tersebut kerap terasakan gempa dengan kuatan yang relatif kecil. Bahkan gempa kecil tersebut terjadi selama sepekan sebelum gempa 5,6 magnitudo terjadi.

“Awal mula kejadian itu seminggu sebelum gempa sudah ada getaran tiap hari, tapi kecil. Sehari itu bisa ada dua kali, dalam kurun waktu satu minggu,” kata Furqon kepada Bandungkita.id di Kampung Lembah Duhur, Desa Cibulakan, Kecamaran Cugenang, Kabupaten Cianjur, Kamis (1/12/2022).

Furqon menuturkan, warga di kampung tersebut pun melakukan aktivitas seperti biasa meski terasa gempa selama sepekan berturut-turut. Bahkan sehari sebelum kejadian, gempa pun cukup terasa kuat pada Minggu pagi.

“Sehari sebelum gempa, Minggu pagi ada gempa besar tapi masyarakat enggak panik, karena sering ada gempa selama seminggu itu. Pas itu juga cuaca tidak menentu, angin gede terus,” bebernya.

Namun diakui Furqon, pada Senin pagi langit di kampung tersebut terlihat sangat cerah. Hembusan angin pun menyejukan kawasan pertanian tersebut, dan warga pun melakukan aktivitas seperti biasa pergi ke sawah untuk bertani.

“Cuma jam satu lebih, kebetulan saya lagi disini lokasinya dekat rumah yang roboh, lagu betulin kolam. Jadi yang saya rasakan itu enggak getaran, jadi seperti pantulan dari bawah ke atas, panik karena posisi pas lihat itu bangunan pada roboh, yang lain pada histeris karena bangunan roboh,” cerita Furqon.

Gempa berkuatan 5,6 magnitudo tersebut pun dirasakan Furqon berdurasi sekitar dua detik. Namun, dalam kurun waktu dua detik tersebut telah merubah kampung halamannya menjadi luluh lantah.

“Padahal itu dua detik, kalau lebih dari dua detik bisa lebih (hancur). Semua pada panik, histeris yang akhirnya menyelamatkan masing-masing,” sahutnya.

Kepanikan pun tentu dirasakan Furqon, mengingat keluarganya berada di dalam rumah saat kejadian. Akan tetapi orangtua, istri dan anak Furqon yang masig kecil selamat dari bencana alam tersebut meski rumahnya turut roboh akibat guncangan.

“Keluarga alhamdulillah selamat. Rumah itu roboh, semua lepas dari bangunan awal, cuma robohnya enggak kedalem, keluar semuanya. Anak saya masih bayi, istri sama ibu alhamdulullah selamat,” bebernya.

Kini Furqon dan keluarga pun harus melawan rasa trauma akibat gempa bumi tersebut. Pasalnya, gempa susulan yang terus terjasi di Cianjur hingga kini membuat warga tak terkecuali keluarga Furqon panik karena masih memiliki trauma.

“Cuma traumanya itu pas gempa ada getaran terus, karena menghasilkan suara, kaya suara batu terpecah. Senalem juga tiga kali,” tutupnya.

Hingga kini Furqon bersama warga lainnya masih bertahan di tenda-tenda pengungsian tak jauh dari kediamannya. Rasa khawatir akan bencana tersebut terulang, terus menghantui warga Kampung Lembah Duhur, Desa Cibulakan, Kecamaran Cugenang, Kabupaten Cianjur.