oleh

Satu Tahun Program Citarum Harum: “Penertiban Kolom Jaring Terapung Mesti Bijak”

BandungKita.id, BANDUNG – Program Citarum berusia genap satu tahun, sejak diresmikan pada Februari 2018 lalu. Berdasarkan Perpres no 15 tahun 2018, sungai ini ditargetkan pulih dalam waktu 7 tahun.

Dalam waktu satu tahun ini, berbagai langkah telah dilakukan Satgas Citarum Harum untuk mengembalikan sungai terpanjang di Jawa Barat ini kembali bersih, asri dan layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Dukungan Pemerintah Pusat, Daerah, TNI, Polri dan beberapa relawan sudah tak perlu ditanyakan lagi. Sokongan anggaran juga sangat maksimal. Uang Rp 640 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) 2019 telah siap dikucurkan.

Efeknya tentu sangat positif, Program Citatum Harum bergema dengan langkah cepat berupa penutupan saluran limbah pabrik, penanaman pohon di sektor hulu, bersih-bersih anak sungai digalakkan, penertiban kolam jaring terapung, pembuatan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dan masih banyak lagi.

Namun, keberhasilan itu tentu bukan sesuatu yang sempurna. Beberapa pekerjaan rumah masih menanti untuk diselesaikan. BandungKita.id berkesempatan berbincang dengan Indra Darmawan, salah satu pegiat lingkungan yang konsen terhadap citarum. Jauh sebelum Program Citarum Harum diresmikan.

Indra melakukan bersih-bersih rutin dengan cara memulung sampah dari bantaran sungai Citarum sejak tahun 2001. Kini ia tak sendiri, 58 orang pasukan pemulung sampah, dan 30 lebih armada perahu setia medampinginya membersihkan aneka sampah.

Reporter BandungKita.id, mewawancarai Indra Darmawan, bertempat di Yasasan Bening Saguling, Kampung Babakan Cianjur Desa Cihampelas Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa 5 Februari 2019. Berikut petikannya.

Bagaimana anda melihat Program Citarum Harum dalam satu tahun ini?

Saya lihat Program Citarum Harum dengan keterlibatan TNI sangat bagus. Dalam artian, ada beberapa hal yang tidak bisa dikerjakan oleh sipil seperti kita. Misalnya, terkait pencemaran oleh pabrik-pabrik dibantaran citarum. Hadirnya TNI mampu berbuat banyak dengan menutup saluran pembuangan limbahnya.

Hasil evaluasi dengan para pemulung, kami juga menemukan kualitas air di Citarum tidak lagi hitam dan bau. Padahal Musim hujan seperti sekarang sering jadi kesempatan untuk membuang limbah. Beberapa jenis ikan yang dahulu tidak ada, kini mulai nampak kembali.

Apa evaluasi anda terkait program ini?

Kedepan perlu ada perbaikan dari sisi keterlibtan semua pihak. Di Citarum Harum ini, nampak yang menonjol hanya TNI dan Pemerintah. Sementara para pegiat lingkungan tidak dilibatkan.  Padahal saat saya mengikuti rapat dengan Menko Maritim, diwajibkan keterlibatan aktivis lingkungan dan tokoh-tokoh masyarakat.

Kalau langkah tersebut dilakukan, saya optimis Citarum bisa lebih baik lagi.

Itu dari sisi keterlibatan masyarakat, Adakah evaluasi dari aspek lain?

Soal Sedimentasi, saya melihat kalau sampah dan logam berat mulai berkurang. Namun, sedimentasi di DAS Citarum percepatannya cukup signifikan. Bukti bahwa alih fungsi lahan di kawasan hulu masih terjadi. Hal Ini perlu ketegasan.

Coba lihat di bawah jembatan BBS Batujajar, kalau musim kemarau di sana banyak pulau sedimentasi. Padahal mestinya sungai itu dalam sekali.

Selain itu, masalah Packaging/kemasan. Indonesia itu negara paling liberal dengan plastik. segala sesuatu serba plastik, bahkan premen yang kecil pun kemasannya menggunakan plastik. ini harus ditata kembali.

Indonesia itu negara penghasil sampah platik terbesar ke-2 di dunia setelah Cina yang menghasilkan sampah plastik 8,8 juta ton per tahun, sedangkan indonesia 3,2 juta ton per tahun.

Pemerintah jangan hanya mengkampanyekan diet plastik di level konsumen, namun juga di tingkat produsen.

Tentang langkah Satgas Citaum Harum yang menertibkan Kolam Jaring Terapung, Bagaimana tanggapan anda?

Kolam jaring terapung di beberapa tempat seperti Bundar, maroko, dan Cirata mulai ditertibkan dan dikurangi. Pemerintah harus arif dan bijak, karena banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sana. Artinya, ketika hal itu ingin ditertibkan, harus ada solusinya.

Saya tahu betul, sebelum di daereah-daerah itu ada waduk. Pengembang mengiming-imingi masyarakat untuk menjual tanahnya, karena diperbolehkan membuat kolam jaring terapung. Sekarang sudah ada kolam, tiba-tiba mereka digusur. Ini kan tidak bijak. Memang kolam terapung itu menyumbang sedimentasi dari pakan dan kotoran ikan, tapi pemerintah harus bijak.***(Restu Sauqi)

Komentar