oleh

Soal Pembangunan Sudut Dilan oleh Ridwan Kamil, Begini Respon Tak Terduga Pidi Baiq

BandungKita.id, FILM – Penulis novel Dilan (dia adalah dilanku tahun 1990) dan Dilan (dia adalah Dilanku tahun 1991) Pidi Baiq, yang juga salah satu sutradara film Dilan 1990 dan film Dilan 1991 akhirnya buka suara terkait pembanguanan pojok Dilan (Dilan Corner) oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Pembangunan Pojok Dilan itu diinisiasi oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk mengapresiasi film Dilan yang meraih sukses dengan 6 juta penonton. Mengenai rencana itu, Pidi Baiq mengaku menghargai apa yang jadi keinginan Ridwan Kamil.

Namun pada perjalanannya, pembangunan Pojok Dilan itu mendapat reaksi keras dari masyarakat, netizen, budayawan hingga ahli tata kota. Mayoritas menganggap rencana Ridwan Kamil membangun Sudut Dilan itu perlu dikaji ulang. Terlebih Sudut Dilan menimbulkan pro dna kontra di masyarakat.

“Saya sih orang yang selalu berusaha menghargai ide gagasan dan pendapat orang lain ketika ada yang izin mau dibikin pojok ya mangga, ya silahkan. Terus kemudian ada yang menolak, menentang Dilan corner itu. Ya saya juga menghargai pendapat itu,” tutur Pidi Baiq kepada BandungKita, Sabtu (3/2/2019).

Sejumlah warga Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung menyindir Gubernur Jabar Ridwan Kamil soal pembangunan Sudut Dilan di Kota Bandung. Korban banjir menilai lebih baik Gubernur menyelesaikan persoalan banjir dibanding membuat Sudut Dilan. (foto:istimewa/detik.com)

 

Pidi juga menuturkan, sebelum wacana tersebut bergulir, Ridwan Kamil telah mengutarakan keinginannya untuk mengapresiasi suksesnya film yang disutradarai Pidi bersama Fajar Bustomi.

“Terus kalau ada orang yang ingin membuat tempat sebagai penanda yang berkaitan dengan karyamu, masak enggak boleh. Ya saya silakan aja,” lanjutnya.

Terlepas dari siapapun yang ingin membangun Dilan Corner, Pidi Baiq menilai positif langkah tersebut.

“Meskipun bukan Ridwan Kamil, ya misalnya ada orang yang mau membuat Dilan Corner di tanah milik orang itu, ya saya pasti persilakan,” lanjut Pidi.

Munculnya keriuhan terkait Dilan Corner, Pidi menilai itu hal biasa. Dirinya juga menuturkan tidak ada pengaruh apapun terhadap hasil karyanya.

“Tidak ada pengaruh apa-apa, kalau benar-benar saya mau bikin pojok Dilan saya mungkin mampu membangun sendiri di lahan milik saya,” ungkap Pidi.

Menurut Ridwan Kamil beberapa waktu lalu, Dilan Corner ditujukan sebagai wadah literasi, terutama kaitannya dengan kajian sastra, film, novel dan lainnya.

Menanggapi hal itu Pidi Baiq menilai wajar, karena seorang Gubernur bertanggung jawab untuk meningkatkan budaya literasi warganya.

“Kalau Kang Emil pasti dia merasa bertanggung jawab memajukan literasi kalau saya mah kan enggak,” ujarnya.

Pria yang kerap dipanggil Ayah oleh rekan-rekannya itu mengatakan dirinya dengan berhasil menciptakan sejumlah karya, ia merasa sudah memenuhi apa yang menjadi keinginanya.

“Tugasku selesai bikin novel, bikin film. Tidak neko-neko karena aku bukan orang yang seperti itu, aku punya anak dan istri yang menurutku lebih penting dipikirkan,” lanjutnya.

Salah satu spot di ‘Sudut Dilan’ di area GOR Saparua, Kota Bandung (foto:istimewa)

“Intinya saya menghargai rencana Ridwan Kamil membuat Dilan Corner, saya juga menghargai mereka yang menolak rencana itu. Sekali lagi, buat saya sih mau ada Dilan Corner atau pun enggak, tetap saja saya mah Imam Besar The Panasdalam yang ingin Barcelona selalu menang” tutup alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB tersebut. (Tito Rohmatulloh)

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar