oleh

Gedung Merdeka: Warung Kopi yang Jadi Tempat Perlawanan Kolonialisme Bangsa Asia dan Afrika

BandungKita.id, BANDUNG – Gedung Merdeka adalah saksi bisu dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika pada tanggal 18-24 April 1955. Sebanyak 29 para pemimpin dari negara-negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung dan menyatakan serta menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.

Hal tersebut kemudian tertera 10 poin hasil konferensi yang akrab disebut Dasasila Bandung. Pernyatan sikan yang secara langsung juga membuat alternatif blok baru di tengah menguatkan perang dingin antara blok barat dan timur.

Namun siapa sangka, gedung Merdeka yang kini masih berdiri kokoh di jalan Asia Afrika nomer 65 Bandung itu, dulunya adalah warung kopi. Hal itu tercatat dalam buku ’50 Tahun Indonesia dan Konferensi Asia Afrika’ yang diterbitkan Departemen Luar Negeri (kini Kemenlu).

“Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika 65 sekarang, dibangun pertama kali tahun 1895 sebagai warung kopi,” tulisnya seperti dikutip detikcom, Senin (13/4/2015).

Tentu bukan sembarang warung kopi. Gedung itu dulunya adalah tempat berkumpulnya para saudagar Belanda. Gedung itu pernah direnovasi pada tahun 1920 hingga 1928 dengan melibatkan dua arsitek kenamaan Belanda waktu itu yakni; Van Galenlast dan Wolf Schoemaker.

Awalnya gedung itu bernama Concordia karena didirikan oleh Societeit Concordia – semacam organisasi perkumpulan opsir Belanda – sebagai tempat hiburan dan bersosialisasi.

Pada masa itu Gedung Concordia menjadi bangunan paling terkenal di Bandung yang juga dikenal sebagai Paris van Java. Setiap sore dan akhir pekan gedung ini ramai dikunjungi oleh para pemilik perkebunan teh, karet dan kina.

 

Ilustrasi KAA (Arsip Nasional)

 

Tak hanya megah dari luar, desain interior gedung ini pun cukup mewah kala itu. Sejumlah literatur menyebut lantai dansa dan ruangan umum terbuat dari marmer Italia. Sementara lantai di bar atau ruangan minum memakai eikenhout yakni kayu dengan kualitas melebihi jati.

Namun kini sejumlah interior itu telah berganti. Lampu-lampu hias kristal yang awalnya menerangi sejumlah ruangan sudah berganti lampu neon. Lantai eikenhout sudah diganti dengan tegel buatan Cimindi, Cimahi, Jawa Barat.

Saat Jepang berkuasa di Indonesia kurun waktu 1942-1945, nama Gedung Concordia berganti menjadi Dai Toa Kaikan. Tentara Jepang menggunakan gedung itu sebagai tempat pertemuan.

Setelah Jepang kalah dari Sekutu, Gedung Concordia digunakan sebagai pusat pemerintahan Kota Bandung.

Pada Maret 1946 meletus peristiwa Bandung Lautan Api. Para tentara Indonesia meninggalkan Gedung Concordia. Sejak itu Gedung Concordia kembali ke fungsi semula yakni tempat pertunjukan kesenian dan hiburan.

Sampai akhirnya pada 1954 pemerintah mengambil alih Gedung Concordia dan digunakan sebagai tempat digelarnya Konferensi Asia Afrika.

Presiden Sukarno kemudian mengganti nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka. Jalan Raya Timur – di mana gedung itu terletak – juga diganti menjadi Jalan Asia-Afrika.***

Sumber: Detik.com

Komentar