Pertanian Sistem Organik di Kabupaten Bandung Terus Meningkat, Ini Keuntungannya

BandungKita.id – Pertanian organik di Kabupaten Bandung masih sedikit jika dibandingkan dengan pertanian konvensional.
Padahal luas lahan pertanian di Kabupaten Bandung terbilang sangat luas bahkan termasuk yang terluas di Jawa Barat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bandung Inna Dewi Kania mengatakan dari luas tanam 115.000 hektar, hanya terdapat 370 hektar saja pertanian yang menggunakan metode organik di Kabupaten Bandung.

“Memang masih sedikit, tapi secara tren terus mengalami peningkatan,” tutur Inna kepada BandungKita.id di Soreang, Jumat (5/10/2018).

Dia mengungkapkan pada 2009 lalu, luas tanam pertanian organik hanya 15 hektar saja. Namun seiring waktu dan edukasi yang dilakukan, jumlahnya terus mengalami peningkatan.

Ada beberapa penyebab lambatnya pertumbuhan pertanian organik. Inna menyebut, masih banyak petani yang ketakutan menurunnya hasil produksi.

“Untuk dua atau tiga musim pertama, produksi memang akan menurun karena ada proses pengembalian struktur tanah,” ujarnya.

Namun, sebenarnya ketika memasuki musim keempat, produksi akan kembali normal pada musim keempat, bahkan puncaknya bisa meningkat melebihi pertanian konvensional.

Inna mencontohkan, pertanian padi saat menggunakan metode konvensional (menggunakan pupuk kimia) produksi bisa mencapai 5 ton per hektar, namun ketika beralih ke organik padi yang dihasilkan pada musim pertama bisa hanya 2,5 ton per hektar.

Tapi pada musim selanjutnya akan ada peningkatan produksi bahkan pada musim ke empat dan selanjutnya produksi bisa meningkat menjadi 7 ton per hektar.

“Padahal walaupun produksi menurun, sebenarnya nilai yang didapat tetap setara,” ujarnya.

Dipaparkannya, harga beras yang menggunakan metode organik bisa mencapai Rp23.000 per kilogram. Sementara harga beras konvensional hanya Rp9.000 -Rp10.000 per kilogram. Artinya kata Inna walaupun produksi menurun, namun secara nilai tetap sama bahkan lebih menguntungkan.

Keuntungan akan didapat ketika memasuki musim keempat ketika produksi sudah stabil.

“Memang butuh komitmen yang kuat dari petani. Makanya kami terus melakukan penyuluhan dan pemahaman kepada petani,” ujarnya. (LOH/BandungKita.id)

Comment