BANDUNGKITA.ID, KABUPATEN BANDUNG – Perpaduan antara keindahan alam, edukasi lingkungan, dan warisan sejarah kini hadir di Desa Margahurip, Kecamatan Banjaran. Mantan Bupati Bandung, Dadang M. Naser, meresmikan Wisata Edukasi Sungai Cigeureuh Astaraja Dewi Hurip pada Selasa (19/1/2021).
Saat itu, acara peresmian dihadiri jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, komunitas pecinta lingkungan seperti Elingan dan Badega, serta tokoh masyarakat setempat. Kawasan ini digagas sebagai “sekolah air” yang mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian sungai dan tanah.
“Pengimplementasian rasa cinta tanah air ditunjukkan warga dengan memelihara tanaman dan menjaga sungai tetap bersih, bebas dari sampah dan pencemaran,” ujar Dadang Naser seperti dikutip Bandungkita.id.
Jejak Kerajaan Astaraja
Di balik pesona alamnya, kawasan ini menyimpan situs Kerajaan Astaraja. Ketua RW setempat disebut sebagai salah satu ahli waris kerajaan tersebut. Meski catatan tertulis tentang Kerajaan Astaraja tidak banyak ditemukan, keberadaannya diyakini sebagai bagian dari sejarah lokal yang terkait dengan Tatar Ukur — wilayah yang pada masa lalu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda-Pajajaran, kemudian Sumedanglarang, dan selanjutnya Mataram.
Menurut naskah sejarah Sunda, Tatar Ukur pernah diperintah oleh tokoh legendaris Dipati Ukur, yang wilayahnya membentang luas di Priangan. Setelah runtuhnya Pajajaran pada akhir abad ke-16, wilayah ini menjadi bagian dari Kerajaan Sumedanglarang di bawah Prabu Geusan Ulun, sebelum akhirnya masuk ke pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke-17.
Keberadaan situs Astaraja di Margahurip menjadi bukti bahwa desa ini bukan sekadar memiliki kekayaan alam, tetapi juga akar sejarah yang dalam.
Potensi Desa Margahurip
Selain Sungai Cigeureuh, Dadang juga meninjau potensi unggulan desa, di antaranya:
- Kampung Saber dengan industri kreatif panahan (jamparing) yang telah menembus pasar ekspor.
- Budidaya maggot dengan sistem bioflok.
- Kebun kurma tropis yang bibitnya berasal dari Israel dan dikembangkan di Thailand, kini dibudidayakan di Margahurip untuk distribusi nasional.
Miniatur Green Canyon
Dewi Hurip dijuluki miniatur Green Canyon Pangandaran karena memiliki sekitar 145 mata air, bebatuan berlumut dengan tetesan air alami, serta menjadi habitat kura-kura, kadal, biawak, dan berbagai jenis ikan lokal.
“Saya mohon ini dijaga dengan baik. Jaga tanahnya, jaga airnya, supaya kita menjadi pencinta tanah air sejati,” pesan Dadang.
Makna Historis dan Edukatif
Dengan memadukan wisata alam, edukasi lingkungan, dan sejarah kerajaan, Astaraja Dewi Hurip menjadi destinasi yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperkaya wawasan. Bagi generasi muda, tempat ini menjadi ruang belajar tentang bagaimana sejarah, budaya, dan alam saling terkait dalam membentuk identitas daerah.
Belum ada catatan atau pemberitaan resmi yang menyebut Bupati Bandung saat ini, Dadang Supriatna, pernah mengunjungi atau meresmikan tempat tersebut. Jadi, sejauh ini yang terdokumentasi adalah kunjungan Dadang M. Naser, bukan Dadang Supriatna (Dhomz/BandungKita.id)





Comment