Di Balik Prosedur Birokrasi dan Kesibukan Rapat: Dinsos KBB Arahkan Prosedur, BAZNAS Cenderung Abai Saat Pasien ODGJ RBR Kelaparan
BANDUNG BARAT — Kelangkaan bahan pangan yang memaksa belasan pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan lansia di Yayasan RBR Cililin mengonsumsi olahan singkong selama beberapa hari terakhir memunculkan potret buram penanganan masalah sosial di Kabupaten Bandung Barat. Di saat kondisi di lapangan dalam taraf darurat, respons instansi terkait justru terjebak dalam sekat formalitas dan kesibukan birokrasi.
Berdasarkan konfirmasi Redaksi BandungKita.id, Kepala Dinas Sosial KBB, Idad, menyatakan telah menginstruksikan bidang teknis untuk menindaklanjuti kondisi tersebut. Dinsos mengklaim telah mengutus tim ke lokasi dan mengarahkan pengelola yayasan untuk berkoordinasi secara administratif.
“Saya sudah konfirmasi ke dua bidang terkait, mereka sudah berkunjung. Pak Misbah agar berkomunikasi lanjutan dengan Bidang Rehabilitasi Sosial (Rehsos) dan Bidang Daya Sosial (Dayasos),” ujar Kadinsos KBB melalui pesan tertulis.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan respons yang berbelit saat redaksi berupaya menjembatani kondisi darurat ini kepada pejabat bidang yang ditunjuk. Saat dikonfirmasi mengenai kepastian bantuan pangan mendesak bagi belasan ODGJ yang tertahan, pejabat bidang di Dinsos KBB (Bu Tien) justru memberikan tanggapan singkat: “Waalaikumsalam, punten nj rapat” (sedang rapat).
Sikap ini mempertegas ketimpangan antara urgensi kemanusiaan dan ritme kerja birokrasi. Saat piring para pasien ODGJ kosong dan pengelola yayasan kelimpungan mencari beras, pejabat yang berwenang justru sulit tersentuh dengan alasan agenda rapat yang tak kunjung usai.
BAZNAS KBB Malah Membangun Narasi Counter
Sikap berseberangan dan cenderung acuh juga ditunjukkan BAZNAS KBB. Lembaga yang memegang mandat pengelolaan zakat, infak, dan sedekah daerah tersebut abai terhadap krisis pangan yang menimpa Yayasan RBR.
ARTIKEL PILIHAN
Alih-alih melakukan verifikasi faktual untuk memastikan keberadaan Yayasan RBR sebagai bagian dari kriteria penerima manfaat zakat (asnaf), Ketua BAZNAS KBB justru membangun narasi pembelaan diri. Sikap defensif ini muncul setelah pengamat/aktivis Bilal Alfariz melontarkan kritik keras terkait tumpulnya kepekaan instansi pemerintah serta BAZNAS terhadap aksi kemanusiaan yang dilakukan Misbah secara mandiri. (Laporan investigasi kegiatan Baznas akan dihadirkan dalam edisi Laporan Khusus/red)
Rekam jejak Yayasan RBR yang telah berhasil memulihkan dan memulangkan tidak kurang dari 400 pasien ODGJ ke keluarga mereka seolah luput dari perhatian. Jarak antara prosedur birokrasi yang sibuk rapat, narasi counter BAZNAS, dan kedaruratan perut para pasien ODGJ di Cililin menjadi catatan kritis atas nurani pelayanan publik di Bandung Barat. (Dhomz/BandungKita.id)
Catatan Redaksi: Photo yang menyertai dalam Judul, Sengaja di buka agar dapat dikenali oleh Pihak keluarga sebagai upaya Sosialisasi Yayasan dan Redaksi, hal ini dilakukan karena sebelum pasien sadar, nama dan asal alamat pasien selalu berubah.





Comment