Solusi Eceng Gondok Saguling Diapresiasi Kementerian LH, Cermati Keberlanjutan Ekonomi

Peristiwa12042 Views

BANDUNG BARAT, BANDUNGKITA.ID — Upaya penanganan gulma eceng gondok di perairan Waduk Saguling kembali menyita perhatian nasional. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memantau langsung implementasi program penanganan gulma dan ekonomi sirkular yang digulirkan PT PLN Indonesia Power (IP) UBP Saguling bersama masyarakat di Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Peninjauan lapangan tersebut berfokus pada integrasi pengelolaan pembersihan waduk dengan pemanfaatan biomassa eceng gondok menjadi media tanam budidaya jamur merang.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air Kementerian Lingkungan Hidup, Tulus Laksono, mengapresiasi terobosan yang dilakukan PLTA Saguling dalam merestorasi fungsi ekosistem perairan sekaligus membuka potensi nilai tambah ekonomi bagi warga pesisir waduk.

“Penanganan eceng gondok dan menjaga kualitas Sungai Citarum membutuhkan kolaborasi semua pihak. Pemerintah, perusahaan, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat harus bergerak bersama. Kami mengapresiasi upaya PLTA Saguling dalam mengelola dan memanfaatkan eceng gondok sebagai bagian dari solusi lingkungan yang berkelanjutan,” tegas Tulus Laksono saat meninjau lokasi pengolahan eceng gondok.

Konversi Gulma Menjadi Nilai Ekonomi

Sebagaimana diketahui, pemanfaatan eceng gondok ini dirancang untuk menekan laju sedimentasi DAS Citarum serta mencegah gangguan operasional pada turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling. Melalui skema ekonomi sirkular yang dikembangkan sejak 2024 bersama mitra binaan Saboer Padjadjaran dan kelompok masyarakat, sebanyak 147,6 ton eceng gondok dilaporkan telah berhasil dipanen dan diolah melalui proses pencacahan, pengeringan, hingga fermentasi.

Untuk menampung siklus produksi 40 harian, sebanyak 12 unit kumbung (rumah jamur) telah dibangun dan dikelola secara berkelanjutan oleh 20 warga lokal. Dari fase pengembangan ini, tercatat akumulasi panen sebanyak 1.413 kg jamur merang.

Dari kalkulasi keekonomian kelompok, program ini mencatatkan rata-rata laba bersih usaha sebesar Rp1.500.000 s/d Rp3.622.125 per bulan per kumbung. Capaian ini menjadi stimulus pendapatan tambahan bagi warga yang terlibat langsung dalam mata rantai produksi, mulai dari pengerukan eceng gondok di waduk hingga perawatan kumbung di darat.(**)

Sumber: Humas/Pers Rilis Indomesia Power

Comment