Pengamat: “Jangan sampai potensi kolaborasi besar ini terus-menerus terjerembab sekadar mendongkrak kepentingan kawasan perumahan elite semata, bawa ke selatan, Bangun Iklim Investasi…”
NGAMPRAH, BANDUNGKITA.ID — Euphoria Hari Jadi ke-19 Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang dikemas lewat Festival JAJARANS di Kota Baru Parahyangan (KBP) pada 7–9 Agustus 2026 justru memanen gelombang kritik dari warga. Alih-alih mendapat apresiasi atas aksi borong jajanan gratis yang diboyong Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, unggahan seputar perayaan tersebut di media sosial malah diserbu ribuan komentar miring netizen.
Berdasarkan pantauan redaksi pada unggahan media AyoBandung.com, hampir seluruh ruang diskusi dipenuhi nada kekecewaan publik. Warga menilai Pemerintah Kabupaten KBB kehilangan empati dan makin jauh dari realitas sosial yang dihadapi masyarakat bawah.






Kawasan Elite vs Alun-Alun Rakyat
Sorotan tajam publik tertuju pada pemilihan lokasi acara di kawasan pemukiman elite KBP. Warga mempertanyakan komitmen Pemkab KBB yang terkesan mengabaikan fasilitas publik milik daerah sendiri, seperti Plaza KBB atau Alun-alun KBB di Ngamprah.
“Ulang tahun meriahnya tidak dinikmati oleh kalangan masyarakat luas, hanya ruang lingkup wilayah perumahan Kota Baru,” kritik salah satu warga, Wandi Lesmana Putra, dalam kolom komentar.
Nada senada disampaikan netizen Asep Nurjaman dengan nada sindiran tajam. “ULANG TAHUN KBB (X), ULANG TAHUN KBP (V),” tulisnya.
Pesta di Tengah Jalan Rusak dan Sekolah Ambruk
Tak sekadar lokasi, esensi dari perayaan ulang tahun itu sendiri dipertanyakan. Di saat Pemkab KBB memamerkan kemeriahan hiburan dan aksi bagi-bagi makanan gratis skala besar, infrastruktur dasar di berbagai pelosok KBB dinilai masih terabaikan.
Warga menilai anggaran dan fokus pemerintah daerah seharusnya dialokasikan untuk perbaikan fasilitas publik yang vital, bukan sekadar hiburan instan sekejap mata.
“Sebenarnya tidak butuh yang seperti ini, Pak. Yang penting perbaiki KBB, baik sistemnya, pegawainya, infrastrukturnya, maupun kebijakannya yang menentramkan. Bukan hajatan dibesar-besarkan. Sekadar membodohi hati dengan hiburan sekejap, ujung-ujungnya rakyat tetap susah,” celetuk akun Ayu Yolanda.
Kritik terhadap kepemimpinan daerah juga dilontarkan Upiew Prieatna. Ia menyinggung langsung kinerja Bupati Jeje yang dianggap belum memberikan perubahan signifikan bagi kondisi fisik daerah.
“Ulang tahun KBB tidak ada kemajuan selama dipimpin. Jalan masih rusak (barutut), ekonomi begitu-begitu saja. Ulang tahun KBB tidak perlu seperti ini, perbaiki jalan itu, perbaiki bangunan sekolah yang mau ambruk,” tegasnya.
UMKM Bawah Terpinggirkan
Sektor ekonomi kerakyatan yang diklaim menjadi fokus utama festival tersebut turut menuai kesaksian pahit. Format acara di kawasan tertutup dinilai hanya menguntungkan segelintir pengusaha dan pedagang terpilih, sementara Pedagang Kaki Lima (PKL), pedagang asongan, hingga pedagang keliling di luar kawasan tersebut hanya bisa gigit jari.
“Bingung dengan KBB, acara terus-menerus tapi tidak merakyat. Sekarang pedagang kaki lima kasihan tidak bisa berjualan. Malah memeperkaya yang sudah kaya,” tulis Bah Joyo.
Gelombang penolakan dan kritik pedas di media sosial ini menjadi sinyal keras bagi jajaran Pemkab KBB. Di usia yang menginjak 19 tahun, publik menuntut pembenahan nyata pada aspek substansial seperti perbaikan jalan, sarana pendidikan, dan pemerataan ekonomi ketimbang panggung seremonial yang megah namun terasa asing bagi rakyatnya sendiri.
Bupati Jeje Tegaskan Tanpa APBD
Menanggapi berbagai sorotan publik, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail memberikan klarifikasi mengenai penyelenggaraan acara tersebut. Dalam keterangannya kepada wartawan, Jeje menegaskan bahwa Festival JAJARANS sama sekali tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bandung Barat.
”Perlu saya sampaikan bahwa kegiatan Jajarans Festival ini murni merupakan hasil kolaborasi dengan pihak swasta dan sama sekali tidak menggunakan APBD KBB sepeser pun. Acara ini hadir sebagai ruang hiburan, wadah silaturahmi, sekaligus ikhtiar untuk menggerakkan roda perekonomian para pelaku UMKM lokal dalam rangka memeriahkan HUT ke-19 KBB,” ujar Bupati Jeje.
Pengamat: Potensi Swasta Harus Sasar KBB Selatan dan Tingkatkan PAD
Meski tidak menggunakan dana APBD, langkah Pemkab KBB menggaet figur publik papan atas dalam ajang skala besar tersebut tak lepas dari evaluasi pengamat. Pengamat Kebijakan Publik, Bilqis Alfarizi, menyayangkan pola kemitraan pemerintah daerah yang terkesan masih dangkal dan terbatas pada ajang seremonial semata.
Menurut Bilal, memasuki tahun menuju ke-3 kepemimpinan Jeje, jejaring dan sumber daya besar yang dimiliki artis nasional sekelas Raffi Ahmad belum mampu diarahkan secara strategis untuk menyentuh potensi vital daerah, khususnya di kawasan Bandung Barat Selatan.
”Sangat disayangkan, kolaborasi dengan figur sekaliber Raffi Ahmad belum melirik potensi pariwisata KBB Selatan yang sejatinya memiliki daya tarik luar biasa untuk investasi. Terlebih saat ini integrasi transportasi seperti Kereta Cepat Whoosh sudah beroperasi penuh dan harusnya menjadi akselerator aksesibilitas ke kawasan selatan,” ungkap Bilal.
Bilal berharap Bupati Jeje Ritchie Ismail bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Ade Zakir dapat duduk bersama serta berdiskusi secara substansial dengan Raffi Ahmad dan jajaran pengusaha nasional. Pembahasan tersebut penting agar jaringan serta investasi yang masuk mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) KBB secara riil.
”Bupati dan Sekda harus mendorong agar relasi dan jejak para artis di lingkaran kepemimpinan saat ini meninggalkan policy (kebijakan) serta warisan investasi yang bermanfaat bagi konsep kemajuan KBB yang bermartabat. Jangan sampai potensi kolaborasi besar ini terus-menerus terjerembet sekadar mendongkrak kepentingan kawasan perumahan elite semata, bawa ke selatan, Bangun Iklim Investasi. ” pungkasnya.
Gelombang penolakan di media sosial ini menjadi catatan kritis bagi jajaran Pemkab KBB. Di usia yang menginjak 19 tahun, publik menuntut pembenahan nyata pada aspek substansial seperti perbaikan jalan, sarana pendidikan, dan pemerataan ekonomi ketimbang panggung seremonial yang megah namun terasa asing bagi rakyatnya sendiri. (dhomz/BandungKita.id)





Comment