.
BANDUNG, Bandungkita.id — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tak hanya diwarnai dengan kibaran bendera merah putih di pelosok Tatar Sunda, tetapi juga menjadi momentum perenungan mendalam atas makna kebebasan dan keadilan lingkungan.
Pegiat sekaligus tokoh lingkungan kawakan Jawa Barat, Memet Achmad Surahman—atau yang akrab disapa Eyang Memet—menyampaikan kritik tajam sekaligus pesan moral mendalam mengenai hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya bagi alam dan manusia.

Aktivis lingkungan yang juga tokoh masyarakat Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Eyang Memet (69) menunjukkan kawasan hutan yang diduga dibakar oknum tidak bertanggung jawab, Selasa (28/7/2020). (foto:istimewa)
Dalam sebuah pesan puitis namun menyengat yang berlatar rindangnya pepohonan dan panji-panji merah putih, pendiri Yayasan Panata Giri Raharja tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh direduksi sekadar perayaan seremonial semata.
“Merdeka adalah kebebasan bereksprisi, merdeka adalah bebas menyampaikan pendapat, dan merdeka adalah kesetaraan,” tegas Eyang Memet.
Bumi Tidak Boleh Dirusak Berkedok Kesejahteraan
Kritik Eyang Memet menohok langsung pada praktik eksploitasi alam yang kerap kali ditutupi oleh narasi pembangunan dan peningkatan ekonomi. Menurut pendiri wadah konservasi yang berbasis di kawasan Bandung Selatan tersebut, perlakuan terhadap alam harus berlandaskan kearifan dan keadilan, bukan kesewenang-wenangan.

“Kami hanya ingin menyampaikan: jaga dan perlakukan Bumi secara arif, tidak semena-mena dengan dalih kesejahteraan,” lanjutnya.
Seruan ini menjadi otokritik keras bagi para pemangku kebijakan, pengembang, maupun masyarakat luas di Jawa Barat. Di tengah bayang-bayang krisis ekologis mulai dari alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU), ancaman bencana hidrometeorologi, hingga degradasi lahan kritis dalih “pembangunan demi kesejahteraan” sering kali menjadi legitimasi untuk merusak ruang hidup.















Bukan Sekadar Keluh Kesah, Tapi Panggilan Nurani
Eyang Memet menampik bahwa suara kritis yang digelorakan para aktivis lingkungan lahir dari sekadar rintihan atau keluh kesah ketidakpuasan semata. Sebaliknya, pesan moral yang disuarakan merupakan panggilan nurani terdalam untuk menyelamatkan masa depan bangsa.
“Ini bukan berangkat dari keluh kesah. Namun ungkapan dari nurani yang paling dalam, sebagai bekal kami untuk berbakti kepada negeri,” pungkasnya.
Pesan Eyang Memet memantik refleksi mendasar bagi publik Jawa Barat: Sudahkah kita merdeka jika bumi tempat kita berpijak masih terus tereksploitasi? Apa yang telah benar-benar kita lakukan untuk Bumi Indonesia di usia kemerdekaannya yang ke-81 ini?
Memaknai kemerdekaan hari ini dituntut tak berhenti pada pekik “Merdeka!”, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata menjaga kelestarian tanah, air, dan hutan demi keberlanjutan generasi mendatang. (Redaksi Bandungkita.id)





Comment