Menanti “Menu Wisata” Selatan Bandung Barat: Ketika Penumpang Whoosh Rindu Wisata Alam Tematik

BANDUNG BARAT, BANDUNGKITA.ID — Siapa pun yang rutin menepi di kawasan stop over Stasiun Kereta Cepat Whoosh Padalarang, tentu gampang menangkap sebuah ironi yang menggelitik. Di satu sisi, urat nadi transportasi super modern itu menawarkan konektivitas ultra cepat, tersambung mulus dengan jejaring industri wisata Bandung raya.

Namun di sisi lain, gerak cepat itu seolah berhenti mendadak begitu bicara peta destinasi wisata Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Pilihan yang disodorkan kepada para pelancong baik domestik maupun mancanegara masih itu-itu saja. Utara KBB, yang dulunya adalah paru-paru ekologis, kini pelan-pelan melemah akibat disergap industri pariwisata pragmatis. Betonisasi atas nama komersialisasi terus melahap daya dukung lingkungan.

ARTIKEL PILIHAN

Sementara di selatan? Ia seperti sengaja ditaruh di dalam kotak kaca yang terlupakan: eksotis, terbuka, namun tetap menjadi Blank Spot dalam peta promosi dan penawaran agen perjalanan.

Hal ini dikeluhan para pengemudi perusahaan Travel asal jakarta, dalam perbincangan di Pool mereka didaerah Talang, menguak fakta bahwa tamu yang menggunakan jasa travelnya dijakarta, setelah menggunakan kereta woosh, tugas para drivr inilah kemudian mengantarkan tamunya ke tempat yang sebwlumnya ditawarkan perusahaannya, turis asing, dari eropa dan timur tengah kabarnya jadi paling sering mereka layani selain wisatawan domestik.

“Kalau ada tamu dari Timur Tengah misal, travel kami di Jakarta sebelumnya minta destinasi wisata alam tenang dan sepi di bandung barat, jujur menu wisata di KBB itu terbatas, selain kawasan Lembang ya” ucap Dadang, seorang pengemudi travel yang biasa memarkir kendaraannya di area transit Padalarang.

“Padahal kalau potensi selatan ditata, dikemas jadi paket tematik yang jelas, pasti langsung kami jual. Sayangnya, informasi dan kesiapan pengelolaannya belum sampai ke kita-kita di lapangan,” sambungnya.

ARTIKEL PILIHAN

Dari peristiwa tersebut lahir sebuah diskusi ringan tentang menakar Potensi PAD dari sektor Wisata KBB Selatan, salah satu praktisi kepariwisataan, Darmawan, M.Si, menggagas sebuah konsep Wisata berbasis Komservasi.

Menurut Asn yang tengah bersiap purna ini, menyebut pentingnya melihat semangat membangun infrastruktur yang telah dibangun diselatan (peningkatan jalan Rabat Beton/red) menurutnya harus berdampak pada pengembangan lain, yaitu wisata.

Pria yang dikenal ramah ini juga menyinggung potensi wisatawan yang menggunakan stasiun kereta api cepat Woos yang turun di stasiun padalarang, menurutnya hal tersebut adalah potensi pendapatan asli daerah dan merupakan kesempatan untuk juga membangun karakter dan ekonomi daerah Bandung Barat.

VIDEO PILIHAN

Darmawan menggambarkan, bentang alam Cililin, Sindangkerta, Cipongkor, Gununghalu, hingga Kecamatan Rongga, sebagai sumberdaya alam ekologis yang saling mengunci.

Lebih jauh, Darmawan menggambarkan Anatomi Topografi dan Menu Eksotisme 5 Kecamatan tersebut.

“Selatan KBB bukan wilayah kosong Ia adalah koridor konservasi yang kaya akan perpaduan lanskap” ujarnya.

  1. Cililin (The Heritage & Water Gateway): Berfungsi sebagai penapis utama arus wisatawan dari arah Padalarang maupun Soreang. Kawasan ini menyimpan kekayaan sejarah, kuliner warisan, dan lanskap perairan Waduk Saguling.
  2. Sindangkerta (Agro-Eco Corridor): Hamparan terasering sawah bertingkat di Desa Mekarwangi yang asri. Jalur ini menyimpan potensi agro-tourism, budidaya lebah madu, hingga akses menuju gugusan air terjun tersembunyi seperti Curug Gawang.
  3. Cipongkor (Hydro-Geotourism): Teater alam berupa lembah cadas miring yang mengapit alur sungai penyuplai energi listrik nasional (PLTA Saguling/Cisokan). Sebuah laboratorium alam hidro-geologi yang megah.
  4. Gununghalu (Heritage Tea & High-Forest): Berada di ketinggian berhawa dingin (1.000–1.400 mdpl). Kawasan Perkebunan Teh Tangsijaya/Tangsi serta vegetasi Pinus Weninggalih menyimpan ketenangan otentik, jalur coffee trail Kopi Gununghalu, dan deretan air terjun seperti Curug Panyandaan.
  5. Bunijaya/Rongga (The Cascades Sanctuary): Ngarai terjal yang dibelah alur Sungai Cidadap. Di sinilah bersemayam mahakarya “Niagara Mini” KBB, Curug Malela, yang berdiri kokoh di tengah hutan tutupan yang padat.

VIDEO PILIHAN

Pria kelahiran Kalimantan itu sepertinya faham betul roadmap wisata Bandung Raya, ia bahkan menyinggung soal wisata alternatif saat ciwidey atau daerah lain padat, dan menurutnya sangat relevan jika dibahas dqlam artikel ini.

“Gunung halu bisa diakses melalui jalan mekarwangi dari ciwidey, destinasi di daerah mekarwangi hingga tangsi gunung halu, darmawan sebut Penyelamat Saat Utara dan Ciwidey Macet”.Ujarnya.

VIDEO PILIHAN

Secara taktis, jaringan jalan melingkar selatan ini sejatinya adalah rute penyelamat saat titik jenuh pariwisata terjadi di kawasan lain.

Ketika jalur pariwisata Ciwidey (Kabupaten Bandung) atau Lembang dilanda kemacetan parah di musim libur panjang, koridor selatan KBB menyajikan road trip berbasis pengalaman lanskap: keluar dari Stasiun Whoosh Padalarang melintasi Cililin membelah kesegaran Mekarwangi Sindangkerta menembus kabut Perkebunan Tangsi Gununghalu atau Hutan Pinus Weninggalih menyusuri alur Sungai Cidadap dan berujung di gemuruh Curug Malela” ucapnya sambilmemetakan beberapa keanekaragaman alam disepanjang jalur yang disebut.

VIDEO PILIHAN

Rupanya Darmawan tengah menawarkan sebuah konsep perjalanan wisata tematik, dimana tidak menumpuk massa di satu lokasi, melainkan menyebar dampak ekonomi secara merata di sepanjang koridor desa.

Pandangan mendalam lainnya mengenai peta potensi wisata KBB selatan ini turut mengusik kesadaran kita, bahwa potensi besar KBB selatan memurut Darmawan jangan sampai tawawarkan kepada investor atau pengembang pragmatis yang berorientasi komersial semata.

“Wilayah selatan KBB itu memiliki landscape yang sangat kuat untuk menumbuhkan kepekaan dini masyarakat dan tamunya, dalam konsep wisatanyapun memiliki arti penting menjaga kelestarian lingkungan melalui aktivitas berwisata,” ujar Darmawan menegaskan pandangannya.

Baginya, integrasi antara infrastruktur modern (Whoosh) dengan bentang alam selatan harus diikat oleh skema investasi berbasis konservasi (sustainability environment).

VIDEO PILIHAN

“Ini bentuk keprihatinan kita terhadap kondisi utara, di mana kehadiran investasi pariwisata tidak lagi bersandar pada nilai-nilai konservasi, melainkan pada kalkulasi untung-rugi semata. Risikonya, daya dukung alam untuk kehidupan manusia semakin hari semakin menurun,” tegasnya.

Geopolitik Lingkungan KBB

Secara geopolitik daerah, wilayah selatan KBB menanggung beban ekologis yang vital: ia adalah benteng resapan air, penyangga tutupan hutan primer, serta penyokong ketahanan pangan dan energi listrik Jawa-Bali.

Ada kesimpulan menarik dari perbincangan kami. Mengobrak-abrik wilayah selatan dengan pariwisata masif berbasis modern industri sama saja dengan mengundang bencana ekologis jangka panjang. Sebaliknya, menyusun “menu wisata tematik berbasis konservasi” adalah jalan tengah paling beretika.

Hadirnya akses jalan menuju selatan seperti saat ini (representatif) seharusnya menjadi pemantik keberanian Pemkab Bandung Barat untuk menyusun tata ruang pariwisata yang presisi. Selatan bukan lagi blank zone, melainkan masa depan KBB yang menanti sentuhan investasi yang memiliki nurani ekologi.(Bandungkita.id)

Comment