oleh

Pengusaha Penyamak Kulit di Garut Terancam Gulung Tikar, Ini Sebabnya

BandungKita.id, GARUT – Akhir-akhir ini jumlah pengusaha penyamakan kulit di wilayah Sukaregang, Kecamatan Garut Kota terus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, salah satunya kian deranya aksi protes yang dialakukan warga terkena dampak limbah cair B3.

Pengurus Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Garut, Sukandar atau atau yang akarab disapa Enay, mengakui adanya penurunan jumlah penyamak kulit di Sukaregang. Penurunan terutama terjadi pada penyamak tingkat menengah ke bawah.

Menurutnya, ada berbagai faktor yang menyebabkan terus berkurangnya jumlah penyamak kulit di Sukaregang. Salah satunya yakni terus gencarnya aksi protes yang dilakukan warga yang terkena dampak pencemaran dari limbah kulit cair B3.

“Akhir-akhir ini aksi yang dilakukan warga atas pencemaran yang diakibatkan limbah kulit cair B3 kian deras. Hal ini cukup berdampak terhadap jumlah penyamak kulit yang kian hari kian berkurang,” ujar Enay, Minggu (13/1/2019).

Diakui Enay, hingga saat ini masalah limbah kulit cair B3 masih menjadi persoalan yang pelik di daerahnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar dari perusahaan penyamakan kulit yang belum memiliki IPAL.

Dikatakannya, dari semula 400 pengusaha penyamak kulit berskala kecil-menengah, saat ini yang bertahan hanya tinggal sekitar 220. Secara perlahan, satu demi satu penyamak kecil-menengah ini berguguran karena tersandung masalah IPAL.

Yang lebih parahnya lagi, tutur Enay, pengusaha besar setingkat pabrik pun hingga saat ini masih banyak yang belum memiliki IPAL. Dari sekitar 50 pengusaha besar, baru ada 3 pabrik yang sudah dilengkapi dengan IPAL.

“Ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap tingkat pencemaran limbah yang terjadi. Idealnya, tiap perusahaan penyamakan kulit mempunyai IPAL masing-masing sehingga limbahnyatidak akan terbuang ke sungai dan mencemari lingkungan seperti yang sering dikeluhkan warga selama ini,” katanya.

Selain terkendala masalah IPAL, Enay juga menyebutkan terus berkurangnya jumlah penyamak kulit berskala kecil-menengah di daerahnya juga diakibatkan faktor lainnya. Salah satunya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah.

Pasalnya tambah Enay, hampir 80 persen bahan baku atau obat-obatan kimia untuk proses penyamakan kulit merupakan produk imfor yang harganya terus meningkat. Ini tentu sangat memberatkan para pengusaha kecil-menengah sehingga banyak di antaranya yang pada akhirnya gulung tikar.***(Rul/BandungKita)

Komentar