by

Keluh Kesah Lurah Jatiendah Soal Kritisnya Kawasan Bandung Utara dan Peran Pemerintah

BandungKita.id, BANDUNG – Bencana banjir bandang yang melanda RT 07 dan RT 06 RW 06 Kelurahan Pasirendah Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung cukup menjadi gambaran rusaknya wilayah hulu Kota Bandung.

Meski diduga ada faktor lain yang jadi sebab banjir bandang, seperti robohnya kirmir, penyempitan sungai, pendangkalan, juga tanggul jebol. Namun faktor utama banjir bandang diyakini akibat resapan air yang tidak sempurna di wilayah Kawasan Bandung Utara (KBU).

Hal tersebut disampaikan Lurah Jatiendah, Karsono Adisuseno saat ditemui BandungKita, Rabu (3/4/2019). Ungkapan habis hujan terbitlah banjir bandang, nampaknya selaras dengan kondisi warga Jatiendah yang kerap dihantui ancaman banjir setiap kali diguyur hujan.

Jika ditinjau secara goegrafis, kawasan atas Kelurahan Pasirendah adalah Kelurahan Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Karsono menyebut, di kawasan itulah perumahan-perumahan berkembang biak, setidaknya dalam lima tahun terakhir.

“Kalau menurut pengetahuan kami dan banyak pandangan warga, (banjir bandang) ini diakibatkan dari hulunya, dari atas. Dulunya masih ada serapan air sekarang sudah (berkurang), karena banyak komplek perumahan,” tutur Karsono di posko relawan banjir Ujungberung.

Baca juga: Begini Kesaksian Lurah Pasirendah Tentang Banjir Bandang yang Terjang Ujungberung

Tak cukup dengan pernyataan Karsono, BandungKita akhirnya mencoba menelusuri wilayah Kelurahan Jatiendah, yang disebut-sebut sebagai kawasan menjamurnya perumahan. Terbukti, sedikitnya empat perumahan memang bertengger di atas wilayah Pasirendah.

Letaknya pun tak jauh dari Kantor Kecamatan Cilengkrang, bahkan plang nama salah satu peruamahan nampak dibongkar. Perumahan itu, lanjut Karsono hanya sebagian kecil dari banyaknya alih fungsi lahan dari kawasan hutan jadi pemukiman. Segala prosedurnya merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Bandung.

“Kami menginginkan ada penanganan maraknya pembangunan di wilayah atas, biar ada serapan air, paling enggak mengurangi debit air yang tumpah ke wilayah kami,” tuturnya.

Namun, kemampuan Karsono sebagai kepala desa membuat ia tidak bisa berbuat banyak. Edukasi bencana terhadap warga hingga penyampaian keluhan ke pihak kecamatan sudah berulang kali dia lakukan.

Tampaknya upaya tersebut masih jauh dari harapan, hingga akhirnya pada Senin (1/4/2019) lalu, Siswa SD Ajitunggal di Keluahan Pasirendah jadi korban terjangan banjir bandang. Pada kenyataanya, Karsono hanya secuil representasi dari 13.980 penduduk Kelurhan Jatiendah yang menggantungkan rasa aman bertempat tinggal pada pucuk pimpinanan baik Kota dan kabupaten Bandung bahkan hingga provinsi.

Baca juga: Ikah dan Cerita Kampung Cisirung yang Bergetar

Sorot mata Karsono pun dengan tegas menggambarkan keprihatinananya atas banjir yang membuat siswa-siswi SD Ajitunggal kehilangan tempat belajarnya. Lengkap dengan tas dan sepatu kesayangan yang hanyut terseret banjir.

Pas kemarin tragedi Jatiendah bahkan sampai ada yang meninggal, di sini juga kena bahkan sampai 2 meter tapi gak ke sorot, terus sekarang terjadi juga, melanda SD Ajitunggal. Malah barusan ada siswa bilang ke saya, ‘pak sepatu sama tas saya ilang saya nanti belajrnya gimana pak?’. Ya gimana saya juga ikut prihatin,” kata Karsono berkisah.

Dari cerita itu, seolah Karsono ingin mengatakan harus berapa nyawa lagi yang hilang jadi korban banjir bandang. Berapa siswa lagi yang ketenangan belajarnya harus buyar bukan karena bel pulang, tapi gara-gara banjir bandang.

Baca juga: Disdik Kota Bandung Akan Siapkan Lokasi UASBN Siswa SD Ajitunggal

Pemerintah dituntut semakin sigap bertindak agar masyarakat minimalnya merarasa aman jika tidak bisa disejahterakan.

“Kami kapasitasnya hanya bisa menyampaikan kepemimpinan (camat), banjir ini kan lintas wilayah, jadi tentu meilbatkan Pemerintah Kabupaten dan Kota Bandung. Kebetulan sekarang kan gubernurnya mantan Wali Kota Bandung, mudah-mudahan Gubernur Ridwan Kamil bisa cepat tanggap dan bisa menyelesaikan permasalahan ini,” pungkas Karsono. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment