oleh

Perumahan Griya Asri Cireundeu Menuai Konflik, Ini Kata Warga Kampung Adat

BandungKita.id, CIMAHI SELATAN – Proyek pembangunan Perumahan Griya Asri Cireundeu masih berlangsung meskipun polemik belum selesai. Proyek pembangunan yang dilakukan di atas pemukiman warga kampung Cireundeu, diduga menjadi sebab banjir lumpur yang menerjang pemukiman beberapa waktu lalu.

Warga Kampung Adat Cireundeu, Kang Jajat (42), dengan tegas menolak segala bentuk pembangunan yang dilakukan di atas pemukiman tersebut. Terlebih, terdapat hutan larangan yang menurutnya titipan dari para sesepuh.

“Secara pribadi saya tidak setuju dengan proyek di atas (Perumahan Griya Asri Cireundeu). Kita kan dititipi hutan dan segala yang ada dalam hutan tersebut. Seumpama hutan rusak, ke depanpun akan rusak segala-galanya,” ujar Jajat saat ditemui di salah satu saung di Kampung Adat Cireundeu, Rabu (3/4/2019) sore.

Baca juga: Keluh Kesah Lurah Jatiendah Soal Kritisnya Kawasan Bandung Utara dan Peran Pemerintah

Dia mengatakan, sesepuh kampung adat sudah turun temurun mengamanatkan agar menjaga hutan titipan sampai hutan larangan yang ada di beberapa gunung di atas Kampung Adat Cirendeu. Jika hutan-hutan tersebut dirusak, dia meyakini, akan berdampak buruk pada kehidupan manusia.

“Ada amanat dari para sesepuh, siapa yang berani merusak hutan kabuyutan, silahkan tunggu kerusakannya,” ucap Jajat.

Menurutnya, jika proyek tersebut diteruskan, selain berdampak pada alam, juga berdampak pada konflik sosial yang akan terjadi kelak.

“Katakan saja nanti akan dibangun rumah 400 unit. Serumah ada 3 orang. Berarti ada 1200 orang di atas (perumahan). Kebutuhan airnya segimana? Itu pasti berdampak buruk pada wilayah yang dekat dengan proyek yakni kampung adat ini,” paparnya.

Jajat mengatakan, penggundulan hutan dan hadirnya alat berat akan mengusik ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Cimahi. Terlebih, wilayah selatan Kota Cimahi minim RTH dan di dominasi oleh industri.

Baca juga: Mantan Kapolsek yang Sempat Sebut Polisi Tak Netral Dijadwalkan Diperiksa Bawaslu Garut Hari Ini

“Alam pasti rusak. Cimahi kan kekurangan RTH. Cuma sekitar sebelas koma sekian persen. Dikurangi lagi karena adanya proyek ini. Tambah ngurangan,” katanya.

Menurut Jajat, lokasi pembangunan yang berada di hutan Gunung Gajah Langu adalah paru paru kota Cimahi. Seharusnya tidak ada lagi pembangunan yang menggunduli hutan. Apalagi lagi hutan adat.***(Bagus Fallensky/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Komentar