oleh

Cerita Abrurrohim, Kakek yang Menempuh Jarak Padalarang-Cimahi untuk Berjualan Cobek

BandungKita.id, BANDUNG – Dari kejauhan ia tampak berjalan tergopoh-gopoh, di bawah teriknya sinar matahari pria renta itu terus meniti langkah demi langkah untuk mencari rupiah. Pemandangan itu terjadi di Jalan Penembakan Utara, Nomor 9, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

Dialah Abdurrohim, seorang pria berusia 70 tahun yang terpaksa menghabiskan hari tuanya dengan berjualan cobek, atau dalam bahasa Sunda biasa disebut coet. Bagi banyak orang, perkakas rumah tangga ini cukup akrab didengar, lantaran sangat sering digunakan
terutama sebagai wadah penumbuk bumbu.

Pria berusia lebih dari setengah abad ini harus memikul beban sekitar 5 kilogram perhari. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya demi mencari nafkah untuk keluarga yang menunggunya dirumah.

Pedagang Cobek, Abdurrohim (70) saat berjualan di kawasan Jalan Penembakan Utara, Nomor 9, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

“Dulu abah bikin coet sendiri terus dijual berkeliling, tapi sekarang mah sudah tua, nyandakna tos kurang tanaga,” kata Abdurrohim saat ditemui BandungKita, beberapa waktu lalu.

30 tahun sudah Abdurrohim menelan panasnya matahari, dan beratnya beban yang ia pikul, serta jauhnya jarak tempuh dari rumahnya menuju wilayah dimana ia berkeliling menjajakan dagangan.

BACA JUGA:

 

FEATURE : Belajar Toleransi Beragama dari Kisah Soleh, Pria Muslim yang Sudah 20 Tahun Bekerja Sebagai Penjaga Vihara

 

 

Setiap hari, Abdurrohim perlu menempuh jarak sekita 7,3 kilo meter dari rumahnya di Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang sebelum akhirnya tiba di derah Cimahi dan mulai berjulan.

“Kalau berangkat mah emang biasa naik angkot dari rumah, terus sampai sini keliling dan berjualan sepanjang jalur pulang menuju rumah lagi,” lanjut Abdurrohim.

Pedagang Cobek, Abdurrohim (70) saat berjualan di kawasan Jalan Penembakan Utara, Nomor 9, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

Setiap hari, ayah 4 anak ini memikul barang dagangannya dengan sebatang bambu yang dipasang tambang khusus agar coet bisa tersimpan dengan aman. Hari itu, Abdurrohim mengenakan kemeja berwarna biru dibalut jaket rajut berwarna coklat.

Dengan mengenakan celana panjang digulung semata kaki, dan sepatu hitamnya Abdurrohim biasa menjual cobek dengan harga Rp 30-50 ribu, cobek berbahan batu asli Citatah itu memang tak selalu ludes terjual.

“Kadang habis kadang enggak teu tangtos tergantung milik kadang payu 3 kadang 4,” tutur Abdurrohim.

Kulitnya yang mulai keriput kecoklatan, ditambah rambutnya yang mulai memutih namun tetap berjualan, cukup menjadi tanda bahwa ia adalah bapak yang gigih menafkahi keluarganya. Menyerah pada keadaan bukanlah pilihan bijak bagi pria tangguh serupa Abdurrohim.

“Anak saya ada, dia juga kerja tapi ya gimana (penghasilan) buat dirinya sendiri aja ga cukup, istri saya sudah 70 tahun, jadi ya terpaksa we (berjualan coet) sakuatna,” terangnya sambil tersenyum. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Komentar