by

FEATURE : Belajar Toleransi Beragama dari Kisah Soleh, Pria Muslim yang Sudah 20 Tahun Bekerja Sebagai Penjaga Vihara

BandungKita.id, BANDUNG – Saat dihampiri BandungKita.id, pria itu tangan kanannya kokoh memegang gunting. Tangan kirinya menenteng ember bekas wadah cat. Matanya sigap mengamati sumbu lilin mana yang kiranya sudah cukup waktu untuk dipotong.

Itulah aktivitas yang dilakukan seorang pemuda asal CIlilin Kabupaten Bandung Barat yang bekerja sebagai penjaga Vihara, tempat ibadah agama Budha saat ditemui BandungKita.id, beberpa waktu lalu.

Ia terlihat sangat siap siaga menjaga agar nyala lilin imlek di Vihara Dharma Ramsi, Jalan Cibadak, Gang Ibu Aisyah No. 18/9A, Cibadak, Astanaanyar, Kota Bandung tetap menyala maksimal. Sebelum sempat bekenalan, BandungKita.id menghampirinya dan bertanya heran, ‘untuk apa ia potong sumbu-sumbu lilin itu’.

“Ini dipotong ujung sumbunya aja, kalau enggak dipotong nanti apinya mati,” kata pemuda itu sambil menatap penuh selidik.

Seraya berusaha mengakrabkan diri, percakapan pun dilanjutkan dengan bertanya banyak hal, mulai dari tempat asal, nama, jumlah anak, hingga berapa gaji sebulan.

“Saya Solehudin, saya dari Cililin,” ujar pria itu meski tanpa menjabat tangan.

Mendengar nama itu, satu hal yang membuat tertarik berbincang lebih dalam adalah soal keyakinannya.

BACA JUGA ;

Primata di Curug Cimahi Makan Sampah, Profauna: Pengelola Tidak Paham Animal Welfare

Wakil Wali Kota Bandung Tinjau Langsung Kerusakan GBLA

Berbagai pertanyaan pun mulai muncul, bahkan yang sangat pribadi sekalipun. Apa rasanya menjadi Solehudin, dengan nama yang sangat Islami, mengapa memilih bekerja di tempat sekarang.

“Meski saya seorang muslim, saya sudah 20 tahun bekerja menyediakan fasilitas ibadahnya orang yang agamanya beda dengan saya. Saya kira itu bukan persoalan, toh kita saling menghormati,” ujar Solehudin dengan nada bicara pelan, lantaran takut mengganggu kekhusyuan para tamu yang tengah beribadah.

“Ya alhamdulillah saya nyaman dengan pekerjaan ini dan hidup tenang. Yang penting bagi saya ini halal karena dari keringat sendiri,” sambung bapak tiga anak tersebut.

Tanpa terasa pecakapan bersama Soleh mulai mengalir. Ia bercerita, bekerja di Vihara memang dirasa santai saat hari-hari biasa, namun jika kegiatan seperti imlek, kesibukan Soleh, sapaan akrabnya cukup bertambah.

“Tapi alhamdulilah suka dapat rezeki tambahan juga hehe,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Sesaat sebelum percakapan sampai di sana, seorang pria paruh baya yang tampaknya tidak dikenal Soleh, memberinya sepucuk amplop merah.

“Ya itu tadi angpao,” lanjut Soleh, sambil kembali tersenyum.

Bagi Soleh, rezeki yang didapat dari keringat sendiri adalah halal selama tidak merugikan orang lain.

Meski Soleh hanya bekerja di Vihara tat kala ada panggilan saja, namun diakuinya ia dapat penghasilan yang lumayan mencukupi.

“Yang penting kan kita bersyukur, kecil besarnya mah belakangan lah,” kata Soleh

Perbincangan masih terus berlanjut, bekerja menjaga Vihara diakui Soleh bukan perkara sulit, bahkan ia sama sekali tak mendapat stigma negatif baik dari tetangga, saudara bahkan keluarganya sakali pun.

“Selama ini keyakinan saya tetap tidak berubah, dan di sini pun tidak ada misalnya memaksa pindah keyakinan atau apa, kita di sini saling menghargai aja,” lanjutnya.

Sebagai seorang yang merasakan besarnya sikap toleransi secara langsung, Soleh merasa keheranan dengan banyaknya isu intoleransi di Indonesia.

Sepert diketahui, Isu intoleransi terus mencuat terutama kaitanya dengan kondisi politik di negara berkembang dengan 200 juta penduduk ini.

Dengan bekerja di Vihara, soleh semakin yakin bahwa nilai dasar kehidupan bernegara adalah menghargai perbedaan, terlepas dari kondisi poltik yang bagi Soleh tak ubahnya sekadar dagelan.

Meski Soleh bukan seorang politisi sekalipun, namun tampaknya ia lebih memahami menjadi warga negara yang bijak dalam perbedaan, yang idealnya sikap itu turut ditampikan para politisi dan para elit di negeri ini.

“Bagi saya, menjadi petugas Vihara bukan cuma pekerjaan, tapi bagaiamana caranya bisa memperlakukan orang sebaik mungkin meski ia berbeda, bahkan secara kepercayaan sekalipun,” kata Soleh. (Tito Rohmatullah)

Comment