oleh

Dapatkah Gempa Menjalar dan Saling Picu? Yuk Simak Penjelasan BMKG

BandungKita.id, NASIONAL – Rentetan gempa yang melanda berbagai daerah akhir-akhir ini memberi kesan seolah-olah bumi sedang gelisah. Tak sedikit pula masyarakat awam beranggapan bahwa gempa dapat menjalar ke mana-mana.

Pasca gempa Banten berkekuatan 6,9 SR pada 2 Agustus lalu, kini berkembang berita di media sosial bahwa gempa besar berkekuatan 9,0 SR akan terjadi dan mereaktivasi sesar Baribis.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menyebutkan dalam perkembangan ilmu kegempaan terdapat dua teori pemicu antar gempa.

Yaitu pemicu yang bersifat statis (permanen) dan pemicu yang bersifat dinamik (berpindah). Pemicu statis terjadi pada gempa yang sangat dekat lokasinya.

“Contoh munculnya gempa baru di Lombok bagian barat dan timur diduga akibat picuan statis dari gempa Lombok sebelumnya yang berkekuatan 7,0 SR, transfer tegangan statis ini berkurang secara terhadap jarak dan disebabkan perpindahan patahan yang permanen,” ujar Daryono dalam siaran persnya, Selasa (6/8/2019).

BACA JUGA:

Bahaya! 5 Makanan Ini Tidak Boleh Dimakan Sebelum Berolahraga

 

Ngopi Yuk! Ini 4 Manfaat Luar Biasa Minum Secangkir Kopi di Pagi Hari

 

Sementara pemicu dinmis berkaitan dengan gempa dekat dan jauh. Transfer tegangan dinamis nilainya lebih kecil, berkurang melambat terhadap jarak dan merupakan tegangan yang dibawa gelombang seismik melalui batuan.

“Karena nilai transfer tegangannya kecil, maka syarat utama yang dibutuhkan adalah patahan yang akan terpicu harus berada di titik paling kritisnya, sehingga sedikit saja “dicolek” oleh perubahan tegangan, patahan memicu gempa,” jelasnya.

Daryono mengatakan rentetan gempa yang terjadi akhir-akhir ini terjadi di zona sumber gempa. Hal tersebut dinilai wajar dan gempa yang terjadi hampir bersamaan hanyalah faktor kebetulan saja.

“Masing masing sumber gempa memiliki medan tegangan sendiri dan dapat mencapai akumulasi maksimum hampir bersamaan, sehinga mengalami pelepasan energi sendiri-sendiri yang hampir berbarengan,” ujarnya.

Yang terpenting, lanjut Daryono ialah bagaimana cara mengidentifikasi bencana yang telah terjadi.

“Sebuah pembelajaran untuk untuk perbaikan mitigasi, hingga kita mampu memperkecil risiko, menekan korban dan kerugian jika terjadi gempa kuat di kemudian hari,” pungkasnya. (Dian Aisyah/Bandungkita.id)

Sumber: BMKG

Komentar