by

Walikota Ajay M. Priatna Jelaskan Strategi Pemkot Cimahi Menekan Kasus Stunting

BandungKita.id, CIMAHI – Pemerintah Kota Cimahi terus berusaha menekan angka kasus stunting di Kota Cimahi. Pendekatan kesehatan perlu ditunjang dengan kebersihan lingkungan karena mempengaruhi kondisi tumbuh kembang anak.

Hal itu disampaikan Wali Kota Cimahi, Ajay M. Priatna usai membuka acara Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting, serta Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) tingkat Kelurahan Leuwigajah yang berlangsung di gedung Cimahi Technopark Jln. Baros, Jumat (28/8/2020).

“Prevalensi stunting di Indonesia adalah 37,2%. Sedangkan di Kota Cimahi, terdapat penurunan angka stunting selama tiga tahun terakhir,” ujarnya.

BACA JUGA :

Angka Stunting Kabupaten Bandung Turun Hingga 2.000 Kasus

Dodol Garut Daun Kelor Anti Stunting Made In Puskesmas Pasundan

Apa Itu Stunting? Simak Penjelasannya dalam Video ini!

Simak 6 Cara Dinkes KBB Cegah Stunting Pada Anak-anak, Ini Hasilnya

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis, sehingga anak lebih pendek untuk usianya.

Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Di Kota Cimahi, angka stunting pada balita tahun 2017 sebesar 15,74 %, menurun jadi 9,75 % di tahun 2018. Sementara untuk tahun 2019, angka stunting di Kota Cimahi menurun lagi menjadi 9,07 %.

Menurutnya, stunting pada balita memberikan dampak yang kurang menguntungkan, antara lain mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan gangguan lain.

Walikota menegaskan, penanganan tentang gizi dan kesehatan hanya berkontribusi 30 persen pada kasus stunting.

“Adapun 70 persen penyebab stunting terkait sanitasi, pola pengasuhan, ketersediaan dan keamanan pangan, pendidikan, kemiskinan, dam situasi politik,” terangnya.

Kejadian stunting dapat dicegah dengan mempersiapkan calon ibu agar cukup gizi pada saat hamil, memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI, pemberian pola makan, pola asuh, dan sanitasi yang baik kepada anak. (*)

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment