by

Sejarah Pemandian Cihampelas: Kolam Renang Pertama di Indonesia Peninggalan Belanda

BandungKita.id, SEJARAH – Sejak zaman penjajahan Belanda, kolam renang telah ada di Indonesia dan yang pertama dibangun ada di Bandung, Jawa Barat. Awalnya hanya kolam ikan sederhana yang dibangun pada 1904. Kolam renang Cihampelas itu terletak di sisi jalan kecil Tjihampelaslaan (Jalan Taman Hewan), yang menghubungkan Lembangweg (Jalan Cihampelas) dan Ghyselsweg (Jalan Tamansari).

“Kolam renang Tjihampelas adalah kolam renang tertua di Bandung. Kolam renang ini semula merupakan kolam ikan milik Ny. Homann, istri pemilik Hotel Savoy Homann, Tuan Homann,” tulis Sudarsono Katam Kartodiwirio dan ‎Lulus Abadi dalam Album Bandoeng Tempo Doeloe.

Sayangnya setelah berenang lebih dari seratus tahun, kolam renang Cihampelas akhirnya tenggelam. Setelah sempat terbengkalai, akhirnya kolam renang pertama di Indonesia itu dibongkar untuk dijadikan hotel pada tahun 2010 yang kini menjadi bagian dari komplek Apartemen The Jarrdin, Jl. Cihampelas Belakang No.10 Kota Bandung.

Penghancuran itu disayangkan sejumlah pihak di antaranya Irsan Sutedja, mantan atlet renang dan anggota Komisi Teknik Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) KONI Jawa Barat “Sejak tahun 1959, saya berlatih mengawali karier saya sebagai atlet renang di kolam Centrum dan Cihampelas itu,” kata Irsan.

BACA JUGA :

Berenang Yuk! Ini 3 Manfaat Luar Biasa Berenang yang Tak Dimiliki Olahraga Lain

Segarnya Mandi di Kolam Renang Tanpa Kaporit: Dibangun Dengan Semangat Cinta Pada Alam

Soal Kolam Renang Gubernur Jabar Seharga Rp 1,5 Miliar, Begini Penjelasan Ridwan Kamil

Pasalnya, pada 1950-an, kolam renang Cihampelas dan Centrum menjadi tempat berlatih atlet-atlet renang daerah dan nasional. Bahkan, renang menjadi olahraga pertama yang melakukan pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Bandung untuk menghadapi Olimpiade Roma 1960 dan Asian Games 1962 di Jakarta.

“Sistem pelatnas ini kemudian diikuti oleh cabang-cabang lain sebelum akhirnya Sukarno menyetujui pelatnas Asian Games dipusatkan di kota kembang tersebut,” tulis Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia.

Saat itu, M.F. Siregar ditunjuk sebagai pelatih kepala cabang olahraga air yang terdiri dari renang, polo air, dan loncat indah. “Sejak tahun 1950-an, Siregar punya

kebiasaan meninggalkan rumah pukul 04.30 pagi untuk melatih renang dan polo air di klub Tirta Merta maupun di pelatnas renang yang saat itu dilaksanakan di Bandung, dan di perkumpulan renang Tirta Taruna dan pelatnas di Jakarta,” tulis Brigitta dan Primastuti.

Dilansir dari Historia, tujuan awal kolam renang Cihampelas dibangun adalah untuk melayani tamu-tamu hotel. Pada masanya termasuk lengkap dengan tiga buah kolam berstandar internasional. Bahkan kolam renang Cihampelas sempat menjadi tempat berlatih orang-orang Belanda dan Eropa di Perkumpulan Berenang Bandung (Bandoengse Zwem Bond) yang berdiri pada 1917.

Lazimnya masa kolonial, kolam renang itu hanya diperuntukan bagi orang-orang Belanda dan Eropa. Plang larangan bagi pribumi sungguh menyakitkan, mantan Jaksa Agung Letjen TNI (Purn.) Soegih Arto menjadi saksinya pada masa kecil.

“Di kolam renang Centrum, jelas tidak mungkin bagi bocah pribumi seperti saya untuk berenang, karena tertulis dengan huruf besar VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDERS atau terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah DILARANG UNTUK ANJING DAN ORANG PRIBUMI. Begitulah derajat bangsa kita sewaktu dijajah Belanda, padahal ini sudah tahun 1940.” kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca.

“Saya masih ingat waktu di Bandung guru olahraga setengah mati mencari kolam renang untuk pelajaran berenang,” tambah Soegih kemudian.

Akhirnya para siswa diperbolehkan berenang di kolam renang Cihampelas berkat lobi seorang anggota Volksraad (Dewan Rakyat).

BACA JUGA :

Sejarah Asal Mula Nama Dago, Benarkah dari Kata “Dagoan”?

Sejarah Singkat Kota Bandung: Berawal di Karapyak, Lalu Cipaganti, Hingga Jalan Raya Pos

Sejarah Masjid Raya Bandung Jawa Barat, dari Bilik Bambu Hingga Dua Menara

“Alangkah gembiranya kami, karena naik derajat setingkat di bawah bule, sedikit di atas anjing. Asyik juga berenang dengan bule-bule, apalagi wanitanya yang berbadan putih padat. Sayang pada waktu itu belum ada bikini,” kata Soegih Arto.

Jenderal TNI (Purn.) A.H. Nasution juga punya pengalaman berenang di kolam renang Cihampelas. Saat itu, dia sedang mengikuti pendidikan militer CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren) di Bandung tahun 1940.

“Tiap akhir minggu kami berenang di Cihampelas. Saya belum pernah sebelumnya berenang di dalam kolam renang, apalagi dengan cara gaya tertentu. Saya berenang di sungai pada masa kecil, karena itu harus mulai lagi belajar dari awal,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda.

Menurut Sudarsono Katam dan ‎Lulus Abadi, selain kolam renang Cihampelas, kolam renang lain di Bandung adalah kolam renang Centrum (sekarang bernama kolam renang Tirta Merta), yang dibangun pada 1920 dengan gaya arsitektur modern tropis Indonesia, karya arsitek C.R. Wolff Schoemaker.

Letak kolam ini di Bilitonstraat (sekarang Jalan Belitung). Kolam renang lainnya berada di kompleks Dago Teehuise (Dago Tea House) dan di Cimindi cukup dikenal masyarakat Bandung, tetapi telah ditutup sejak akhir tahun 1950-an. (*).

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment