by

Rindu Mengajar Langsung, Guru SMPN 1 Cihampelas: Saya Rindu Canda Tawa, Cengkrama, dan Keriangan Anak-anak

BandungKita.id, KBB – Setahun lebih pandemi COVID-19 melanda dunia, termasuk di Indonesia. Hampir semua lini kehidupan lumpuh akibat dampak yang ditimbulkannya.

Upaya pemerintah untuk memutus rantai penularan COVID-19 terus digencarkan, salah satunya dengan menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Kebijakan tersebut membuat ruang gerak atau aktivitas masyarakat sangat terbatas. Selain itu, beragam permasalahan lain juga bermunculan.

Tak ayal, hal itu membuat masyarakat stress dan kebingungan lantaran banyaknya masyarakat yang tak bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya itu, sektor pendidikan juga menjadi salah satu yang paling terdampak. Pasalnya, baik guru dan siswa tak diizinkan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara langsung.

Baca Juga:

Jadwal SIM Keliling untuk Kota Bandung, Kamis 27 Mei 2021

Rashdul Qiblah! Yuk Cek Arah Kiblat Mulai Hari Ini dan Esok Hari

Simak! Manfaat Lain Mengonsumsi Kentang, Salah Satunya Bisa Menjaga Fungsi Saraf Loh

Pemerintah mengimbau agar kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara daring (online). Kendati diberi bantuan kuota data internet, kondisi dan keterbatasan yang dimiliki guru dan siswa semakin mempersulit hak mendapat ilmu dan pengajaran.

Selain siswa, para guru pun merasakan kerinduan untuk bertemu dan bercengkrama dengan anak-anak didiknya. Kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) yang rencananya akan segera dilakukan di bulan ini, sedikit membawa angin segar bagi para guru agar bisa memberikan bimbingan secara langsung kepada anak-anak didiknya.

Seperti yang dirasakan Dian Diana (45), salah seorang guru di SMP Negeri 1 Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengaku, dirinya sangat rindu dan ingin segera bertemu dengan para siswa. Mengajar secara langsung merupakan keinginan yang tertunda sejak setahun yang lalu.

“Banyak moment indah yang hilang yang membuat saya merasa tidak dapat mengajar dengan sempurna, tidak bisa memberikan yang terbaik untuk siswa,” katanya kepada wartawan, Kamis (27/5/2021)

“Apalagi sekolah tempat di mana saya hanya sekitar 60 persen siswa yang memiliki fasilitas untuk belajar secara daring, sehingga siswa lainnya mengumpulkan tugasnya langsung disimpan di meja guru dengan jadwal pengumpulan yang telah ditetapkan,” sambungnya.

Dian menyebut, pembelajaran tatap muka tak tergantikan dengan pembelajaran daring. Pasalnya, Pembangunan karakter pada anak-anak menjadi kesulitan tersendiri.

“Saya rindu canda tawa, cengkrama, dan keriangan anak-anak. Saya rindu ekspresi keingintahuan tentang apa yang mereka pelajari. Saya rindu mereka berkreasi dan berkolaborasi dengan teman-temannya. Saya rindu curhatan mereka. Saya merindukan hal-hal yang dulu ada, sebelum pandemi merajalela,” ungkapnya.

Dian melanjutkan, meski PTM merupakan hal yang diharapkan, ia mengaku tidak ingin bereoforia. Menurutnya, berdasarkan informasi dari berbagai sumber menyatakan, terjadi peningkatan angka penderita Covid-19.

“Upaya preventif yang dilakukan sebelum bertemu siswa saat PTM dibuka saya harus memastikan diri sudah divaksin Covid-19,” ujarnya.

Ia menilai, penerapan protokol kesehatan, seperti membatasi jumlah siswa di kelas sesuai anjuran dari Kemdikbud, disiplin menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah kemungkinan penularan.

“Selain itu, mewajibkan agar anak-anak selalu menggunakan masker, sering mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak aman, serta membawa peralatan makan dan makanan sendiri dari rumah,” paparnya.

Dian menuturkan, berdasarkan hasil diskusi secara online baik pada Learning Managemnet System (LMS) atau Media Sosial, anak-anak sangat menginginkan Pembelajaran Tatap Muka. Mereka selalu bertanya tentang kapan waktu untuk belajar secara langsung/bertatap muka.

“Pembelajaran daring yang dilakukan terus menerus membuat anak-anak merasa bosan dan jenuh dengan berbagai tugas yang diberikan dari berbagai mata pelajaran. Mereka kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Anak-anak ingin sekali segera melaksanakan PTM,” tuturnya.

Guna mengembalikan semangat belajar anak didiknya, Dian mengatakan, di pertemuan awal dirinya akan cenderung mencari tahu karakteristik siswa, mengenal lebih dalam dari curahahan hati mereka, karena selama setahun yang lalu nyaris tidak mengenal secara personal, tidak pernah belajar secara langsung/tatap muka.

“Saya ingin membuat mereka merasa nyaman dan aman saat PTM berlangsung, menghadirkan hal-hal yang menyenangkan,” ujarnya. (Agus SN/BandungKita.id) ***

Editor: Agus SN

Comment