Waspada Antraks, Jabar keluarkan Surat Edaran

JabarKita26081 Views

Bandungkita.id, JABARKITA – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat mengeluarkan surat edaran sebagai upaya mengantisipasi penyakit antraks pada hewan. Hal itu setelah ditemukan kasus antraks di Gunungkidul, Yogyakarta.

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner, DKPP Jabar, Supriyanto, pemantauan kesehatan hewan di Gunungkidul saat ini semakin diperketat. Upaya Jabar pun terus dilakukan dengan dikeluarkannya surat edaran sejak Jumat pekan lalu ke 27 kabupaten/kota.

“Kita sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) ke kabupaten kota untuk melakukan peningkatan kewaspadaan,” kata Supriyanto dikutip Senin (10/7/2023).

Diakuinya, kemungkinan kecil kasus antraks masuk wilayah Jabar sangat kecil. Namun Jabar tak ingin kecolongan seperti halnya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) beberapa waktu lalu yang menyerang hewan ternak terutama menjelang Iduladha.

Baca Juga:

Waspada Antraks, Jalur Distribusi Hewan di Jabar Diperketat

Simak! 6 Tips Simpel Untuk Tingkatkan Kekebalan Tubuh Anda

Inilah 5 Tips Tingkatkan Energi di Pagi Hari Menurut Para Ahli

“Jadi kemungkinan untuk masuk ke Jabar sangat kecil, kecuali melalui produk. Sekarang disana, (gunung kidul) sudah terjadi pengetatan hewan kecuali waktu kemarin kurban saja,” sahutnya

Dengan telah dikeluarkan surat edaran, Supriyanto menjelaskan, kabupaten dan kota harus lebih waspada dan meningkatkan semua upaya pada hewan pedaging khususnya, sapi, kambing, dan kerbau yang hendak dijual pada masyarakat.

“Jadi ini akan diwaspadai juga oleh kabupaten kota, terutama di 8 wilayah endemis di wilayah Jawa barat seperti salah satunya Bogor, Purwakarta, Subang, dan lain sebagainya,” katanya.

Upaya pencegahan lainnya juga telah dilakukan Pemprov Jabar untuk menghindari penyakit antraks. Seperti, pemberian vaksinasi yang telah dilakukan secara terus menerus di kabupaten dan kota.

Selain itu, penyakit Antraks itu pada dasarnya ditularkan karena hewan pedaging seperti kambing, domba, atau sapi, itu memakan rumput yang tempatnya dulu pernah dijadikan lokasi kasus antraks.

“Jadi ini bukan karena penularan dari hewan ke hewan. Tapi ini biasanya dari tanah penyebarannya,” tandasnya.