Bupati Jeje Hadapi Penurunan APBD 2026: Efisiensi dan Infrastruktur Tetap Jalan, Bappeda: Kita Coba!

Advertorial124736 Views


Bandung Barat — Di tengah gelombang penurunan dana transfer dari pemerintah pusat yang melanda seluruh Jawa Barat, Bupati Bandung Barat, Jeje, tampil lugas dan realistis dalam menyikapi dampaknya terhadap APBD daerahnya. Dalam rapat koordinasi bersama Gubernur Jawa Barat dan para kepala daerah lainnya, Jeje mengungkap bahwa Kabupaten Bandung Barat mengalami pemangkasan anggaran sebesar Rp300 miliar dari total APBD sebelumnya yang mencapai Rp3,4 triliun.

Video terkait

HADAPI PENURUNAN APBD 2026 | INI LANGKAH PEMPROV BERSAMA KABUPATEN – KOTA DI JABAR. Sumber LEMBUR PAKUAN CHANNEL

“Kalau untuk di Bandung Barat, dipotong Rp300 miliar dari APBD,” ujar Jeje saat diminta memaparkan kondisi fiskal daerahnya.

Meski menghadapi tekanan anggaran, Jeje menegaskan bahwa efisiensi akan menjadi kunci. Ia menyatakan kesiapan untuk memangkas belanja barang dan jasa, serta mengikuti langkah Pemprov Jawa Barat yang telah memotong anggaran listrik, air, perjalanan dinas, dan alat tulis kantor hingga 50 persen. Ketika Gubernur menantang, “Berani enggak kayak provinsi?” Jeje yang saat itu nampak didampingi oleh Sekda, Ade zakir dan Kepala Bappeda, Eriska menjawab, “Kita coba,” disambut ajakan tepuk tangan dari KDM ke peserta rapat saat itu.

Menarik, dirapat koordinasi penyesuaian APBD 2026, Bupati Bandung Barat Jeje kembali mengangkat isu proyek flyover Cimareme, membuktikan Bupati ini mendengar aspirasi kegelisahan kondisi macet yang seharusnya dilanjutkan menjadi prioritas pemerintah

Tak hanya proyek besar seperti rencana pembangunan jalan lingkar selatan yang didanai Pemprov dan Kota Baru Parahiyangan, Jeje juga menanggapi isu yang ramai dibicarakan warga, seperti Fly over Cimareme dan kondisi gorong-gorong di Pasar Lembang. Atas hal tersebut dengan mantap KDM memastikan bahwa penanganan sudah masuk dalam agenda Dinas PU dan akan segera ditindaklanjuti.

“Yang paling banyak diomongin netizen itu di Lembang, Pak” ujarnya menerangkan (sering terjadi banjir), dan KDM langsung dijawab “Yang di pasar itu, gorong-gorong. Sudah bagian kita. Siap. Hatur nuhun, Bapak,”.

Langkah-langkah ini mencerminkan kepemimpinan yang adaptif dan responsif. Di tengah keterbatasan, Bupati Jeje memilih jalur efisiensi tanpa mengorbankan pelayanan publik dan pembangunan. Ia menunjukkan bahwa krisis anggaran bukan alasan untuk berhenti bergerak, melainkan momentum untuk memperkuat solidaritas dan inovasi antar pemerintah daerah. (dhomz/BandungKita.id)


Comment