Acil bimbo: “Bangsa yang kehilangan sejarahnya akan kehilangan jati dirinya. Itu dilakukan Penjajah”
BANDUNGKITA.ID, BANDUNG – Penemuan artefak kuno di berbagai belahan dunia, termasuk situs Sanxingdui di Sichuan, China, hingga Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya. Budayawan Sunda almarhum Acil Bimbo (Sam Bimbo) dan mantan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan sama-sama menekankan bahwa bangsa yang mengenal leluhurnya akan tumbuh dengan karakter kuat dan tidak mudah kehilangan arah.
Sanxingdui di China memperlihatkan bagaimana ribuan artefak perunggu dan emas dari Zaman Perunggu dijadikan fondasi kebanggaan nasional. China berhasil mengintegrasikan penemuan itu ke dalam narasi sejarah resmi, sehingga hari ini berdiri kokoh sebagai negara maju dengan akar budaya yang kuat.
Indonesia sejatinya memiliki potensi serupa. Situs Gunung Padang, artefak obsidian di Bandung Raya, hingga temuan manusia purba Pawon adalah bukti peradaban panjang Nusantara. Namun, banyak warisan budaya masih belum digali serius dan bahkan terancam hilang akibat pembangunan bendungan, pemugaran yang menghilangkan keaslian, atau narasi pendidikan yang kurang menekankan sejarah lokal.
Almarhum Rd. Acil Darmawan Hardjakusumah yang lebih kita kenal dengan Aci Bimbo, pernah menegaskan bahwa seni dan budaya adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. “Bangsa yang kehilangan sejarahnya akan kehilangan jati dirinya. Warisan leluhur bukan untuk dibenamkan, melainkan untuk dijadikan cermin dan arah,” ujarnya dalam sebuah wawancara khusus di Bandungkita, yang kini menjadi pesan moral bagi generasi penerus.
VIDEO PILIHAN
Pesan tokoh yang juga penggagas lahirnya Media Bandungkita.id itu diperkuat oleh Anton Charlyan mantan Kapolda Jawa Barat yang kini aktif sebagai tokoh pelestari budaya Sunda. Ia baru saja menerima penghargaan kehormatan Sriraksa Kalpa Budaya dari Majlis Adat Budaya Keraton Nusantara (Madukara). “Pelestarian budaya Nusantara bukan sekadar menjaga benda atau tradisi, tetapi menjaga jati diri bangsa. Tanpa itu, kita akan tercerabut dari akar sejarah dan kehilangan arah,” tegas Anton.
Sejumlah budayawan lain seperti Budi dalton dan juga menegaskan pentingnya menjaga dan menggali artefak leluhur secara lebih serius. Menurut Budi Dalton, Sunda bukan hanya suku bangsa, melainkan pandangan hidup yang berakar pada nilai budaya. Pusaka kujang, misalnya, bukan sekadar senjata tradisional, tetapi lambang ajaran Sunda tentang asal-usul semesta.
Dalam kesempatan lain membahas soal filosofis Sunda, ia bahkan mendorong agar museum kujang di Jawa Barat tidak hanya menampilkan artefak, tetapi juga menjelaskan nilai filosofisnya.
“Artefak harus menjadi cermin kehidupan, bukan sekadar benda yang dipajang,” ujarnya.
Pandangan Budi Dalton sejalan dengan pesan almarhum Acil Bimbo dan tokoh budaya Anton Charliyan, yang menekankan bahwa bangsa yang mengenal leluhurnya akan tumbuh dengan karakter kuat.
Sepert penemuan situs Gunung Padang di Cianjur, yang disebut sebagai punden berundak terbesar di Asia Tenggara, serta temuan artefak obsidian, tembikar, dan manusia purba di kawasan Bandung Raya, menjadi bukti bahwa Jawa Barat memiliki akar peradaban panjang. Namun, banyak situs masih belum digali secara serius dan cenderung terpinggirkan dari narasi sejarah resmi.
Budayawan menilai, artefak leluhur bukan sekadar benda mati, melainkan simbol jati diri bangsa. “Ketika sebuah bangsa mengenal leluhurnya, ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri, solidaritas sosial, dan arah pembangunan yang berakar pada nilai budaya sendiri,” ujar salah satu akademisi dalam diskusi warisan budaya.
Perbandingan dengan Sanxingdui di Sichuan, China, menunjukkan bagaimana pengelolaan warisan arkeologi dapat menjadi modal kebangsaan. Penemuan ribuan artefak perunggu dan emas di Sanxingdui kini diintegrasikan ke dalam narasi sejarah China, memperkuat identitas nasional dan menjadi fondasi kebanggaan budaya. Hasilnya, China hari ini berdiri kokoh sebagai negara maju dengan akar sejarah yang kuat.
Di Indonesia, budayawan menyoroti bahwa warisan budaya sering kali justru dibenamkan baik melalui pembangunan infrastruktur seperti bendungan yang menenggelamkan situs, maupun pemugaran yang menghilangkan keaslian. Selain itu, narasi pendidikan yang terlalu mengikuti perubahan politik penguasa dan minim muatan lokal membuat generasi muda kurang mengenal leluhurnya sendiri.
“Artefak dan situs budaya harus menjadi bagian dari kurikulum, musik, dan makna kehidupan sehari-hari. Tanpa itu, kita kehilangan arah dan hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” tambah seorang pemerhati budaya lokal David Riksa Buana
Warisan budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi masa depan. Jika Indonesia mampu mengelola situs seperti Gunung Padang dengan visi kebangsaan, maka bangsa ini akan berdiri kokoh dengan identitas unik, sebagaimana China menjadikan Sanxingdui sebagai simbol peradaban maju terlebih Warisan budaya harus hadir dalam pendidikan, kesenian, dan kehidupan sehari-hari agar bangsa tidak tercerabut dari akarnya.
Pesan moral dari Alm.Acil Bimbo menjadi relevan hari ini, menjaga artefak dan warisan budaya bukan sekadar nostalgia, melainkan strategi membangun karakter bangsa. Jika Indonesia mampu menempatkan warisan leluhur sebagai fondasi kebangsaan, maka bangsa ini akan berdiri kokoh dengan identitas unik, sebagaimana China menjadikan Sanxingdui sebagai simbol peradaban maju. (Dhomz/BandungKita.id)





Comment