Di Balik Hari Anak Nasional: Metode Eyang Memet Ini Sukses Bikin Gen Z Sadar Lingkungan!

“Menanam Masa Depan: Kala Guntingan Kertas Menjelma Hutan Harapan di Tangan Kader Panatigiri”


BANDUNGKITA.ID – Di bawah langit biru yang membingkai area penanaman, suasana Hari Anak Nasional terasa berbeda saat itu. Bukan sekadar perayaan formal, tapi sebuah momen kaderisasi tak kasat mata yang terjalin erat antara sosok sepuh penuh kharisma, Eyang Memet, dan tunas-tunas muda dari berbagai sekolah.

Ini salah satu cerita saat mendapat undangan kekediaman tokoh lingkungan Jawa Barat ini, dan saat mendengarnya redaksi pilihkan sub judul tulisan Feature ini.. “Bukan di Kelas! Ternyata Begini Cara Unik Eyang Memet Tanamkan Karakter Lintas Generasi“.

Di balik tumpukan tanah merah dan bibit pohon yang siap tanam, ada cerita tentang penanaman karakter dan pengetahuan yang tak biasa, yang membuat air mata kebanggaan Eyang jatuh perlahan.



Hari itu, area penanaman riuh oleh suara anak-anak. Beberapa berjejer rapi dalam balutan seragam sekolah mereka sementara yang lain para anggota Pramuka dengan baret merah siap siaga mengawal bibit pohon.

Mereka adalah ‘peserta’ dari sebuah agenda besar: mengukir masa depan lingkungan.


Namun, kejutan terjadi saat Eyang Memet, dengan topi hitamnya yang khas, mengumpulkan mereka melingkar. Eyang tidak langsung memberikan ceramah panjang tentang ekologi. Sebaliknya, ia melontarkan satu pertanyaan sederhana yang membuka “pintu” pemikiran mereka.


“Anak-anakku, tahukah kalian… apa gunanya pohon buat kita?” tanya Eyang lembut.


Suasana hening sejenak. Anak-anak yang semula sibuk sendiri kini fokus. Eyang tidak meminta jawaban verbal. Sebagai gantinya, masing-masing anak diberikan secarik kertas hijau berbentuk guntingan daun daun kecil.


“Kalian tulis, satu kata saja, apa yang kalian tahu dari fungsi pohon. Setelah itu, tempel di sini,” kata Eyang, sambil menunjuk ke sebuah gambar “pohon” besar yang masih gundul dalam sebuah lembar karton hasil kreasi hasta karya mereka sendiri.


Satu per satu, anak-anak maju. Jari-jari mungil mereka sibuk menempel. Mereka menulis dengan jujur, dengan pengetahuan beragam yang mereka miliki.


“Oksigen,” tulis seorang anak laki-laki.
“Teduh,” tempel seorang gadis berkerudung putih.


“Rumah burung,” tambah yang lain.
“Air,” tulis anak pramuka baret merah
Ada yang menulis “Hutan”, “Segar”, bahkan “Makanan”.


Perlahan tapi pasti, hasta karya “pohon” yang semula gundul itu mulai rindang. Setiap guntingan daun adalah bukti pengetahuan dan karakter yang mulai tumbuh dalam diri mereka. Ini bukan hanya tentang biologi, tetapi tentang kepekaan nurani terhadap lingkungan sebuah bentuk character building versi Panatigiri Eyang Memet yang menekankan pada keterlibatan dan empati.


Di sudut antara pohon, Eyang Memet berdiri terdiam, mengamati “pohon harapan” itu yang kini penuh warna. Matanya yang tajam tampak berkaca-kaca. Ada rasa reu’eus (bangga) yang mendalam sekaligus haru yang tak terbendung.


“Ternyata mereka tahu. Mereka peduli. Ini bukan cuma nanam pohon di tanah, tapi nanam cinta di hati,” bisik Eyang, pelan.


Momen itulah kaderisasi sejati terjadi. Bukan dengan paksaan, melainkan melalui inspirasi. Anak-anak itu, yang tadi sibuk nanam pohon bersama kini membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman. Mereka membawa kenang-kenangan berharga sebuah pemahaman bahwa mereka adalah bagian dari penjaga bumi, dan Eyang Memet telah mempercayakan tongkat estafet itu kepada mereka.


Hari Anak Nasional bagi Eyang memet disana, tidak berakhir saat bibit pohon terakhir ditanam. Ia baru saja dimulai dari setiap hati anak yang menempelkan daun kertasnya. Lintas generasi telah berbicara, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan yang tulus. Dan bagi Eyang Memet, “pohon” hasta karya itu kini menjadi saksi, bahwa kader-kader muda Panatigiri siap tumbuh kuat, sekuat akar pohon yang mereka tanam.


Semoga naskah ini bisa mewakili peristiwa saat itu, dimana Panatagiri memiliki kesadaran tentang pentingnya kaderisasi dan menggugah hati pembaca Baraya Bangkit..Selamat Hari Anak Nasional 2026.

(Dhomz/BangKit)

Comment