Merawat Napas Bumi: Dedikasi Sunyi Eyang Memet Menjaga Rimba Parahyangan

BandungKita.id, SOSOK – Rambut putihnya yang dibiarkan memanjang berkibar perlahan disapu angin pegunungan yang sejuk di kawasan Gambung, Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Mengenakan totopong ikat kepala khas Sunda dan kemeja sederhana, sosok paruh baya itu tampak begitu menyatu dengan hamparan hijau di sekelilingnya.

Ia adalah Memet Ahmad Surahman, atau yang lebih karib disapa Eyang Memet. Bagi para pegiat lingkungan di Jawa Barat, namanya bukanlah sosok asing. Pria kelahiran Bandung, 29 November 1953 ini telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk tanah, air, dan pepohonan.

Dari Jemari Kecil hingga Podium Nasional

Ketertarikan Eyang Memet pada dunia hijau bukanlah sebuah tren sesaat. Sejak usianya baru menginjak 12 tahun, ia sudah jatuh cinta pada aktivitas menanam pohon. Lewat ketekunan yang konsisten dan “tangan dinginnya”, lahan demi lahan kritis di kawasan Bandung utara hingga Bandung selatan perlahan kembali bernapas.


Puncak pengakuan atas dedikasi sunyi ini terdokumentasikan manis pada 18 Agustus 2011.

Bertempat di Jakarta, Eyang Memet melangkah ke atas podium kehormatan untuk menerima penghargaan Wana Lestari (Terbaik I Nasional kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat) langsung dari Menteri Kehutanan saat itu, Zulkifli Hasan.

Apresiasi berskala nasional tersebut bukan akhir dari perjalanan, melainkan bahan bakar baru untuk terus berlari menyelamatkan lingkungan.

Membumikan Konservasi Lewat Kaderisasi

Bagi Eyang Memet, menanam pohon bukan sekadar melubangi tanah dan memasukkan bibit. Konservasi sejati adalah tentang membangun kesadaran manusia dan mempersiapkan generasi penerus.

Melalui wadah Yayasan Panata Giri Raharja, Eyang Memet aktif turun ke lapangan untuk melakukan edukasi. Dokumentasi perjalanannya memperlihatkan bagaimana ia tidak pernah lelah dikelilingi oleh anak-anak sekolah, mahasiswa, pramuka, hingga berbagai komunitas masyarakat sipil.

“Kami ingin konservasi menjadi gerakan kolektif, bukan sekadar kegiatan simbolik. Penting bagi kita untuk menitikberatkan pada aspek kaderisasi dan pemeliharaan jangka panjang agar apa yang kita tanam hari ini benar-benar menghidupi masa depan.”

VIDEO PILIHAN

Di sela-sela rimbunnya pepohonan, ia kerap terlihat jongkok bersama para pemuda, tangannya yang legam oleh tanah memegang saringan pupuk atau mencontohkan cara menanam bibit endemik dengan benar. Caranya menjelaskan begitu hidup, membuat hal-hal rumit tentang ekosistem terasa dekat di hati anak-anak muda.

Laboratorium Hidup di Blok Malaberes

Salah satu mahakarya nyata dari konsistensi Eyang Memet saat ini adalah pengembangan kawasan konservasi keanekaragaman hayati di Blok Malaberes, kawasan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung. Tempat ini disulap menjadi laboratorium hidup untuk mengumpulkan dan melestarikan tanaman-tanaman endemik Jawa Barat yang mulai langka.

Hingga saat ini, area konservasi yang dikelola bersama berbagai elemen masyarakat tersebut terus meluas demi menjaga daerah aliran sungai (DAS) dan memitigasi bencana alam di cekungan Bandung.

Di tengah ancaman alih fungsi lahan dan perubahan iklim global, kehadiran figur seperti Eyang Memet adalah pengingat penting: bahwa bumi tidak butuh banyak janji atau seremoni, melainkan sepasang tangan yang rela kotor demi kehidupan yang berkelanjutan.

Tonton visualisasi perjuangan pelestarian tanaman langka ini melalui Laboratorium Hidup Tanaman Endemik Eyang Memet, yang merangkum dedikasi nyata beliau dalam membangun laboratorium keanekaragaman hayati di Blok Malaberes, Gambung.
(Joe/BandungKita.id)

Comment