Setelah Raih Upakarti, Cililin Kembali Raih Piagam, Warga: “Alhamdulilah, Tapi Tugunya Little Madinah?”

Sosok13458 Views

Upakarti bukan sekadar penghargaan masa lalu, melainkan spirit turun-temurun yang harus diimplementasikan dalam kebijakan nyata

BandungKita.id, Bandung Barat – Cililin kembali menorehkan prestasi melalui pengahargaan kategori sejarah budaya. Setelah pada era Presiden Soeharto, di tahun Hj. Siti Romlah menerima Penghargaan Upakarti atas kiprahnya menjaga tradisi melalui kudapan, yaitu wajit, kini daerah yang dikenal sebagai tanah kelahiran Wajit itu kembali mendapatkan piagam penghargaan dari Kementerian Pariwisata.

Hal ini disampaikan oleh Hernandi, Kepala Bidang Budaya Disparbud KBB, dalam wawancara bersama Bandungkita.id, Minggu (23/11/2025).

Wajit Cililin adalah salah satu makanan tradisional khas Sunda yang telah menjadi simbol kuliner daerah sejak zaman nenek moyang. Kini, Kementerian Pariwisata kembali memberikan piagam penghargaan sebagai bentuk pengakuan atas nilai budaya dan tradisi yang melekat pada wajit,” ujar Hernandi.

VIDEO PILIHAN

Wajit: Warisan Budaya Tak Benda

Menurut Hernandi, wajit bukan sekadar jajanan manis legit, tetapi juga bagian dari warisan budaya tak benda yang diakui dalam UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

  • Wajit masuk kategori tradisi lisan dan pengetahuan tradisional, karena proses pembuatannya dahulu disertai doa dan jangjawokan yang berisi tata aturan teknis pembuatan.
  • “Itu bukan sekadar mantra, tapi SOP tradisional yang diwariskan turun-temurun,” jelas Hernandi.

Sementara Menurut Hernandi, penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari tujuan besar Upakarti:

VIDEO PILIHAN

Hj. Siti Romlah: Perintis Industri Wajit


Hj. Siti Romlah, yang lahir dengan nama Irah pada tahun 1916, adalah sosok legendaris Cililin. Ia menjadi peraih Penghargaan Upakarti dari pemerintah atas jasanya sebagai perintis industri wajit dan pembina pengrajin wajit.

Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam mengembangkan industri kecil dan menengah di Indonesia. Dari tahun 1980 hingga 1993, Hj. Siti Romlah berperan penting dalam membangun industri wajit di Cililin. Ia mengajarkan teknik pembuatan wajit berkualitas tinggi kepada para pengrajin, sekaligus mempromosikan wajit sebagai produk unggulan daerah.

Upakarti dibeberapa daerah digunakan sebagai simbol kebanggaan sehingga prosesinya pun kini menjadi sorotan.

Kekecewaan Warga

Namun, di balik penghargaan yang kembali diterima, warga Cililin menyuarakan kekecewaan.

Yeyep Mulyadi dari Forkom Bandung Barat menilai pemerintah daerah belum maksimal memanfaatkan momentum dukungan pusat:

“Sampai hari ini pemerintah daerah belum mampu menerima booster (energy/red) dari pemerintah pusat melalui penghargaan dan fakta sejarah yang sudah tertulis dan diberitakan” ungkapnya dalam sebuah diskusi belum lama ini.

Menurutnya, Kekecewaan warga muncul karena kecenderungan selalu jadi politis, sehingga rencana pembangunan fisik dan peningkatan Sumberdaya manusianya tidak dinilai masih belum serius.

Terminal Cililin yang sempat terbengkalai kini direncanakan menjadi simpul transportasi perdesaan.

“Lihat saja keberpihakan itu melalui Rencana pembangunan dan karakter daerah, masih Action Shadow, malah terkesan tidak prioritas, entah karen tidak mengenal daerah dimana mereka menjabat atau kurang bersosialisasi dengan masyarakat langsung, sehingga keterlibatan atau keinginan masyarakat yang dinilai partisipatif menjadi bukan aspirasi” tambahnya.

lebih tegas, Boy sapaan akrab asal cililin ini, tentang fakta rencana pembangunan pun dinilai gagal. Seperti halnya proyek Little Madinah yang hanya membaca Cililin sebatas kota santri, tanpa menyentuh esensi sejarah dan budaya yang lebih luas.

Spirit Turun-Temurun:
Testimoni dari kalangan masyarakat mengenai penghargaan ini mendapatkan beragam komentar, salah seorang pemuda asal Sumur Bandung Cililn, Izal, menurutnya Generasi ke-3 Hj. Siti Romlah, saat ini sedang menegaskan bahwa penghargaan Upakarti yang diraih neneknya dulu bukan sekadar piagam masa lalu, melainkan spirit yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga.

sumber photo istimewa

“Bagi keluarga almarhum H.Siti Romlah, itu (Penghargaan Upakarti/red) adalah warisan kesadaran.” ucapnya tegas dalam sebuah diskusi.

Bahkan menurut pria lulusan kepariwisataan ini, melihat tradisi itu dijaga dengan idealisme tinggi, “Kami yang tahu bagaimana generasi ke 2 dan 3 menjaga tidak hanya kualitas, tapi kedisiplinan,”

Salah satu menak dari 10 menak bandung yang mendapatkan penghargaan di era 80 an itu, menurut Rizal dengan tantangan saat ini,yang cukup komplek, “Kepentingan industrial Nya lebih tinggi,! selera pasar yang cenderung belum memisahkan mana asli dan kualitas ke dua. lebih bersaing denga selera yang belum cukup teredukasi, dari nilai sejarah dan budayanya” bebernya seraya mencicipi kudapan yang dimaksud.

Izal pun menitip beratkan soal tanggung jawab moral semua pihak terlebih pemerintah. “Spirit itu harus dihidupkan kembali oleh pemerintah dan masyarakat, agar penghargaan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi gerakan nyata,” ujarnya.

“Kami berharap penghargaan ini tidak berhenti di piagam. Cililin layak memiliki monumen sebagai simbol kebanggaan, berdiri sejajar dengan tank baja yang menandai lahirnya Pangdam Siliwangi dari tanah ini (Cililin)” pungkasnya

ARTIKEL PILIHAN

Revitalisasi Terminal Cililin Didorong untuk Transportasi Perdesaan

Polemik Terminal Cililin, Dishub KBB Dituding Serobot Lahan Milik Desa

Wow! Natasya Arimbi, Siswa SMAN 1 Cililin KBB Juara Pidato di Busan Korea Selatan

Warga lainnya, Andri mensyukuri raihan penghargaan yang didapat Kabupaten Bandung Barat tersebut, pria asal kampung Nunuk itu juga menyampaikan tentang pentingnya menjaga kesadaran melalui rencana pembangunan simbol yang tepat.

“Alhamdulilah atuh, bangga setidaknya sejarah bagian itu yang bisa dibanggakan,’ Ucapnya sambil tersenyum saat ditemui di daerah dermaga Cililin, Saptu 22/11/25.

“Bicara Tujuan Upakarti harus diterjemahkan ke dalam gerakan nyata dan simbol publik. Pemerintah wajib menjadikan penghargaan sebagai pemicu kebijakan berkelanjutan, sementara masyarakat harus menjaga kesadaran melalui partisipasi aktif. Jika tidak, penghargaan hanya akan menjadi seremoni politis, dan kebanggaan Cililin perlahan terkikis” ucap Andri yang juga aktif sebagai pelatih Paskibra itu.saat ditemui di daerah dermaga Cililin, Saptu 22/11/25.

ARTIKEL PILIHAN

Heboh! Bayi Kembar Kelahiran Cililin Bandung Barat Ini Dinamai Prabowo-Sandiaga, Ini Alasan Sang Ayah Pilih Nama Tersebut

Batulayang, Umbul yang Direbus Sejarah: Saatnya Warga Bandung Barat Merebut Kedaulatan Naratif

Usulan Nama Batulayang Menguat, Kang Dedi Siap Bantu Rebranding Bandung Barat

Artikel kali ini terasa spesial karena dinilai cukup emosional, karena Cililin bagian dari tanah kelahiran Penulis. Eksklusif, sudut pandang generasi ke-3 penerus Kalpataru, yakni Deden, cucu Hj. Siti Romlah. Narasi ini menekankan spirit keluarga yang diwariskan turun-temurun, sekaligus latar belakang Deden sebagai prajurit TNI aktif di kesatuan Polisi Militer (PM) Sumatra Barat.

Statement Salahsatu Generasi ke-3 Peraih Upakarti: Deden, Penerus Spirit Hj. Siti Romlah

“Spirit yang diraih nenek saya, Hj. Siti Romlah, bukan sekadar penghargaan pribadi. Itu adalah warisan kesadaran yang ditanamkan turun-temurun dalam keluarga kami. Sejak dulu, kami diajarkan bahwa menjaga lingkungan, budaya, dan tradisi bukan hanya tugas adat, tetapi juga tanggung jawab moral bagi bangsa.”

Deden menegaskan bahwa latar belakangnya sebagai TNI aktif di kesatuan Polisi Militer Sumatra Barat memperkuat komitmen tersebut.

“Sebagai prajurit, saya terbiasa dengan disiplin dan aturan. Tapi spirit yang diwariskan keluarga kami lebih dari itu: bagaimana menjadikan disiplin sebagai gerakan kolektif untuk melindungi warisan budaya dan lingkungan. Kalpataru adalah simbol yang harus dihidupkan, bukan sekadar piagam yang dipajang.”

Dorongan untuk Pemangku Kebijakan

Deden menyampaikan harapannya agar para pemangku kebijakan di daerah tidak berhenti pada seremoni penghargaan:

“Cililin sudah melahirkan banyak tokoh besar, dari Hj. Siti Romlah hingga Pangdam Siliwangi. Capaian mereka harus diimplementasikan, bukan hanya dikenang. Pemerintah daerah wajib menjadikan penghargaan sebagai pijakan kebijakan nyata: membangun monumen, menghidupkan gerakan budaya, dan membuka ruang inovasi masyarakat.”

CATATAN REDAKSI

Setiap penghargaan Upakarti atau piagam budaya harus ditindaklanjuti dengan program pembangunan berkelanjutan (contoh: monumen, pusat edukasi, festival budaya).

Jangan berhenti di seremoni; harus ada legacy project yang bisa dirasakan masyarakat.

KOREKSI penamaan lapangan Upakarti oleh Bupati Bandung HU Djatipermana (29/22/25)

(Dona Hermawan/BandungKita.id)

Comment