Di Balik Proyek Strategis Jabar Hari Ini:Ada Batu Pertama Yang Ditanam Aher

Feature

Menjelajah Fondasi Sunyi Menjejak Legasi Pembangunan Era Ahmad Heryawan di Tanah Pasundan

BANDUNG, Bandungkita.id — Riuk dinamika pembangunan Jawa Barat hari ini kerap meluncur di atas mulusnya aspal yang kita lewati setiap hari. Dari deru kendaraan yang meliuk ringkas menembus kemacetan menuju Garut, Tasik hingga menyambungkan jalan intersection jalur alternatif wisata selatan, pembanguna infrastruktur yang kemudian menjadi project nasional hingga decak kagum wisatawan saat menyisir bentangan tebing dan samudra di pesisir Sukabumi, ada jejak keputusan politik-anggaran masa lalu yang melandasinya.


Di balik kemegahan proyek-proyek strategis yang kini dinikmati publik, ada satu periode penting yang kerap bekerja dalam sunyi namun berdampak sistemik: satu dekade kepemimpinan Gubernur Ahmad Heryawan (Aher) periode 2008–2018.

Ahmad Heyawan Bersama Dedi mulyadi, Bey dan Para anggota Dprd Jabar saat peresmian PSEL Legok nangka, Fabu 29 juli 2026.


Membaca ulang legasi Aher bukan sekadar perkara nostalgia politik. Bagi publik Jawa Barat, ini adalah refleksi kritis tentang bagaimana fondasi infrastruktur masa lalu menjadi penopang utama daya saing daerah hari ini.

1. Keberanian Menembus Titik Jenuh: Dari Kadungora Hingga Sabuk Pesisir

Siapa pun yang sering melintas menuju Garut tentu paham betapa melelahkannya jebakan kemacetan klasik di kawasan Kadungora dan Leles.

Waduk Jatigede (Sumedang)
Penggenangan Waduk Jatigede direalisasikan pada era Aher setelah tertunda puluhan tahun, menjadi bendungan terbesar kedua di Indonesia untuk pengairan dan keandalan air baku Jabar.(kompas
)

Di era Aher, skema pembukaan beberapa Jalur Alternatif Lingkar dieksekusi secara agresif. Pembukaan akses ini bukan cuma memotong bottleneck transportasi, melainkan mengalirkan kembali urat nadi ekonomi warga di kawasan tengah Jawa Barat.


Namun, cetak biru keberanian infrastruktur Aher mungkin paling kentara di wilayah selatan.

Lewat proyek Sabuk Geopark Ciletuh-Palabuhanratu (rute Loji – Puncak Darma – Palangpang), Pemprov Jabar saat itu mengalokasikan ratusan miliar APBD untuk membelah tebing dan menyusuri bibir pantai.


Langkah ini mulanya dipandang spekulatif oleh sebagian pihak. Namun sejarah mencatat: tanpa terbukanya akses jalan sepanjang belasan kilometer yang memanjakan mata dengan perpaduan Samudra Hindia dan bukit purba tersebut, kawasan Ciletuh tidak akan pernah lolos memenuhi kriteria ketat infrastruktur dasar UNESCO hingga akhirnya ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) pada 2018.

Aher tidak sekadar membangun jalan; ia sedang membukakan pintu peradaban pariwisata berkelas dunia bagi warga Sukabumi Selatan.

“Apabila lewat jalur ini, sebelah kanan kita bisa menikmati keindahan samudra, dan sebelah kiri hutan perbukitan yang hijau. Itulah Sabuk Geopark Ciletuh,” kenang Aher saat meninjau jalur Loji-Puncak Darma di penghujung 2017 silam.

2. Dapur Lelang Transparan dan Rekor Pekerjaan Spektakuler

Satu hal yang jarang tersorot di balik fisik bangunan yang megah adalah tata kelola di balik meja redaksi birokrasi. Dalam sebuah kesempatan wawancara khusus, Aher pernah menceritakan catatan rekor jumlah lelang pekerjaan fisik yang sangat spektakuler yang berhasil ditembus oleh Pemprov Jabar di eranya.


Melalui akselerasi sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang bahkan sempat dianugerahi status National Centre of Excellence oleh LKPP, ribuan paket pekerjaan fisik bernilai triliunan rupiah digelontorkan secara simultan.


Prinsip transparansi lelang inilah yang membuat proyek-proyek raksasa mulai dari pembangunan ruang kelas baru (RKB) masif, penguatan jalan provinsi, hingga rintisan awal megaproyek TPPAS Legok Nangka dan BIJB Kertajati bisa berjalan tanpa terjebak kelumpuhan administrasi. Aher membuktikan bahwa keberanian membangun harus berbanding lurus dengan kerapian tata kelola anggaran.

3. Relevansi Bagi Jawa Barat Hari Ini

Melihat dinamika pembangunan Jabar hari ini, peran proyek era Aher kian terasa relevansinya:

  • Saling Kunci Infrastruktur Pusat dan Daerah: Banyak program konektivitas nasional hari ini yang sejatinya tinggal melanjutkan atau menyambung right-of-way (ROW) lahan dan trase jalan yang sudah dibebaskan serta dirintis sejak kepemimpinan Aher.
  • Keseimbangan Utara-Selatan: Ketimpangan ekonomi Jabar Selatan perlahan terkikis karena fondasi jalan pesisir yang dibangun bertahap sejak satu dekade lalu.
  • Pelajaran Tata Kelola: Keberhasilan mengeksekusi rekor paket lelang memberi pelajaran berharga bagi Pemprov Jabar saat ini: bahwa akselerasi pembangunan tidak boleh mengorbankan akuntabilitas hukum.

Kisah tersebut diungkap Suami dari Hj. Netty Prasetiyani, S.S., M.Si. yang juga Srikandi PKS, sebuah kesempatan berbincang tentan Fondasi pembangunan Jawa Barat.

Disebuah Caffe jl.pahlawan kota bandung belum lama ini, Ayah dari enam orang anak tersebut kepada Bandungkita.id secara eklusif mengupas alasan pernah membuat program Beasiswa untuk 1.000 Dokter, Bidan, Penyuluh pertanian dan banyak program lain.

Berbincang dengan Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI ini secara singkat kita bisa jadi melihat, bahwa legasi infrastruktur dan peningkatan sumber daya manusia oleh Ahmad Heryawan memberikan standar penting bagi kepemimpinan Jawa Barat di masa kini dan mendatang.


Pembangunan daerah sejatinya bukanlah panggung sirkus yang berganti gaya setiap kali berganti kepemimpinan. Pembangunan adalah estafet panjang. Proyek-proyek era Aher baik yang sudah tuntas maupun yang baru diresmikan belakangan ini seperti PSEL Legok Nangka membuktikan bahwa kemajuan suatu daerah ditentukan oleh seberapa kokoh pemimpin masa lalu meletakkan batu pertama, dan seberapa bijak pemimpin hari ini melanjurkannya tanpa menghilangkan rekam sejarahnya. (Dhomz/BandungKita.id)

“Estafet Pembangunan Jabar: Mengapa Cetak Biru Era Aher Masih Relevan Hari Ini?” Kita kupas di edisi selanjutnya

Comment