BANDUNG BARAT, BANDUNGKITA.ID — Langkah Bupati Bandung Barat, Jeje Govinda, meluncurkan kembali program kebanggaan masyarakat—yang dahulu akrab dikenal sebagai Saba Desa dan kini dikemas segar menjadi Sapoe Sadesa—patut mendapat apresiasi positif. Pendekatan turun langsung (blusukan) dua hari dalam seminggu ke desa-desa bukan sekadar gimik politik, melainkan cerminan komitmen untuk menyerap aspirasi warga secara intuitif, humanis, dan berkesadaran penuh akan potensi lokal.
VIDEO PILIHAN
Dalam kunker Sapoe Sadesa di Desa Kertamulia, Kecamatan Padalarang, Bupati Jeje tidak hanya mengecek kesiapan tata kelola kantor desa atau menyapa jajaran staf kelurahan, tetapi juga mencicipi potensi kuliner legendaris setempat. Salah satu momen menarik yang mencuri perhatian publik dalam unggahan media sosialnya adalah ketika sang Bupati menikmati Kupat Tahu Padalarang.
Namun, di balik kehangatan kuliner lokal yang dicicipi pimpinan daerah tersebut, terdapat lembaran fakta sejarah mendalam yang belum banyak tersingkap.
Jejak Peristiwa Bandung Lautan Api dan Resep Bertahan Hidup
Bagi masyarakat awam, Kupat Tahu Padalarang mungkin sekadar hidangan lontong dengan tahu goreng, tauge, serta siraman bumbu kacang atau kuah gurih. Padahal, keunikan isian dan karakter olahan Kupat Tahu Padalarang tidak terlepas dari era pergolakan perang kemerdekaan, khususnya pasca-peristiwa Bandung Lautan Api (1946).
Ketika para pejuang dan pengungsi dari pusat Kota Bandung bergerak mundur ke arah barat menuju Padalarang dan Ciranjang, mereka dihadapkan pada keterbatasan logistik pangan. Akses bahan baku segar seperti tauge berkualitas yang saat itu didatangkan dari wilayah Tasikmalaya mengalami hambatan total akibat blokade jalur pasokan.

Kondisi darurat perang memaksa para pembuat panganan lokal memutar otak. Penyesuaian resep, pemilihan variasi tahu lokal, hingga racikan kuah berbumbu kental disesuaikan agar tetap memberi nutrisi tinggi bagi para pejuang dengan bahan seadanya. Dari keterbatasan ruang dan logistik itulah lahir racikan khas Kupat Tahu Padalarang yang pembeda utamanya masih bertahan hingga hari ini.
Menghidupkan Budaya Lokal Lewat Kepemimpinan Grounded
Fenomena sejarah seperti ini serupa dengan perjalanan legendaris Wajit Cililin yang berhasil meraih penghargaan pretisius Upakarti dari pemerintah pusat berkat nilai tradisi dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Potensi kekayaan narasi kuliner lokal inilah yang menjadi modal penting dalam setiap giat Sapoe Sadesa.
Inisiatif Bupati Jeje untuk rutin mendatangi akar rumput dengan gaya kepemimpinan yang light, santun, dan terbuka diharapkan tidak berhenti pada dokumentasi visual semata. Dengan menggali fakta-fakta sejarah di balik aset budaya lokal, program Sapoe Sadesa berpeluang besar menjelma sebagai ruang penguatan identitas daerah serta penggerak roda ekonomi kreatif masyarakat Bandung Barat secara nyata.(Dhomz/BangKit)
Jangan lewtkan Artikel ini





Comment