Kisah Deni : 15 Tahun Jadi Andalan Disdik Garut Namun Hanya Digaji Rp 530 Ribu per Tiga Bulan, Ia Pilih Alih Profesi Jadi Mandor Perkebunan

BandungKita.id, Garut – Lima belas tahun lebih mengabdi sebagai guru honorer dan tenaga suka relawan (Sukwan) di Dinas Pendidikan Garut, dirasakan cukup oleh Deni Septiana Hidayat SP (33) untuk mengakhiri profesinya tersebut.

Selama hampir 16 tahun tak kunjung mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Garut, kini Deni akan disibukkan dengan profesi barunya sebagai mandor perkebunan kelapa sawit di Kota Pangkalan Buun, Kalimantan Tengah.

Pria murah senyum kelahiran Garut 6 September 1985 ini adalah satu dari ribuan guru honorer dan sukwan yang menunggu kepastian untuk diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Merasakan 15 tahun 6 bulan mengabdi di Dinas Pendidikan dengan menjadi operator ujian Sekolah Dasar (SD) tingkat Kabupaten Garut, namun belum ada sinyal perubahan status untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. Akhirnya Deni memilih bekerja di luar Jawa dengan memboyong istri dan kedua anaknya.

Selain menjadi operator, suami dari Bhakti Yustiana Mely Amd Keb ini pernah menjabat sebagai Koordinator Dinas Pendidikan Forum Honorer Kabupaten Garut, Koordinator Pengumpul Data di Komite Nasional Aparatur Sipil Negara (KNASN) DPD Kabupaten Garut, juga pernah mengajar di SMK Negeri 10 Garut selama dua tahun sebagai guru web design.

Selain itu ayah dari Kanaya Aquina Ramadhani dan Kaysha Almeira Septiana tersebut merupakan pemrakarsa berdirinya Garut Drone Comunitty (GDC) dengan jabatan Sekretaris sekaligus Pilot Divisi. Dengan komunitasnya ini, Deni kerap menyuguhkan panorama alam pemandangan Garut dari atas langit.

BACA JUGA :

“Karena hampir 16 tahun di Dinas Pendidikan tidak ada yang memperjuangkan nasib saya ke depannya, hanya Pak Kasi Bambang dan Pak Kabid Ade yang memahami kondisi Deni. Alhamdulillah, diterima menjadi mandor di Perkebunan Kelapa Sawit di Kota Pangkalan Buun, Kalimantan Tengah, bersama istri bekerja di Poli Bidan. Maafin bila selama ini saya suka becanda sama akang,” ujar Deni melalui telepon seluler saat ditanya alasan memilih menjadi petani di Kalimantan, Selasa (23/1/2019).

Pilihan yang berat memang, namun Deni bertekad untuk keluar dan berharap ada perubahan secara ekonomi. Gaji Sukwan yang diterimanya sebesar Rp 530 ribu per tiga bulan sampai kini belum bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Deni berharap ke depan nasib sukwan maupun guru honorer makin diperhatikan, sebisa mungkin dinaikkan statusnya menjadi ASN.

“Tenaga, pikiran, waktu dan seluruh karya dalam berbagai even sudah cukup saya persembahkan untuk Dinas Pendidikan. Di balik data siswa-siswi Se-Kabupaten Garut, agenda Disdik, pengolahan data, menjadi pemateri operator untuk 42 kecamatan, di sana ada nama saya. Bahkan sertifikat kinerja mulai dari Tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional pernah saya peroleh melebihi pegawai ASN. Namun selama itu pula saya hanya dihargai Rp 530 ribu per tiga bulan atau Rp 176 ribu per bulannya,” tutur Deni.

Demikian pentingnya kedudukan tugas dan tanggung jawab seorang Operator Pengolahan Data, namun Deni harus menelan pil pahit, harapan menjadi pegawai negeri hanya mimpi dan realisasi janji-janji yang pernah dikeluarkan pemerintah, tidak pernah terwujud.

Ia akhirnya meninggalkan kampung halaman demi perubahan nasib karena selama ini karya-karyanya tak dilirik Pemerintah Kabupaten Garut. (RUL/BandungKita.id)

Comment