by

Dinilai Tak Berizin dan Rusak Fasilitas Jalan, Warga Komplek Permata Cimahi Tolak Pembangunan Cluster Permata : Begini Ancaman Warga

BandungKita.id, NGAMPRAH – Warga Komplek Permata Cimahi, Kelurahan Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), keberatan dengan adanya pembangunan cluster perumahanan baru yang masih berada di komplek perumahan tersebut tepatnya di RT 01 RW 24 Kelurahan Tanimulya.

Warga menilai pembangunan Cluster Permata berdampak pada rusaknya fasilitas jalan, karena sering dilewati kendaraan bertonase besar. Selain itu, pengembang Komplek Permata Cimahi dinilai tidak pernah meminta izin dan membicarakan rencana pembangunan Cluster Permata itu bersama warga.

“Kami tidak pernah diajak bicara, yang diajak hanya orang-orang besar seperti RW, Lurah dan camat saja,” kata Ketua RT 01 RW 14, Kelurahan Tanimulya, Abdul Ghani saat ditemui Bandungkita.id, Kamis (22/11/2018).

Abdul merinci warga yang merasa keberatan setidaknya berasal dari warga terdekat yakni RT 09, RT 10, dan RT 11. Mereka menuntut agar pengembang Komplek Permata, merealisasikan dulu ruang terbuka hijau (RTH), daripada cluster baru.

Terkait akses jalan, penolakan warga bukan tanpa alasan, pasalnya menurut Abdul, selama ini masyarakatlah yang secara swadaya memperbaiki, dan merawat fasilitas jalan di Komplek Permata Cimahi.

“Ini kan belum diserahterimakan kepada Pemda KBB, jadi tiap bulan kami masih dikenakan kewajiban iuran perawatan jalan. Sekarang mereka (Pengembang) enak saja merusaknya,” katanya.

Abdul meminta Pemkab Bandung Barat dapat menghentikan proyek itu dan memberikan sanksi seberat-beratnya kepada pengembang. Jika belum ada langkah tegas, menurutnya dalam waktu dekat ini warga tidak akan segan-segan untuk menutup akses jalan ke lokasi pembangunan cluster baru tersebut.

“Saya yakin mereka belum punya izin. Kita saja para warga terdekat tidak pernah diajak bicara, tidak pernah dimintai izin. Jadi kami mohon Pemda bertindak tegas untuk menghentikan pembangunan,” pungkasnya.

Warga lainnya, Dona Hermawan mengamini hal yang sama. Menurutnya, lahan yang dipakai untuk cluster baru itu mestinya digunakan untuk RTH sesuai dengan site plan.

“Lahan tersebut harusnya dipakai ruang terbuka hijau, sesuai site plan awal. Tapi mengapa jadi rubah-rubah terus,” katanya

Dona meminta Pemda harus tegas terhadap pengembang. Pasalnya perubahan site plan di Komplek Permata bukan kali pertama. Ia mencontohkan hadirnya Pusat Perbelanjaan Borma dan fasilitas bagi pejalan kaki yang juga tak sesuai site plan.

“Dalam rancangan awal perumahan ini, tidak ada di sana dibangun Borma. Trotoar untuk pejalan kaki yang mestinya ada, sekarang tidak ada. Hal-hal itu dulu saya kira yang mesti benahi sebelum membangun cluster baru. Warga terus saja dibohongi,” jelasnya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pengendalian Penertiban Bangunan (P2B) Dinas PUPR KBB Yoga Rukma Gandara enggan memberikan jawaban. Beberapa kali dihubungi melalui ponselnya, telepon BandungKita.id di-reject. Dihubungi melalui pesan instan whatsApp pun demikian.

“Maaf saya lagi rapat dulu,” kata Yoga kepada Bandung Kita.id.

Kepala BPMPT KBB, Ade Zakir pun demikian. Beberapa kali dihubungi, ia tidak mengangkat telepon BandungKita.id. (RES/ZEN/BandungKita.id)

Comment