Tiga Unit Seismograf Gunung Papandayan Hilang, Petugas Tak Bisa Pantau Aktifitas Gunung

Garut, JabarKita1466 Views

BandungKita.id, GARUT – Petugas pos pantau Gunung Papandayan, saat ini tidak bisa melakukan pemantauan aktifitas salah satu gunung berapi di Garut secara maksimal. Hal tersebut dikarenakan tiga unit seismograf dan sejumlah perangkat lainnya yang berfungsi mencatat dan mengukur aktifitas kegempaan disana hilang.

“Semuanya ada empat unit dan yang dicuri tiga. Jadi sekarang untuk pemantauan kita mengandalkan satu unit seismograf yang tersisa dan pemantauan langsung secara kasat masa saja,” kata Momon, petugas pos pantau Gunung Papandayan, Selasa (19/3/2019).

Momon menyebut bahwa hilangnya seismograf tersebut sebetulnya terjadi sejak tahun 2016, tepatnya saat Gunung Papandayan dikelola oleh pihak swasta, PT AIL (alam indah lestari). Yang terakhir, perangkat tersebut hilang di awal tahun 2019.

Ia mengaku heran dengan hilangnya alat tersebut karena berdasarkan pengakuan PT AIL mereka melakukan pengawasan selama 24 jam penuh oleh puluhan petugas keamanan. “Seharusnya kalau diawasi 24 jam penuh ketahuan. Dulu pas masih dikelola BKSDA tidak pernah ada alat kita yang hilang,” katanya.

Kerugian akibat hilangnya alat deteksi sendiri, diungkapkan Momon mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini dikarenakan yang diambil belasan solar cell, accu, power, sensor lapangan, hingga transmiter.

Baca juga: Aliansi Save Garut, Gelar Aksi Tolak Penetapan CA Kamojang dan Papandayan Menjadi TWA

“Jadi ada tiga stasiun yang hilang yang berada di Walirang, Nangklak, dan Tegal Panjang. Sekarang tinggal satu stasiun aja, jadi kurang maksimal pemantauannya,” ungkapnya.

Momon mengaku bahwa pihaknya sudah melaporkan hilangnya alat tersebut kepada pihak kepolisian. Namun hingga saat ini belum terungkap siapa yang mencuri alat-alat tersebut.

Gunung Papandayan sendiri merupakan salah satu gunung berapi di Kabupaten Garut. Terakhir, Gunung Papandayan meletus di tahun 2002, dimulai pada tanggal 11 November terjadi peningkatan aktifitas vulkanis.

Erupsi yang besarnya sendiri terjadi di 13 – 20 November dan aktifitas menurun hingga tanggal 21 Desember.

Akibat dari erupsi ini terjadi longsoran pada dinding kawah Nangklak dan banjir disepanjang aliran sungai Cibeureum gede hingga ke sungai Cimanuk sejauh 7 km, merendam beberapa unit rumah dan menyebabkan erosi besar sepanjang alirannya. (M Nur el Badhi/Bandungkita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment