oleh

Kisah Mantan Teroris Asal Garut Sukses Bikin Koperasi, Kini Anggotanya Capai 200 Orang

BandungKita.id, GARUT – Nama Asep H Arsyad Alsadaad mungkin tidak begitu banyak orang tahu atau mengenal. Namun, siapa sangka warga Perum Nusa Indah, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Tarogong Kidul Garut ini, sudah berurusan dengan aparat penegak hukum sebanyak tiga kali, lantaran tersangkut kasus kekerasan dan terorisme.

Kini, Asep memutuskan hijrah untuk tidak lagi terlibat pelaku terorisme. Pria berusia 50 tahun itu berinisiatif untuk mengembangkan usaha di bidang produksi kopi, sabun cuci muka, sabun pembersih lantai atau karbol dari sereh wangi, dan cokelat bubuk.

Dirinya bersama 200 anggota para mantan teroris dan aktivis gerakan radikal lainnya, mendirikan wadah usaha yang dinamakan Koperasi Komunitas Mantan Narapidana Teroris dan Gerakan Aktivis Radikal (Kontantragis) yang didirikan di Bandung pada 28 Oktober 2017.

Baca juga:

Kisah Muhari, Kakek Penjual Bantal Keliling di Kota Bandung

 

Kali ini, usahanya terbilang berhasil setelah memperluas pasar dengan produk unggulan kopi, sabun, dan cokelat yang dipasarkan ke pesantren-pesantren di berbagai daerah.

Tingginya permintaan pasar tidak bisa terpenuhi lantaran masih adanya keterbatasan modal, sehingga Asep masih perlu dukungan modal. Menurutnya, untuk memproduksi Rp5 ribu bungkus kopi diperlukan modal hingga Rp60 juta.

“Koperasi sudah berjalan di Garut, Tasik dan Purwokerto. Masing-masing daerah punya ciri khas masing-masing. Kami berkumpul karena kita sama untuk kepentingan dan kemajuan bersama. Pemasaran sementara ini kami belum menemukan kesulitan, permintaan banyak. Saat ini (kemampuan produksi, red) 5000 bungkus kopi (180 gram per bungkus, red) jadi yang minta 10 ribu tidak bisa terpenuhi,” kata Asep H Arsyad Alsadaad usai menerima kunjungan dari Sekertaris Menteri Koperasi dan UKM, Rully Indrawan di Jalan Nusa Indah, Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (13/5/2019).

Baca juga:

Jaga Keamanan Saat Bulan Ramadan, Polres Garut Gelar Sahur on the Road

 

Koperasi Kontantragis terbentuk setelah pertemuan Asep H Arsyad Alsadaad yang juga sempat terjun langsung dalam konflik di Maluku dan Poso itu dengan Budi, korban pemboman Hotel JW Marriot, Jakarta.

Hasil pertemuan tersebut berbuah pada terbentuknya badan usaha koperasi yang dinamakan Koperasi Komunitas Mantan Narapidana Teroris dan Gerakan Aktivis Radikal (Kontantragis).

“Pesan kepada mantan napi, kami mengajak mereka untuk bergabung, agar kita berjuang sendiri. Merubah paradigma, tidak lagi dengan kekerasan atau pedang, tapi dengan usaha yang baik, memberikan contoh layaknya seorang muslim,” katanya.

Sementara itu, Sekertaris Menteri Koperasi dan UKM, Rully Indrawan, mengatakan, pemerintah pusat terus mendorong usaha kecil dan menengah untuk terus berkembang dan maju.

 

Asep H Arsyad Alsadaad (tengah) Ketua Koperasi Komunitas Mantan Narapidana Teroris dan Gerakan Aktivis Radikal (Kontantragis) berfoto bersama anggota lainnya.

 

“Sekarang konsep pemberdayaan, siapa yang mau bangkit berdaya kita bantu, kita mendampingi, karena inisiatif dari bawah. Jika butuh pelatihan kita bantu beri pelatihan, butuh ekspor kita bantu untuk ekspor,” kata Rully usai meninjau Koperasi Komunitas Mantan Narapidana Teroris dan Gerakan Aktivis Radikal (Kontantragis) di Kabupaten Garut.

Baca juga:

Jelang Musim Mudik, Polres Garut Temukan Sejumlah Ruas Jalan Masih Rusak dan Tanpa Penerangan

 

Tidak hanya itu, pemerintah pusat juga memberikan bantuan modal, pelatihan dalam pemasaran hingga penulisan hak kekayaan intelektual bagi para pengusaha kecil.

Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dan fase perkembangan usaha tersebut.

Rully pun menegaskan, upaya pemerintah pusat dalam mendorong koperasi dan usaha kecil menengah juga perlu didukung pemerintah di daerah.

Dewan Koperasi Indonesia (Dekopinda) Jawa Barat, Asep, mengatakan, pihaknya bersama Koperasi Kontantragis sedang mengupayakan lahan di Garut Selatan dan Tasik Selatan. Termasuk legal standing untuk bekerjasama dengan pihak lain.

“Kita bekerjasama di kelembagaan dan teknis bisnisnya. Bidang usaha yang dikembangkan barang-barang yang berbahan baku dari serehwangi, kopi dan kelapa. Untuk kopi dan gula aren kita olah dan padukan menjadi Kopi Kisantri, kemudian sabun ada sereh wangi kita ambil dari temen temen Kontantragis diolah dan dipasarkan oleh temen-temen Kontantragis,” pungkasnya.***(M Nur el Badhi)

Editor: Restu Sauqi

Komentar