oleh

Kisah Ayi, Tukang Sampah yang Tak Pusing Soal Baju Lebaran

BandungKita.id, BANDUNG – Merayakan idulfitri selalu berkaitan dengan ingar bingar belanja berbagai kebutuhan. Mulai dari baju baru, hingga bahan makanan untuk hidangan tamu. Namun tampaknya hal itu tidak berlaku bagi Ayi (51).

Menjadi buruh lepas pengangkut sampah tampaknya cukup sulit jika harus merayakan lebaran seperti orang kebanyakan. Bagi Ayi, merayakan lebaran cukup dengan silaturahmi bersama keluarga dan tetangga, hal itu jauh lebih nikmat dari hidangan opor ayam atau rendang.

Baca juga:

Kisah Daeng Mengais Rezeki Sambil Menularkan Semangat Seni Lukis

 

Pendapatan yang tak menentu, memaksa Ayi untuk menahan diri agar tak tergiur belanja baju baru menjelang lebaran. Jika banyak profesi lain mendambakan libur lebaran, justru bagi Ayi bekerja hingga satu hari sebelum lebaran adalah pejuangan paling realistis, agar ia bisa menghidupi diri dan anaknya.

“Engga usah belanja belanja, lebaran mah biasa aja,” kata pria asal Kecataman Cisarua, Kabupaten Sumedang.

Ditemui Kamis (30/5/2019) di sekitar jalan Gudang Utara Kota Bandung, Ayi setiap hari selalu mengambil sampah menggunakan gerobak.

Bersama buah hatinya yang paling bontot, Ayi mendorong gerobak sampah dari jam 06.00 WIB hingga menjelang maghrib. Rute yang dipakai sekitar jalan Jalan Veteran hingga Jalan Sunda, dan kembali ke tempat penampungan sampah di di Jalan Gudang Utara, sebelum akhirnya sampah tersebut diangkut truk.

Saat bekerja, Ayi terpaksa membawa anaknya yang masih duduk di bangku kelas 4 SD lantaran tak ada yang mengurusnya dirumah. Sang ibu harus wafat lebih dulu, sejak anak ayi masih berusia balita.

Baca juga:

Thiflah Raudotul Jannah, Perempuan Muda Penghafal Alquran dan Sanad

 

Ayi mengatakan kebersamaan itu lah yang membuat ia selalu semangat bekerja, bahkan lupa jika harus sibuk belanja jelang lebaran. Tak jarang, Ayi bersantap takjil saat menarik gerobak sampah, lantaran azan Maghrib telah tiba saat dirinya masih bekerja.

“Ya biasa aja lah gak usah pusing belanja, jangankan buat lebaran, buka puasa aja saya mesti pakai ada kolak, macam-macam. Makan biasa aja sudah,” tuturnya.

 

Anak Ayi membantu mengumpulkan sampah

 

Dengan menarik beban sekitar 5 Kwintal perhari, Ayi tampak membungkuk saat berjalan. Namun, diusianya yang tak lagi muda, kakek dengan 10 cucu tersebut tak lantas menyerah pada keadaan.

“Ya namanya juga kerja di jalan, kadang dapat uang kadang enggak, bagaimana mau belanja,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Baca juga:

Woow! Gadis 5 Tahun Ini Sudah Hafal 4 Juz dan 100 Hadits, Begini Cara Menghafalnya

 

Ayi merupakan petugas spesialis pengangkut sampah dari beberapa lokasi terutama restoran, hotel hingga pasar tradisional, pekerjaan tersebut bahkan telah dilakoninya sejak 14 tahun lalu setelah berhenti dari profesinya sebagai pengepul barang bekas.

“Ya kerja gini mah sejak TPA Leuwigajah longsor,” ujarnya.

Saat ini, diusirnya yang ke 51 tahun, Ayi terus menjalani hari-harinya tanpa pusing memikirkan target pendapatan. Ayi berpesan bahwa hidup sudah digariskan, ada yang miskin, ada yang kaya, tanpa harus mempersoalkan dan banyak mengeluh. Selama masih ada waktu, maka berjuang tidak boleh berhenti.

Hayu, dek narik lagi, nanti keburu maghrib,” tuturnya sambil berjalan dan mengakiri perbincangan. (Tito Rohmatulloh/BandungKita)

Komentar