by

Mau Liburan ke Citumang Pangandaran? Yuk Baca Dulu Sejarahnya

BandungKita.id, PANGANDARAN – Bagi anda pecinta wisata air, lokasi wisata Citumang di kabupaten Pangandaran, mungkin sudah tidak asing lagi. Namun, siapa sangka ternyata objek wisata yang menyuguhkan destinasi wisata body rafting atau arung jeram ini ternyata punya cerita asal-usul yang belum banyak diketahui masyarakat.

Menurut keterangan salah satu warga sekitar yang juga pemandu wisata bernama Sajum (30). Nama Citumang diambil dari nama salah satu anjing hitam yang banyak hidup di kawasan tersebut.

Anjing hitam itu dipelihara oleh warga sekitar dan dinamai Si Tumang, lama kelamaan banyak pengunjung yang menyebut kawasan ini dengan nama “Situ Mang” karena wilayah sawah di sekitar wilayah ini membentuk serupa danau atau situ.

Ada juga yang beranggapan bahwa Citumang berasal dari kata Si Tumang. Pendapat kedua ini merujuk pada seekor anjing dalam legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

“Pada 2009 kemudian jadi objek wisata air sungai, dan supaya lebih mendunia, namanya di tetapkan jadi Green Valley Citumang,” kata Sajum kepada BandungKita, Minggu (30/6/2019).

Baca juga:

Wisata Air Cipanas Garut Masih Jadi Favorit

 

Wisata Citumang menyuguhkan destinasi petualangan air yang bisa anda tempuh dengan berenang sejauh 1,5 kilometer. Dengan bantuan pemandu, pengunjung akan diarahkan untuk bisa mengarungi aliran sungai Citumang dengan selamat.

Sepanjang sungai, wisatawan bakal menemui spot-spot indah yang sangat cocok untuk berfoto.

Sajum menjelaskan salah satu spot yang cukup favorit bagi pengunjung, adalah spot Kali Numpang yang bisa dilintasi para wisatawan saat mengarungi sungai Citumang.

Disebut Kali Numpang, kata Sajum, lantaran terdapat sebuah kali yang posisinya tumpang tindih, atau dalam bahasa sunda di sebut “Numpang”.

Baca juga:

Rintara Jaya, Komunitas Jalan-jalan yang Praktikan Daur Ulang Sampah

 

Tak kalah eksotis dari Kali Numpang, yakni air terjun yang bernama Curug Dori. Dahulu, saat kawasan tersebut adalah pesawahan, nama pemiliknya adalah Dori. Seiring waktu, sawah tersebut hilang dan menjadi aliran sungai, warga menyebutnya Curug Dori, karena sungai tersebut membentuk air terjun.

“Kebetulan yang punya sawah itu namanya Dori, hingga akhirnya sawah itu jadi sungai dan terbentuk air terjun yang bernama Curug Dori, kalau Curug itu bahasa Sunda artinya ya air terjun ,” kata Sajum.

Dengan banyaknya kisah tersebut, Sajum berpesan, bagi para pengunjung yang akan berwisata ke Citumanag, agar tetap menjaga kebersihan dan menjunjung tinggi sopan santun.

“Ya namanya di alam, kita harus menghargai sejarahnya, dan juga tidak boleh sompral serta tetap menjaga kebersihan,” ujarnya.***(Tito Rohmatulloh/BandungKita)

Comment