oleh

Waduh! Hengky Kurniawan Mengaku Belum Tahu Soal Pengeboman Gunung Bohong

Bandungkita.id, NGAMPRAH – Wakil Bupati Bandung Barat, Hengki Kurniawan enggan berkomentar lebih banyak saat diminta tanggapan mengenai uji coba peledakan bom untuk pembangunan proyek terowongan Kereta Cepat Bandung-Jakarta di Gunung Bohong beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui pengeboman itu berdampak pada keretakan rumah di pemukiman Kompleks Tipar Silih Asih, RT 04/13, Desa Laksana Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Hengky berdalih, dirinya belum tahu adanya pengeboman proyek terowongan untuk kereta cepat yang berdampak keretakan pada tembok rumah warganya.

“Untuk itu no comment dulu karena saya belum tahu di lapangannya seperti apa,” ucapnya singkat saat ditemui usai rapat paripurna di Grand Hotel Lembang, Selasa (19/11/20919).

BACA JUGA:

Ratusan Buruh Demo di PT Ultrajaya, Tuntut Hentikan Kriminalisasi Serikat Pekerja

 

Sementara itu, warga sekitar proyek mengaku khawatir pengeboman tersebut bakal berdampak longsor atau hujan batu seperti peristiwa di Purwakarta beberapa waktu lalu.

Pasalnya, jarak lokasi pengeboman dengan rumah warga hanya sekitat 750 meter. Sedangkan rumah warga berada tepat dibawah lokasi pengeboman itu.

Untuk memastikan dampak pengeboman oleh PT CREC sebagai pelaksana proyek terowongan KCIC yang diduga menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami retak, tim dari Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) saat ini tengah melakukan penelitian.

Ketua RW 13 Ahmad M Sutisna berharap hasil dari penelitian ini disampaikan secara terbuka dan objektif. Agar warga mendapat kejelasan status bahaya atau tidaknya.

“Harus ada transparansi, kalau hasil penelitian itu bahaya (dilakukan uji coba pengeboman) ya katakan bahaya. Kalau memang aman, katakan aman,” ucap Ahmad saat ditemui di Komplek Tipar Silih Asih, Selasa (19/11/2019).

“Kalau aman kita juga tidak masalah, tapi kalau bahaya hanya ada dua pilihan. Proyek harus dihentikan atau warga yang mengalah harus pindah,” lanjutnya.

BACA JUGA:

Januari Hingga Oktober 2019 Ribuan Bencana Terjadi di Jawa Barat

 

Menurut Ahmad, PT CREC selalu berdalih bahwa keretakan tembok rumah warga bukan diakibatkan karena pengeboman untuk proyek terowongan. Melainkan disebabkan bencana alam, pergerakan tanah.

“Adanya keretakan rumah warga selalu disangkal oleh pihak PT CREC bukan dampak dari peledakan, mereka bilang hanya pergerakan tanah,” kata Ahmad.

Meski demikian, warga meyakini keretakan tembok warga adalah dampak dari proyek terowongan itu. Pasalnya, menurut Ahmad sebelum hadir proyek kereta cepat di wilayahnya, tidak pernah ada kejadian tembok retak.

“Dulu kan pas 8 kali uji coba peledakan itu, rumah warga retak-retak, padahal sebelumnya tidak,” paparnya.

Warga lainnya, Didik Setyobudi (53), meminta hal yang sama seperti Ahmad. Dia berharap penelitian yang tengah dilakukan berjalan objektif dan transparan. Selain itu, pemasangan alat uji atau crack meter juga harus tepat penempatannya.

“Itu agar tidak ada rekayasa. Menurut saya yang penting bukan masalah pemasangan alatnya, tetapi posisi alat peledak itu nanti ada dimana, kalau jauh dari lokasi proyek percuma saja ya,” ujar Didik. (Restu Sauqi/BandungKita)

Editor: Dian Aisyah

Komentar