Bandungkita.id, SOSOK – Orang yang bijaksana adalah orang yang bisa belajar dari sejarah dan mengulangi hal-hal baik sambil membuang hal-hal yang buruk. Karena ketika orang bijak belajar sejarah, mereka tentu akan terus mengambil hal-hal yang sifatnya mutiara di zaman tersebut dan menyingkirkan sampah-sampah yang ada di dalam masa lalu.
Ketika hal ini terjadi, maka kemajuan akan menjadi hal yang otomatis terlaksana di dalam kepemimpinan nasional ataupun sebuah mekanisme leadership yang ada. Terkait dengan itu, Ganjar Pranowo adalah sosok yang memahami kebudayaan Indonesia dengan mendalam.
Ada beberapa sumber kisah pewayangan yang terkenal di Indonesia dan semuanya sebetulnya berasal dari satu kisah yakni kisah Weda yang dibagi ke dalam tiga bagian. Tiga bagian tersebut adalah Mahabarata, Lokapala dan Ramayana.
Cerita-cerita tersebut menyajikan cerita-cerita kebudayaan yang mungkin ada sedikit bagian sejarahnya, meskipun cerita itu memang diceritakan turun-temurun sehingga untuk akurasi sejarahnya masih bisa diperdebatkan.
Baca Juga:
Rawat Budaya, Rawat Jati Diri Bangsa?, Ini Gaya Jaga Lembur Ganjar!
Dibalik Ganjar, Atikoh: “Saya Wakafkan Suami Saya untuk Masyarakat”
Akan tetapi cerita folklor semacam itu bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi masa depan dan tidak mengulangi hal-hal yang salah di masa lalu. Cerita-cerita seperti superhero dengan jagoannya yang memiliki kemampuan yang sakti, membuat kita sama-sama tertarik untuk belajar dan mendengar kisah kearifan itu.
Ada beberapa tokoh yang ingin saya angkat dan saya yakini dipelajari, mengilhami Ganjar Pranowo. Hari ini saya angkat tiga saja yakni Yudistira, Bima dan Arjuna.
Yang pertama adalah Yudistira yang merupakan putra tertua Pandu Dewanata, raja dari Kerajaan Astinapura. Yudistira digambarkan sebagai seseorang yang sabar dan berhati suci juga tidak pernah tidak menegakkan kebenaran.
Yudistira memiliki kesaktian atau kemampuan batin untuk menjinakkan hewan-hewan buas di Hutan Wanamarta hanya dengan mengelus dan menyentuh kepala mereka.
Kalau kita simak dari sisi Ganjar Pranowo, kita melihat bagaimana Ganjar bisa meneduhkan dan menenangkan kemarahan-kemarahan yang terjadi oleh rakyat yang tidak puas dengan pembangunan yang buruk. Caranya adalah melakukan perbaikan dan pembangunan.
Dia juga adalah sosok yang sabar dan berhati besar ketika menghadapi rakyatnya yang mungkin banyak temperamental.
Tokoh kedua adalah Bima atau yang dikenal kurang asing dengan nama Werkudara. Bima ini adalah putra kedua dari Prabu Pandu Dewanata, Raja Astinapura dan Dewi Kunti. Bima memiliki karakter sebagai seorang kesatria ideal yang merupakan wujud dari seorang petarung. Dia memiliki senjata bernama Gada Rujakpolo dan sebuah kapak besar bernama Bergawa.
Baca Juga:
Program Magang ke Jepang yang Digagas Ganjar Banyak Diminati, Ada Peserta dari Lampung
Dibalik Ganjar, Atikoh: “Saya Wakafkan Suami Saya untuk Masyarakat”
Bima ini digambarkan sebagai sosok yang kuat, perkasa dan merupakan panglima terdepan dalam berperang. Kalau kita lihat dari Ganjar Pranowo, dia sendiri memiliki sebuah pandangan yang begitu berani dan memiliki jiwa kesatria yang selalu ada di depan ketika rakyat membutuhkan.
Sosok inilah yang diinginkan dan menjadi sangat baik jika menjadi pemimpin rakyat Indonesia. Pemimpin yang tidak di belakang dan menyerang musuh dengan tangan-tangan prajurit bawahannya.
Sosok ketiga adalah Arjuna yang merupakan putra ketiga Prabu Pandu Dewanata dan adik dari Bima. Meskipun sebagai anak ketiga, dia adalah sosok yang tampan dan memiliki Ajian Neraca Bala. Dengan ajian ini anak panah yang dia resapkan bisa menjadi berlipat-lipat untuk mengejar musuh, dan dua panah terkenal yang ia miliki adalah Ardadedali dan Pasopati.
Kalau kita lihat dari sosok Ganjar Pranowo dan mengaitkannya dengan Arjuna, Ganjar Pranowo memiliki dua senjata untuk membangun Indonesia dan menyerang segala potensi-potensi yang akan memecah belah NKRI. Dua senjata yang Ganjar Pranowo miliki adalah hati dan pikiran.
Dengan hati yang jernih dan berani, dia bisa memiliki suatu keberanian untuk menolak paham-paham radikalisme dan mengusir mereka dari bumi Ibu Pertiwi. Sehingga dengan hati yang tulus Ikhlas menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, Ganjar Pranowo menyerang segala bentuk perpecahan dengan semua kemampuan yang ia miliki. Pikirannya juga bersih dan jernih untuk menjalankan tugas serta tanggung jawab sebagai manusia sepenuhnya.
Saya yakin, 3 sosok tokoh pewayangan ini menginspirasi Ganjar Pranowo. Inilah yang kemudian menjadikannya cocok untuk memimpin negara ini. Dengan segala kearifan lokal yang dia miliki dan kesaktiannya yang berasal dari jernihnya kandungan lahir dan batinnya, selayaknya Ganjar bisa diandalkan untuk memimpin negara ini menjadi lebih maju dan modern.





Comment