Dibalik Ganjar, Atikoh: “Saya Wakafkan Suami Saya untuk Masyarakat”

Advertorial169151 Views

BandungKita.id, SOSOK – Menjadi istri seorang gubernur seperti Ganjar Pranowo, punya tantangan tersendiri bagi Siti Atikoh untuk menempatkan dirinya sebaik mungkin. Hanya karena super sibuk dengan pekerjaan dan kegiatannya, bukan berarti Ganjar kehilangan romantismenya sebagai seorang kekasih.

Ya, Ganjar adalah kekasih Siti Atikoh. Seorang yang sangat dicintai dan dihormati. Karena tidak saja sebagai suami dan kepala keluarga di rumah tangganya, tapi Ganjar adalah juga seorang pemimpin yang sangat dicintai dan dihormati oleh masyarakat.

Meski dalam kesibukan yang sedemikian itu, tetapi tetap ada saat yang baik bagi sejoli Jateng itu untuk jalan bersama. Apalagi keduanya punya hobi yang sama. Yaitu bersepeda dan ikut lomba lari.

Tentu kesukaan itu bisa menjadi cara untuk mempertemukan. Karena bersepeda dan lomba lari adalah sekian menjadi bagian dari pekerjaan Ganjar sebagai gubernur.

Lebih dari separuh waktu Ganjar menjadi milik publik. Ya, sudahlah. Memang suaminya itu adalah seorang pemikir yang punya konsistensi. Sudah menjadi konsekuensi bagi Ganjar menghabiskan waktu untuk bekerja.

 Sepasang Kekasih Ceria: romantis menjadi karakter dari keduanya.

Sebuah pekerjaan yang menjadikannya seorang pejuang yang peduli, tidak saja kepada kelangsungan pembangunan demi masa depan bangsa dan negara. Tetapi juga meninggikan harkat kemanusiaan.

“Saya wakafkan suami saya untuk masyarakat,” begitu kata Siti Atikoh.

Tentu saja pernyataan putri asal Purbalingga ini dimaksudkan untuk berkelakar. Lebih dari itu, mencintai seorang Ganjar adalah dengan memberinya keleluasaan agar menjadi seperti apa yang diinginkannya.

Menjadi seorang abdi negara dan berjibaku dengan peliknya urusan kehidupan demi untuk merealisasi kesejahteraan bagi rakyat, bukankah ini mulia? Bukankah ia harus bangga dan mendukungnya.

Sejak bertemu pertama kali dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM di Temanggung 1994, sudah muncul kepercayaan Siti Atikoh Supriyanti kepada Ganjar Pranowo.

Video Pilihan:

https://bandungkita.id/wp-content/uploads/2023/06/bimbo-video-1.mp4

Pertemuan yang kemudian mengikatkan perasaan keduanya, menjadi sepasang kekasih dan menikah sebagai suami istri. Hingga lahir seorang anak laki-laki tampan yang mereka namai Muhammad Zinedine Alam Ganjar, cinta Atikoh kepada Ganjar makin membara.

Seiring dengan besarnya Alam, putra mereka, kian melesat karier Ganjar sebagai gubernur. Semakin besar tanggung jawab menjadi kewajiban suaminya. Semakin sibuk waktunya untuk bekerja.

Tetapi zaman kini beda dengan zamannya Romeo dan Juliet, atau Galih dan Ratna seperti dalam adegan film bersetting jadul itu.

Berkat teknologi bernama gadget, meski sesibuk apapun tetap tak berjarak jika romantisme itu sudah menjadi karakter. Sejak awal jumpa, Ganjar yang dikenal romantis dan suka guyon, hingga sekarang pun tetap Ganjar yang sama. Suka guyon dan romantis.

 Selalu Bergembira: meski jarang bertemu dalam keseharian.

Pendeknya, dalam romantisme, kesibukan apapun hanya sewujud jeda sesaat. Tidak benar berjarak.

Karena kesibukan Ganjar adalah banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengabdi kepada negara. Pengabdian kepada kehidupan dan kemanusiaan sekaligus yang menjadikannya pemahaman dan pemakluman, kenapa ia dicintai dan disayangi oleh warganya.

Kecintaan masyarakat kepada sang suami itulah yang kemudian menjadikan pula makin cinta Siti Atikoh kepada Ganjar. Menjadi semakin menghidupkan romantisme perasaannya bahwa Ganjar adalah istimewa. Ia bukan hanya kekasihnya. Tetapi menjadi kesayangan masyarakat.

Ada peran seorang istri dalam sukses yang dicapai suami. Mungkin benar, aforisma itu bersemat kepada kehidupan rumah tangga Siti Atikoh dan Ganjar.

Tetapi bagi Siti Atikoh, harmonis hubungan keduanya dan implementasi dari kecintaan itu yang dilakukan dengan kesadaran lebih membentuk satu ikatan yang senyawa. Bahwa sukses itu terbentuk karena perjuangan bersama.

Memang seperti kisah Galih dan Ratna saja.

(Dwi Klik Santosa)