Kenali Faktor Pergerakan Tanah, Jenis dan Aktivitasnya

BandungRayaKita, KBB351272 Views

BandungKita.id, BANDUNG – Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah paling rawan terjadi bencana pergerakan tanah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sebanyak 28 persen kejadian gerakan tanah di Indonesia terjadi di Jabar.

“Setiap tahun kejadian gerakan tanah tejadi 28% di Jawa Barat, 17% di Jawa Tengah, dan 13% terjadi di Jawa Timur, hal ini mungkin karena kepadatan dan pertumbuhan penduduk semakin tinggi, sehingga sering memanfaatkan lahan di daerah rentan terjadinya gerakan tanah,” kata Kepala PVMBG, Kasbani, usai menghadiri sosialisasi kesiapsiagaan dalam memghadapi gerakan tanah dan banjir, di Auditorium Geologi Bandung, kepada Bandungkita.id.

Baca Juga:

28 Persen Peristiwa Gerakan Tanah Terjadi di Jabar

Bencana Retakan Tanah di Garut, Sebanyak 3 Rumah Terancam Ambruk

Cegah Tanah Longsor Akibat Hujan, Pemkab Bandung Gencarkan Polimerisasi

Menurut Kasbani, peristiwa pergerakan tanah ini dipicu oleh berbagai faktor diantaranya, jenis litologi, struktur batuan, perlapisan batuan, kemiringan lereng dan kondisi keairan. Selain faktor-faktor penyebab tersebut, gerakan tanah biasanya dipicu oleh curah hujan yang tinggi, getaran gempabumi, dan aktivitas manusia.

Pergerakan Tanah Daerah Selatan Bandung Barat

dilansir Liputan 6, Bencana pergerakan tanah di Kampung Cigombong, RT 04/RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Peristiwa itu pertama terjadi pada 19 Februari 2024 lalu, tapi dampaknya masih dirasakan warga hingga kini.

Bahkan kerusakan dan ancamannya dilaporkan kian meluas. Satu di antaranya, sebuah bangunan sekolah dasar (SD) ambruk parah.

Berdasarkan keterangan Kepala Desa Cibedug, Engkus Kustendi, bangunan SD yang rusak adalah SD Negeri Babakan Talang 1 yang terletak di Kampung Cigombong.

Engkus bercerita, saat kejadian bencana pada tanggal 19 Februari lalu, warga mulanya mendengar bunyi keras patahan keramik dan melihat tanah amblas. Pergerakan tanah disebut terjadi sekira pukul 18.30 petang.

Video Pilihan:

“Sekitar pukul 18.30 terjadi hujan lebat, tiba-tiba terdengar bunyi patahan keramik disusul oleh tanah amblas di beberapa rumah,” kata Engkus, Kamis (29/2/2024).

“Satu sekolah tidak bisa berfungsi karena rusak berat,” imbuhnya.

Akibatnya, banyak anak-anak yang kini tak bisa sekolah. Warga juga dilingkup cemas, was-was pergerakan tanah itu kembali terjadi disertai dampaknya yang terus meluas.

“Anak-anak yang bersekolah juga tidak bisa lagi bersekolah dilingkungan mereka, karena di relokasi ke daerah yang cukup jauh,” kata Engkus.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya telah menyusun peta wilayah potensi gerakan tanah di Provinsi Jawa Barat tahun 2022.

Khusus wilayah Bandung Raya, terdapat 63 daerah yang memiliki kerawanan gerakan tanah. PMVBG mengklasifikasian kerawanan gerakan tanah tersebut dalam dua kategori yakni menengah dan tinggi.

Di Kabupaten Bandung Barat (KBB), setidaknya terdapat 16 wilayah  yang memilki potensi gerakan tanah menurut pemetaan PVMBG, di antaranya Kecamatan Rongga.

Kecamatan tersebut diklasifikasikan pada kategori menengah-tinggi potensi gerakan tanah.

Daerah yang masuk kategori menengah adalah zona yang dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Untuk zona kategori tinggi terjadi jika curah hujan di atas normal, serta gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Selain Kecamatan Rongga, wilayah rawan lainnya yakni Batujajar, Cihamplas, Cikalong Wetan, Cililin, Cipatat, Cipeundeuy, Cipongkor, Cisarua, Gununghalu, Lembang, Ngamprah, Padalarang, Parongpong, Saguling, serta Sindangkerta.

“Petanya secara fisik sudah dikirimkan ke pemerintah provinsi dan kabupaten kota, kami harap disosislisasikan ke bawahnya sampai ke tingkat kecamatan atau desa, agar masyarakat tahu wilayahnya masing-masing, jadi kehati-hatian apalagi kalau hujan,” kata Kepala PVMBG, Hendra Gunawan.(*)

Comment