BandungKita.id, Bandung Barat – Potensi wisata unggulan Gantole Singajaya di Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, tengah diperbincangkan iklim investasinya. Di balik panorama spektakuler dari ketinggian dan geliat ekonomi pariwisata, masyarakat setempat justru mengeluhkan kehadiran investasi luar yang dinilai arogan dan merugikan warga.
VIDEO PILIHAN
Sejak dibukanya kawasan Rumah Gantole, berbagai keluhan bermunculan, terutama dari pemuda Karang Taruna dan warga RW 09. Ketua RW, Idad sudrajat, bersama para pengelola lokal seperti Hendra dan Pa Apung, kerap menerima laporan keresahan. Warga mempertanyakan manfaat dari pembangunan fasilitas glamping dan camping area yang diduga dibangun di atas tanah adat tanpa izin resmi.





“Kami merasa ruang hidup semakin terhimpit, sementara manfaat ekonomi dari investasi luar belum jelas terasa,” ujar salah satu tokoh pemuda Karang Taruna saat ditemui tim BandungKita.
Beberapa pihak menuding keberadaan Rumah Gantole sebagai pelanggaran tata ruang, karena merambah kawasan wisata yang dikelola warga tanpa transparansi perizinan. Area tersebut kini menjadi lokasi staycation dan wahana rekreasi yang menyasar wisatawan luar daerah, namun dinilai mengesampingkan hak dan partisipasi warga setempat.
VIDEO PILIHAN
“Sejak pembangunannya, mereka (management Rumah Gantole) tidak melibatkan warga disini” ujar Apung, sembari menyajikan kopi untuk para wisatawan yang berkunjung.

Mantan kepala dusun itu bahkan menyebut, kehadiran investor ini tqnpa kompromi apa-apa. ” jol jleg weh (tiba tiba membangun aja), saat pembangunan memang selalu ada Pak Kades singajaya, entah ngurusin apa” jelasnya sambil menunjuk ke arah kegua RW 07 idad, “Iya kan Pak RW?”.
VIDEO PILIHAN
Hendra, salah satu warga meyebut spirit dibangunnya kawasan ini pasca dibangunnya fasilitas paralayang di tahun 2016, bermaksud memberdayakan masyarakat lokal.
VIDEO PILIHAN
“Selain dampak lingkungan, masyarakat juga mengkhawatirkan hilangnya akses terhadap ruang publik dan nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi identitas kampung”.
“Kami bukan anti wisata apalagi menolak investasi. Justru kami ingin wisata memberdayakan, bukan hanya mengeksploitasi,” tambah Hendra, salah satu pengelola Langit Gantole.
Situasi ini mendorong desakan dari masyarakat agar Pemkab Bandung Barat segera turun tangan. Warga mengusulkan pembentukan forum dialog terbuka dan penyusunan kode etik pengelolaan wisata berbasis komunitas, yang menjamin keterlibatan warga dan keberlanjutan lingkungan.
BandungKita akan terus mengikuti perkembangan isu ini dan mendalami suara-suara dari akar rumput demi kepentingan publik dan pelestarian wisata berkelanjutan di tanah Pasundan.(dhomz/BandungKita.id)





Comment