“Belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah maupun penyelenggara program MBG yang mengonfirmasi keterkaitan antara menu tersebut dan dugaan keracunan. Informasi ini masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari otoritas terkait”.
Bandung Barat — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di sejumlah sekolah menengah atas di Jawa Barat kembali menjadi sorotan publik. Unggahan viral dari akun Facebook Athalla Rayhaan Shakeill memicu gelombang komentar setelah menampilkan foto menu makan siang MBG di SMKN 1 Cihampelas, yang disebut-sebut dalam kaitannya dengan keluhan kesehatan sejumlah siswa.
Foto tersebut memperlihatkan nampan makan berisi nasi, gorengan, irisan mentimun, pisang, dan sayur campur. “Inilah menu makan MBG siang tadi… yang membuat siswa siswi ker4cun4n,” tulis Athalla, disertai tagar #stopmbg dan #prayforcipongkor.
Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah maupun penyelenggara program MBG yang mengonfirmasi keterkaitan antara menu tersebut dan dugaan keracunan. Informasi ini masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari otoritas terkait.





Postingan serupa juga dibagikan beberapa akun lain, dari penelusuran readaksi menemukan kejanggalan, senua acount tersebut menuliskan pesan yang sama terutama pada kalimat “Coba Perhatikan….
Postingan Seragam “Coba Perhatikan…” Diduga Bagian dari Kampanye Terkoordinasi Atau ikut ikutan?
Sejumlah akun media sosial di berbagai grup Facebook lokal terpantau membagikan konten dengan kalimat pembuka yang identik: “Coba Perhatikan…”. Dari penelusuran redaksi, pola ini tidak hanya muncul sekali, melainkan tersebar di berbagai akun dengan waktu unggahan yang berdekatan dan gaya bahasa yang seragam.

Kejanggalan ini memunculkan dugaan adanya koordinasi konten atau bahkan automasi posting yang bertujuan membentuk opini publik secara sistematis.
Pola Seragam, Akun Berbeda
Redaksi menemukan bahwa akun-akun seperti Yusup Gaspoll, Aswar Aswar, dan Manz Ana kerap memposting konten dengan struktur dan frasa yang nyaris identik. Beberapa di antaranya bahkan menggunakan tagar dan audio yang sama, seperti “#fypjangkauanluas” dan “#SorotanPublik”.
Meski berasal dari grup berbeda, seperti BATUJAJAR dan Kabar seputar BBS Cipatik Cihampelas Cililin Bandung Barat, akun-akun tersebut menunjukkan pola interaksi yang saling mendukung, seperti komentar seragam dan waktu posting yang berdekatan. atau kemungkinan lain diretas.

Dugaan Koordinasi atau Bot?
Pakar media digital menyebut pola ini bisa mengarah pada praktik astroturfing—kampanye yang dibuat seolah-olah berasal dari masyarakat biasa, padahal terorganisir. “Kalimat pembuka yang sama, gaya bahasa seragam, dan waktu posting yang sinkron adalah indikator kuat adanya skrip atau automasi,” ujar seorang analis media sosial yang enggan disebutkan namanya.
Redaksi juga menemukan bahwa beberapa akun memiliki aktivitas yang sangat tinggi namun minim interaksi personal, memperkuat dugaan bahwa akun tersebut bisa jadi dikendalikan secara terpusat atau merupakan akun bot.
Imbauan untuk Masyarakat
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Pola postingan seragam seperti “Coba Perhatikan…” patut disikapi dengan kritis, terutama jika mengandung klaim yang belum terverifikasi.
Pakar komunikasi publik menyarankan agar warga selalu memeriksa fakta, menelusuri sumber asli, dan tidak langsung menyebarkan konten yang berpotensi menyesatkan. Sikap skeptis dan bijak dalam bermedia sosial menjadi kunci menjaga ruang digital tetap sehat dan informatif.
Redaksi BandungKita.id akan terus menelusuri keterkaitan antar akun, termasuk kemungkinan adanya kepentingan politik atau komersial di balik kampanye ini. (dhomz/BandungKita)




Comment