“Dari Inspirasinya Terselip Pertanyaan Publik!“
BANDUNGKITA.ID, SOREANG – Dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, Bupati Bandung Dr. H.M. Dadang Supriatna mempersembahkan sebuah karya biografi yang tak sekadar memotret perjalanan hidupnya, tetapi juga menghidupkan harapan kolektif: Bedas Manunggal Sajati. Film ini tayang perdana di Gedong Budaya Soreang (GBS), Selasa (28/10/2025), dan dibuka gratis untuk publik hingga 30 Oktober.







Dari Lio Bata yang sederhana hingga Pendopo Kabupaten, kisah Kang DS mengalir penuh liku. Ia tumbuh dalam keterbatasan, namun tak kehilangan semangat belajar dan spiritualitas. Dalam gala premier, Kang DS tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan potongan hidupnya di layar. “Saya tumbuh dalam kesulitan, tapi berkat doa orang tua, kerja keras, dan izin Allah SWT, saya bisa sampai di titik ini,” ucapnya haru.
Film ini bukan sekadar autobiografi. Ia adalah ajakan terbuka bagi pemuda untuk bangkit, bermimpi, dan berkarya. “Kesuksesan bukan milik mereka yang lahir dari keluarga kaya. Siapa pun bisa meraihnya asal punya semangat belajar, kerja keras, dan cita-cita tinggi,” tegas Kang DS.
Namun di balik semangat literasi dan motivasi, publik mulai bertanya: apakah inspirasi harus dibeli?
Sebelumnya, Kang DS juga meluncurkan buku Bedas Manunggal, yang disebut sebagai karya pribadi untuk mencerdaskan anak bangsa. Buku ini memuat nilai-nilai Pancasila, literasi keuangan, pendidikan, lingkungan, dan peran bunda literasi di desa. Tapi publik dibuat terkejut ketika paket buku tersebut muncul di marketplace SIPLah dengan harga Rp1.000.000 per paket.
Deskripsi produk mencakup tema-tema edukatif seperti:
- Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
- Aku Pahlawan Lingkungan
- Panduan Pendidikan Antikorupsi untuk siswa SD/MI
- Best Practice Guru dan Teladan Siswa Prestasi Indonesia
Pertanyaannya: jika literasi adalah hak dasar, mengapa harus dibatasi oleh transaksi?
Di tengah antusiasme peluncuran film biografi, masyarakat mendorong agar logo-logo BUMN dan BUMD yang hadir di panggung gala tidak sekadar menjadi ornamen, tetapi benar-benar menjadi sponsor masyarakat. Literasi kepemimpinan seharusnya bisa menjangkau desa, sekolah, dan komunitas tanpa harus dibeli.
Kang DS, yang kini menjabat sebagai Ketua Harian Apkasi, menghadapi tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara personal branding dan pelayanan publik. Namun satu hal yang patut dicatat: ia mampu membesarkan lawan tanpa merendahkan martabatnya. Sebuah sikap yang langka di tengah dinamika politik lokal.
Bedas Manunggal Sajati bukan hanya tentang Kang DS. Ia adalah cermin bagi setiap anak muda yang sedang berjuang. Bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tanah yang sederhana. Bahwa kepemimpinan sejati lahir dari ketulusan, kerja keras, dan cinta pada tanah kelahiran.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini menyajikan harapan dan refleksi, namun tetap kritis terhadap dinamika akses publik. Literasi tidak boleh menjadi barang mewah. Jika film dan buku ini lahir dari semangat mencerdaskan bangsa, maka semestinya ia hadir sebagai hak, bukan pilihan terbatas.
Selamat atas diputarnya laga premier film biografi Kang DS. Semoga kisah berikutnya bisa lebih inklusif, lebih terbuka, dan lebih berpihak pada masyarakat yang ingin belajar tanpa harus membeli. (Dhomz/Bandungkita.id)





Comment