Sulit Ditemui, Ini Kisah Jeje Govinda, Bupati Dalam Sangkar Kekuasaan

KBB, Pemerintahan14147 Views

ASN: Awas Ada ridwan, Bukan Tim Alfa!

BANDUNGKITA.ID, Ngamprah — Di tengah meningkatnya jumlah korban keracunan dalam Program Makanan Bergizi (MBG), dua warga Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengaku kesulitan menjalin komunikasi langsung dengan Bupati Jeje rithci ismail, meski mereka membawa solusi konkret yang tak membebani anggaran daerah.

Atang Sutaryat, warga yang aktif di bidang kesehatan lingkungan, telah mengirim surat permohonan pertemuan kepada Pemda KBB sejak awal oktober 2025. Bukti tanda terima surat dari Sekretariat Daerah menunjukkan bahwa surat tersebut telah diterima pada 5 September 2023, dengan perihal dukungan tekhnologi tentang keamanan pangan. Namun hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak bupati.

Surat tak berbalas milik Atang sutaryat, no telphone yang tertera pun tidak bisa dihubungi.

Tidak Berniat Berbisnis

Atang bermaksud menawarkan teknologi pemurni udara dari Jerman, Bioclimat, yang telah digunakan di berbagai kantor pemerintahan dan dapur restoran. Ia merujuk pada hasil kajian pemerintah yang menyebut kualitas udara sebagai salah satu faktor penyebab keracunan massal dalam program MBG. Dokumen uji laboratorium dari Sensen Laboratories di Auckland, Selandia Baru, menunjukkan bahwa teknologi ionisasi udara yang digunakan Bioclimat mampu menurunkan jumlah bakteri secara signifikan pada permukaan logam di lingkungan industri makanan.

“Saya bukan sedang berbisnis. Saya hanya ingin berkontribusi sebagai warga yang prihatin. Apalagi status KLB pernah ditetapkan oleh Pemda KBB. Tidak ada alasan untuk menutup pintu solusi,” ujar Atang. Ia juga menegaskan bahwa bantuannya tidak akan membebani APBD KBB.

Senada dengan Atang, Bob Sofyan, warga Padalarang yang dikenal sebagai Agen penyalur tenaga kerja untuk industri Jepang, juga mengaku heran dengan sikap Bupati Jeje. Bob sebutan akrabnya telah menawarkan hibah dari Jepang berupa mobil pemadam kebakaran dan alat pengurai sampah, namun hingga kini belum mendapat tanggapan.

“Wah, saya sampai sekarang tidak pernah mendapat jawaban, baik lisan maupun tertulis. Saya nggak paham dengan gaya beliau ini,” ujar Bob.

Delapan belas tahun Pemkab Bandung Barat dikeluhkan kelompok ASN yang sering disebut kelompok kuliah “Pagi pulang malam” (setara eselon 4 dan P3k) sebut saja Gugun (bukan nama sebenarnya) pria lulusan tekhnik civil dari kota gudeg itu sempat mengeluhkan aksi orang yang membersamai Bupatinya tersebut,

Pria asal Ngamprah ini sempat memiliki pertanyaan sebagai apakah orang bernama Ridwan tersebut, disebut kontoversial dengan sistem protokoler bahkan menurutnya kerap memarahi para pejabat eselon 2.

“Wah repot kalo ada ajudan kita jadi mikir, mau laporan takut kena semprot, atasan saya aja di marahin, wajar juga mungkin beliau belum punya kepercayaan terhadap Para pembantunya seperti kami, tapi kami bukan Alfa” Ucapnya sambil sesekali tertawa lepas di tepas warung belakang Arsip.

Terlebih dulu menurutnya ada group ASN yang bernama Tim Alfa yang dibangun Hengky Kurniawan, dimana saat itu menurutnya lahir akibat dari konflik politik anggaran dan ketidak percayaan terhadap ASN eselon 2.

“Gimana ya, kalo sudah gerbong-gerbongan seperti dulu, ada tim alfa buatan Bupati Hengky sekarang Bupati baru mau cari tim apa lagi, kami yang kalo kerja datang pagi pulang malam berharap objectivitas pak Bupati, kami siap bekerja untuk masyarakat terlebih Pak Jeje Atasan kami sekarang” pungkasnya penuh harap.

Kisah Atang dan Bob memperlihatkan potret birokrasi yang tertutup, di mana inisiatif warga justru terhambat oleh dinding administratif. Di tengah krisis kesehatan dan persoalan lingkungan, partisipasi publik seharusnya dirangkul, bukan diabaikan.

Tidak Kurang dari 80 miliar Warga Bandung barat mengeluarkan Biaya untuk memilih Pemimpinnya, sampai saat ini, warga Bandung Barat menunggu aksi Bupati dari kalangan Artis yang ke 2 ini seperti apa. (Joe/BandungKita.id)

Comment