BandungKita.id, Jakarta — Penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati memicu gelombang perubahan dalam pendekatan fiskal dan dinamika politik nasional. Dalam waktu singkat, Purbaya muncul sebagai figur yang paling dipercaya publik, berkat gaya komunikasinya yang lugas dan kebijakan fiskal agresif yang menyentuh langsung sektor riil.
Dalam diskusi yang ditayangkan di kanal YouTube Madilo, Kun Nurachadijat – Ekonom Universitas Indonesia mengulas arah kebijakan keuangan indonesia bisa dilihat dari cara dan gayanya. “Ketika Pak Purbaya ditunjuk, persoalan ekonomi yang semula jauh dari kita menjadi sangat dekat,” ujar Dr. Kun Nur Hadi . “Hanya dalam sebulan, ia menjadi menteri paling dipercaya publik.” tambahnya.
Gaya Koboi dan Filosofi Fiskal
Berbeda dengan pendahulunya yang menganut mazhab monetaris, Purbaya dikenal sebagai penganut mazhab fiskal yang langsung menyasar sektor-sektor produktif. Ia menggelontorkan Rp165 triliun ke lima bank milik negara untuk mendorong kredit dan konsumsi masyarakat.
“Gayanya koboi, padahal dia seorang engineer. Langsung tembak, langsung eksekusi,” kata Kun. “Dia tahu bahwa uang yang mengendap di bank itu tidak memberi dampak nyata. Maka digelontorkan ke sektor riil.”
Perang terhadap Pengemplang Pajak
Purbaya juga melanjutkan program penegakan pajak yang telah dirintis Sri Mulyani, namun dengan pendekatan yang lebih tegas. Ia menargetkan 84 wajib pajak besar dengan potensi penerimaan Rp60 triliun.
“Kalau zaman Bu Sri Mulyani, yang dipajaki rakyat biasa. Sekarang perusahaan besar diburu,” jelas Kun. “Beliau bilang, compliance saja, patuh saja, toh tidak diapa-apain. Tapi kalau tidak patuh, akan terus dikejar.”
Ketegangan Politik dan Mandat Presiden
Kehadiran Purbaya disebut mengusik kenyamanan para senior di kabinet, termasuk Luhut Binsar Pandjaitan. Namun, menurut Kun, Purbaya mendapat mandat penuh dari Presiden Prabowo Subianto.
“Pak Prabowo sudah memberikan mandat 100%. Apapun yang dikatakan Purbaya adalah representasi dari Presiden,” tegas Kun. “Selama menuju Asta Cita, kenapa tidak?”
Tantangan dan Harapan
Meski dinilai efektif, gaya Purbaya yang frontal juga mengundang risiko. Ia diingatkan untuk tidak sembrono dalam pernyataan publik dan menjaga akuntabilitas.
“Pejabat publik tidak boleh sompral. Ekspresi wajah, ucapan, semua harus dijaga,” kata Kun. “Kalau bilang kilang Rokan dibakar, harus ada tindak lanjut hukum. Jangan hanya retorika.”
Kun juga menekankan pentingnya variabel non-ekonomi seperti mindset dan budaya dalam pembangunan. Ia berharap Purbaya mampu menjadi figur penyegar, bukan perombak total.
“Ini bukan factory reset, tapi refresh. Kebijakan lama tidak dihapus, tapi dioptimalkan,” tutup Kun.





Comment