NGAMPRAH, BANDUNGKITA.ID – Di tengah semangat kemanusiaan yang terus menyala, para relawan di lokasi bencana Kabupaten Bandung Barat (KBB) justru menghadapi kenyataan pahit minimnya dukungan logistik dan tempat istirahat yang layak dari pemerintah daerah. Keluhan ini mencuat di hari keempat pascabencana, terutama dari relawan yang telah berjibaku sejak hari pertama.
Salah satunya datang dari Dadang Hermawan alias Mang Utun, relawan dari komunitas Tentara Langit yang baru saja kembali dari misi kemanusiaan di Aceh. “Kami datang bukan untuk bicara soal ini, tapi minimal dihargai. Banyak relawan yang kelelahan, tidak mendapatkan makan, tidur di mana saja. Tapi Pemda seperti tak peduli,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
ARTIKEL TERKAIT
Menurutnya, dua hal paling krusial yang dikeluhkan relawan adalah ketiadaan makanan dan posko istirahat yang layak. “Untung masih banyak warga baik hati yang kasih makan dan tempat istirahat. Kalau hanya mengandalkan BPBD, kami bisa tumbang duluan,” tambahnya.




Menanggapi kritik tersebut, Kepala BPBD KBB Asep Sihabudin menyampaikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa dalam sistem penanggulangan bencana, pencarian korban merupakan kewenangan utama BASARNAS. Namun, kontribusi relawan tetap dibuka selama sesuai prosedur keselamatan.
“Yah, sistem pencarian korban memang ditangani oleh BASARNAS dan tidak menutup pihak relawan untuk berkontribusi dalam pencarian orang hilang tertimbun dalam bencana ini,” ujar Asep melalui pesan singkat kepada redaksi Bandungkita.id.
BPBD Janji Evaluasi Distribusi Logistik
Terkait keluhan soal logistik, Asep mengakui masih ada kekurangan di lapangan. Ia berjanji akan segera melakukan evaluasi, termasuk dalam rapat bersama BNPB.
“Yah, kita perbaiki lagi kalau belum ada yang kebagian makan untuk relawan. Kita juga sedang rapat evaluasi oleh BNPB,” katanya.
“Oke, kita evaluasi untuk makan para relawan,” tambahnya.
Tugas BPBD dan BASARNAS: Siapa Bertanggung Jawab Apa?
Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, BPBD daerah memiliki tiga fungsi utama: pelaksana kebijakan, koordinator lintas sektor, dan komando dalam situasi darurat. Termasuk di dalamnya penyediaan logistik, posko, dan kebutuhan dasar bagi korban maupun relawan.
Sementara itu, BASARNAS bertugas khusus dalam pencarian dan pertolongan (SAR), terutama dalam penyelamatan jiwa. Artinya, tanggung jawab atas logistik dan kenyamanan relawan tetap berada di tangan BPBD dan Pemda setempat.
Solidaritas Warga Jadi Penopang

Dalam pantauan wartawan, di tengah kelambanan birokrasi, warga sekitar dan diluar justru menunjukkan solidaritas luar biasa. Mereka membuka rumah, memasak makanan, bahkan menyediakan kendaraan untuk mobilisasi relawan.
“Ini mah bukan soal siapa yang berwenang, tapi siapa yang peduli,” ujar seorang warga di Ngamprah dari komunitas Croser yang enggan disebutkan setiap hari membuat nasi 50-100 bungkus karena menerima informasi yang sama sebelumnya dan kini setiap hari mengirimkan nasi bungkus ke lokasi bencana untuk sebagian kecil relawan.
Bandungkita.id akan terus memantau perkembangan di lapangan dan membuka ruang bagi suara relawan, warga, dan pihak berwenang untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih manusiawi dan partisipatif.(dhomz/BandungKita.id)





Comment