BANDUNGKITA.ID, BANDUNG – Penataan dan perapihan kawasan trotoar di sepanjang Jalan Raya Cicadas, Kota Bandung, tidak hanya berhasil mengembalikan hak para pejalan kaki. Momentum rapihnya salah satu kawasan paling legendaris di Kota Kembang ini justru memantik gelombang emosi, nostalgia mendalam, hingga perbincangan hangat di jagat maya.
Hal ini mencuat pasca viralnya sebuah unggahan video di media sosial Facebook. Dalam video tersebut, sosok lansia yang akrab disapa “Nene Bule” tampak berjalan santai menyusuri trotoar Cicadas yang kini bersih didampingi anaknya Bridgia Adhella dikenal netizen dengan sebutan Mang Ian (Bang Ian).
Tanpa sekat lapak kaki lima yang puluhan tahun menutupi kawasan tersebut, Nene Bule akhirnya bisa kembali berswafoto (selfie) di depan gerai legendaris, Toko Potret Wijaya.

Pantauan Bandungkita.id, unggahan bernuansa haru sekaligus jenaka ini langsung diserbu oleh warganet. Hingga berita ini diturunkan, unggahan tersebut sukses menembus ratusan ribu kali ditonton mengantongi akumulasi lebih dari dan ratusan likes dan memicu beragam komentar interaktif dari netizen yang ikut terhanyut dalam memori masa lalu.
Kotak Pandora Kenangan Cicadas Era 80-an Terbuka Lagi
Bersihnya trotoar seolah membuka kembali ingatan kolektif warga Bandung mengenai masa kejayaan Cicadas di era 1980-an hingga 1990-an. Toko Potret Wijaya yang terletak di kawasan Sompung/Jl. H. Syahroni, kini berdiri mencolok dan memancing komentar kenangan dari para alumni pelanggan setianya.
Akun Onie Ucox Highlander menuliskan, “Studio photo legend …Orang cicadas asli pasti apal…di sompung /jl.H.syahroni,” yang diamini oleh Irma Rachmawati, “Tempat di foto Wijaya kalo pas photo jaman sekolah dulu ,akhirnya keliahatan lagi Alhamdulillah dulu aku juga org cicadas,senang lihat keadaan sekarang.”

Lebih menarik lagi, akun Dimy mengungkap fakta sejarah unik dari studio foto tersebut. “Pernah difoto di toko potret Wijaya, sktr thn 88-90 an, ternyata dulu yg pernah difoto disitu ada anggota DPR Nurul Arifin juga waktu msh tinggal di Jl. Sekepanjang Cikutra,” tulisnya.
Gelombang nostalgia pun menggelinding ke ikon-ikon Cicadas jadul lainnya. Netizen berlomba-lomba mengabsen memori masa kecil mereka saat berbelanja ataupun sekadar bermain di sana.






Wahyu Kencana Wiguna: “Teringat masa kecil tahun 80an berburu sepatu sekolah sama emak ke Cicadas terus beli simpoa di Toko Belitung pas tikungan,pernah nonton di Bioskop Cahaya Film Darna Ajaib😁”
Jingga Saputri: “Di Cicadas dulu ada toko venus langgananku beli benang woll,apakah sekarang toko itu masih ada?”
Ambu Bram: “Abdi tahun 80an di Cicadas gg Mesjid 3. Nonton film India ka Taman hiburan, ka Cahaya. Meser buku2 bacaan tilas ka caket rumah sakit Santo Yusuf. Waraas…”
Sebut KDM ‘Satria Piningit’ dan Sentil Pemimpin Masa Lalu
Namun, tidak sekadar bernostalgia, aksi jalan-jalan Nene Bule ini memicu reaksi politik tipis-tipis dari netizen. Di dalam video, dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, Nene Bule tak ragu menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada tokoh publik Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Baginya, aksi nyata pembersihan ini membuat KDM layak dijuluki bak ‘Satria Piningit’ yang mampu menyelesaikan benang kusut Cicadas.
Nene Bule bahkan sempat membandingkan kondisi sekarang dengan era-era kepemimpinan sebelumnya yang dinilai belum mampu merapihkan kawasan tersebut. Sontak, komentar ini membelah pandangan netizen.
Akun Ratna Ningrum menulis komentar menohok, “Tuh lihat Nene sangat bahagia bisa jng santai di trotoar yg merasa punya trotoar yg merasa punya jln warisan dri kepemimpinan sebelum nya ,sadar ada hak pejalan kaki di situ selama puluhan th.”
Ungkapan syukur juga datang dari Midun Harun Suryaman** yang menyebut, “Cicadas lepas dari kegelapan,” sementara akun Indriani Roy menimpali, “KDM keren poko na nya nek… Salam kenal nenek..dari org Purwakarta kita masih satu gubernur Sehat selalu buat Nene,,”
Di tengah obrolan nostalgia yang emosional dan tensi ulasan pemimpin lokal, suasana di dalam video tetap terasa hangat dan menghibur. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan anak Nene Bule, yakni Mang Ian, yang sepanjang jalan tiada henti menggoda sang ibu dengan candaan-candaan ringannya.
Interaksi humoris antara ibu dan anak ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri yang dinantikan oleh para pengikut setianya di media sosial.
“Nene bernostalgia dengan bang Ian sehat selalu ya nek salam baktos TI Ujungberung abdi sok ningal vlog Nene sarey bang lan sok seuri nyalira upami Nene nuju ngobrol teh nenek mugia sehat selalu di panjang keun yuswa na,” tulis akun Cheucheu Rosse hangat.
Doa agar penataan ini membawa berkah bagi para pemilik toko fisik yang kini fasadnya kembali terlihat juga mengalir dari warganet. “Alhamdulillah toko kelihatan. Semoga toko toko nya rame banyak pembeli Aamiin 🤲🤲🤲,”* harap Asep Ahmad Aripin.
Kini, lewat langkah kaki Nene Bule dan dorongan penataan dari pemerintah, Cicadas seolah terlahir kembali. Bukan saja sebagai pusat ekonomi, namun sebagai ruang publik yang ramah, humanis, dan penuh memori bagi warga Kota Bandung. (Red/BK)
Ket Photo; Capture Video @Bridgia Adhela





Comment