Ahmad Heryawan: “Bagus.. itu kan tanda kepeloporan Cililin dalam pengembangan UKM,”
CILILIN, BandungKita.id — Momentum peringatan hari jadi bukanlah sekadar seremonial tahunan atau rutinitas pesta rakyat semata. Di balik riuk pikuk perlombaan dan panggung hiburan, ada ruang refleksi mendalam mengenai sejarah, akar budaya, serta jalinan ikatan batin antargenerasi.
Hal inilah yang ditegaskan kembali dalam perayaan Milangkala ke-166 Desa Cililin yang mengusung tema besar “Cililin Ngahiji”.
Kepala Desa Cililin, Tedi Kusniadi, S.H., menegaskan bahwa momentum usianya yang ke-166 tahun ini harus menjadi titik balik bersama untuk mengenang sejarah, memperkuat silaturahmi, dan menumbuhkan motivasi gotong royong dalam membangun Desa Cililin agar semakin maju, sejahtera, dan bermartabat.
Meredam Amnesia Sejarah: “Perlawanan Rasa” dan Warisan Upakarti
Sebagaimana kutipan sejarah yang pernah diulas oleh Redaksi BandungKita.id, Wajit Cililin bukanlah sekadar penganan manis khas perdesaan. Di balik harumnya beras ketan dan legitnya gula aren yang dibungkus daun kelapa kering, tersimpan jejak perjuangan emansipasi dan sejarah perlawanan lokal yang tajam.
Pada era 1910-an hingga berlanjut ke masa-masa kelam agresi militer Westerling era 1940-an, seorang srikandi pituin Cililin bernama Irah memelopori gerakan emansipasi yang dikenal sebagai Perlawanan Rasa.
Di kala olahan wajit diproduksi secara terbatas dan eksklusif hanya untuk memanjakan lidah para pejabat kolonial Belanda, Irah dengan berani membagikan penganan tersebut kepada rakyat pribumi.
Tindakan sederhana namun berani ini menyampaikan pesan moral yang sangat mendalam: rakyat pribumi memiliki hak, derajat, dan martabat yang sama untuk menikmati cita rasa manis di tanah kelahirannya sendiri.

Nilai ekonomi kerakyatan dan tradisi keunggulan tersebut berlanjut hingga ke era modern. Pada dasawarsa 1990-an, dedikasi pengrajin wajit Cililin (Hj. Siti Romlah) berbuah pengakuan tertinggi dari negara berupa Penghargaan Upakarti dari Presiden Republik Indonesia.

Pengakuan ini, yang kemudian disempurnakan dengan penetapan proses pembuatan wajit sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), menegaskan bahwa Cililin telah menjadi pelopor industri kecil perdesaan yang diakui secara nasional.
Desakan Bangun Monumen Tugu Upakarti: Simbol Religi dan Ekonomi Rakyat
Merespons narasi dan aspirasi terbuka masyarakat untuk Pemerintah Desa Cililin bersama panitia Milangkala ke-166 diharqpkqn dapat menangkap dorongan penting untuk mengabadikan jejak emas tersebut melalui gagasan pembangunan Tugu Monumen Upakarti di kawasan Alun-Alun Cililin.

Diproyeksikan bisa berdiri berdampingan secara harmonis dengan Tugu Al-Qur’an (yang melambangkan nilai religiusitas “Little Madinah”), menurut warga cililin, Tugu Upakarti hadir sebagai landmark edukasi visual. Tugu ini harus dirancang untuk mengingatkan generasi muda agar tak hilang arah dan amnesia terhadap warisan kehebatan karuhunnya.

Langkah strategis ini diharapkan dalam pembangunannya menjajaki kemitraan Corporate Social Responsibility (CSR), dari hal ikhtiar tersebut, bisa menunjukkan komitmen nyata bahwa membangun identitas dan marwah daerah adalah bagian dari investasi karakter bangsa yang wajib diikhtiarkan bersama.


Mantan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan Beri Apresiasi Khusus
Gagasan dan dorongan mendirikan Tugu Upakarti di Alun-Alun Cililin juga mendapat perhatian serta apresiasi hangat dari Mantan Gubernur Jawa Barat dua periode, Ahmad Heryawan (Aher).
Aher menilai, usulan pembangunan tugu monumen tersebut sangat berdasar dan memiliki nilai histori yang kuat.
“Bagus.. itu kan tanda kepeloporan Cililin dalam pengembangan UKM,” ujar Ahmad Heryawan memberikan apresiasi.
Secara esensial, pernyataan Ahmad Heryawan menegaskan bahwa Cililin sejak puluhan tahun lalu telah membuktikan diri sebagai kawasan pelopor keberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berbasis potensi lokal.
Pembangunan Tugu Upakarti bukan sekadar estetika pembangunan fisik, melainkan monumen pengingat atas kepeloporan, jiwa kewirausahaan, serta ketangguhan ekonomi rakyat Cililin yang sepatutnya terus dirawat dan dicontoh oleh daerah-daerah lain di Jawa Barat.
Menghidupkan Kembali Kejayaan “Pituin Cililin” dan Menu Identitas KBB
Cililin tidak boleh dibiarkan hanya dianggap sebagai daerah lintasan atau kawasan pinggiran. Cililin adalah rahim bagi lahirnya sederet tokoh-tokoh besar (Pituin Cililin) yang telah memberi warna dan kontribusi nyata di tingkat Jawa Barat hingga Nasional:
- Tokoh Agama, Politik, Pejabat TNI, POLRI dan Pemerintahan: Cililin melahirkan tokoh-tokoh ulama kharismatik, politisi berkiprah nasional, hingga para pimpinan Institusi TNI, POLRI dan daerah yang menanamkan fondasi kepemimpinan berintegritas.
- Budayawan dan Seniman: Wilayah ini kaya akan maestro seni tradisi dan kebudayaan Sunda yang menjaga marwah kelestarian budaya lokal.
- Sastrawan, Artis, dan Pegiat Sosial: Banyak talenta kreatif, tokoh hiburan, hingga tokoh pergerakan pemuda yang berakar kuat dari tanah Cililin.
- Atlet dan Olahragawan: Cililin juga melahirkan atlet-atlet tangguh yang telah mengharumkan nama daerah di kancah kejuaraan olahraga nasional.(dalam edisi khusus tokoh-tokoh yang dimaksud akan Bandungkita ulas)
Di tengah kondisi krisis identitas serta tantangan pembangunan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat ini, potensi keunggulan sejarah, komoditas wajit, hingga jejak ketokohan Pituin Cililin dapat dijadikan “pilihan menu utama” bagi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dalam menentukan arah identitas dan karakter daerah.





“Cililin Ngahiji” untuk Masa Depan
Melalui rangkaian perayaan Milangkala ke-166—yang diisi dengan pawai kirab budaya, pentas seni, pemberdayaan UMKM, hingga pelayanan sosial masyarakat—Kepala Desa Cililin Tedi Kusniadi, S.H. beserta seluruh panitia mengajak seluruh elemen warga, baik yang menetap maupun yang sedang di perantauan (Pituin Cililin di mana wae ayana), untuk bersatu padu.

“Milangkala ini adalah milik bersama. Mari kita jadikan momentum ‘Cililin Ngahiji’ untuk menyalakan kembali api kebanggaan. Cililin adalah tanah para pejuang rasa, pusat kearifan budaya, dan penggerak ekonomi rakyat yang bermartabat,” pungkasnya.(Dhomz/BandungKita.id)





Comment