Obrolan Jumat di Teras HatiKita bersama Idat Mustari
Ngamprah, Jumat pagi yang teduh. Melalui gawai masing-masing, saya dan Kang Idat Mustari berbincang dalam rubrik Teras HatiKita ruang refleksi yang tayang setiap Jumat untuk menyemai hikmah dan menyapa hati. Tema kali ini: takdir.
Saya: Kang Idat, tulisan tadi tentang takdir itu menyentuh sekali. Tapi jujur, saya masih sering bingung. Kalau semua sudah ditentukan, apa gunanya ikhtiar?
Idat: Nah, itu pertanyaan klasik tapi penting. Dalam Islam, percaya pada takdir itu wajib. Rukun iman yang keenam. Tapi memahami takdir bukan berarti kita pasrah total. Takdir itu bukan pembatalan usaha, tapi bingkai spiritualnya.
Saya: Jadi takdir itu… ketetapan Tuhan?
Idat: Betul. Menurut KBBI, takdir adalah ketentuan Tuhan. Tapi dalam konteks iman, kita percaya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan kodrat dan iradat-Nya. Termasuk hikmah di balik setiap kejadian.
Saya: Tapi kenapa ulama bisa berbeda pandangan soal ini?
Idat: Karena menyikapi takdir memang rumit. Ada aliran Jabariah yang bilang manusia tak punya kehendak bebas—semua sudah ditentukan Allah. Tapi Qadariah justru sebaliknya: manusia bebas menentukan jalan hidupnya, tanpa campur tangan Tuhan.
Saya: Dua kutub ekstrem, ya?
Idat: Iya. Tapi tokoh seperti Cak Nur, Nurcholish Madjid, memberi jalan tengah yang bijak. Beliau mengutip QS. Al-Hadid ayat 22–23: bahwa semua kejadian sudah tertulis, agar kita tidak terlalu sedih saat gagal, dan tidak terlalu sombong saat berhasil.
Saya: Jadi takdir itu bukan untuk membuat kita pasrah, tapi untuk menjaga hati?
Idat: Tepat. Kata Cak Nur, ajaran takdir itu agar kita tidak berputus asa dan tidak pongah. Yang sudah terjadi, itulah takdir. Tapi yang belum terjadi, kita wajib berikhtiar.
Saya: Saya jadi ingat kutipan Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi yang Kang Idat tulis: “Takdirmu sedang berlangsung dan tak ada yang bisa menghentikannya.”
Idat: Itu kalimat yang dalam. Ia mengajak kita menerima dengan ridha, bukan menyerah. Penyesalan tak mengubah apa-apa. Tapi penerimaan bisa membawa kedamaian.
Saya: Jadi, takdir bukan akhir dari cerita, tapi cara kita membaca bab-bab kehidupan dengan iman?
Idat: Persis. Dan setiap bab itu, kalau kita baca dengan hati yang lapang, akan terasa indah. Bahkan kegagalan pun bisa jadi pelajaran spiritual.
Saya: Terima kasih, Kang Idat. Obrolan ini rasanya seperti khutbah kecil sebelum Jumatan.
Idat: Hehe, semoga bermanfaat. Jangan lupa isi kencleng, ya. Semoga Allah beri kita umur yang berkah, hati yang damai, dan langkah yang ringan menuju kebaikan.
Teras HatiKita hadir setiap Jumat untuk menemani langkahmu menuju Jumatan. Semoga setiap takdir yang kita jalani menjadi jalan menuju ridha-Nya. 🙏





Comment